Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Dr Andri,spkj,fapm (psikiater)

Saya adalah seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter dan Psikiater dari selengkapnya

Tidak Semua Obat Penenang Sama

OPINI | 11 March 2011 | 15:52 Dibaca: 31351   Komentar: 15   1

Kerancuan tentang apa yang disebut OBAT PENENANG membuat saya sedikit banyak mengulas tentang hal ini kali ini. Dalam praktek sebagai seorang psikiater Psikosomatik, saya lebih banyak menemui kasus-kasus keluhan psikosomatik yang dasarnya adalah gangguan cemas dan gangguan depresi. Kedua jenis diagnosis ini yang paling banyak menimbulkan keluhan psikosomatik dengan kondisi gangguan panik sebagai teratas penyebabnya (Data di Klinik Psikosomatik RS OMNI tahun 2009,  lebih dari 80% pasien dengan keluhan psikosomatik diagnosis dasarnya adalah Gangguan Panik).

Pengobatan saat ini untuk gangguan cemas termasuk di dalamnya gangguan panik adalah dengan menggunakan Antidepresan golongan SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitor). Penggunaan obat cemas golongan benzodiazepin (yang sering disalahartikan sebagai obat penenang) hanyalah digunakan saat awal terapi (jika perlu) dan digunakan dalam jangka waktu yang singkat.

Di bawah ini akan saya bahas tentang hal itu dengan bahasa yang sederhana (non-textbook words) sehingga mudah dipahami oleh pembaca sekalian.

Mengenal Antidepresan dan Antianxietas (anticemas)

Antidepresan

Cara kerja dengan memberikan efek pada sistem monoamin, serotonin dan norepinefrin. Namun tidak semua antidepresan mempunyai efek kepada ketiga sistem otak tersebut.
Beberapa contoh obat antidepresan :

Golongan Trisiklik

Paling terkenal adalah AMITRYPTILINE 25 mg, obat antidepresan yang murah meriah ini (harganya setablet cuma 200-600 perak) tersedia dalam bentuk generik. Masih dipakai terutama untuk pasien di puskesmas, punya efek antinyeri yang baik sehingga sering menjadi obat racikan untuk para dokter saraf. Sayangnya menimbulkan efek ngantuk yang luar biasa walaupun anjuran 3 kali sehari namun biasanya hanya bisa dimakan saat malam hari saja. Efek ke Jantung yang kurang baik menyebabkan pemakaian obat ini terbatas untuk dewasa muda dan hampir tidak pernah diberikan pada lanjut usia yang menderita kelainan jantung.

Golongan Tertrasiklik

Sejenis dengan golongan diatas, merk tekenal adalah LUDIOMIL dengan merk generik Maproptiline (tidak tersedia)

Golongan Monoamine

Dikenal dengan merk dagang AURORIX isinya generik MOCLOBLEMIDE. Obat yang termasuk sudah tua dan jarang dipakai lagi karena efek samping keracunan serotonin yang membahayakan. Obat inilah yang di beberapa obat flu tidak boleh diberikan. Jadi kalau ada pasien bertanya apakah kalau makan obat antidepresan boleh makan obat flu, jawabnya boleh saja asal jangan makan obat ini.

Golongan Serotonin
Merupakan golongan terbaru yang paling direkomendasikan saat ini karena toleransi yang baik dan efek samping yang minimal. Beberapa jenis dan merk dagang yang terkenal adalah :
Fluoxetine (Kalxetin, Prozac, Antiprestin, Lodep)
Sertraline (Serlof, Zoloft, Antipres)
Escitalopram (Cipralex)
Paroxetine (Seroxat) —> sudah jarang digunakan di Indonesia

Efek samping paling sering adalah Mual dan gangguan perut namun biasanya dengan dosis awal yang kecil dan naik perlahan hal ini bisa dinetralisir

Golongan Serotonin-Norepinefrin

Merupakan golongan paling baru, merknya yang terkenal adalah Cymbalta dan Effexor. Sudah sedang tidak tersedia di Indonesia untuk beberapa saat.
Efek samping mirip dengan serotonin namun terkadang tekanan darah tinggi suka ditemukan pasca pemakaian.

BENZODIAZEPINE

Dikenal masyarakat sebagai obat penenang, rupanya macam2 dan paling terkenal adalah XANAX yang isinya Alprazolam.

Golongan lain adalah

a. Alprazolam (xanax, calmlet, zypraz dkk)
ditujukan untuk pasien ggn panik dan tidak yang lain. namun krn efek ketergantungan fisiologis dan psikologisnya yg tinggi, sejak beberapa tahun ini sdah tidak disarankan diberikan jika kondisi pasien tidak perlu sekali dan masih bisa ditangani oleh obat golongan lain seperti clobazam (frisium). Lagipula terapi lini pertama untuk pasien panik adalah Antidepresan

b. Clobazam (Frisium)
Obat ini tidak dikenal di USA. Lebih banyak diresepkan di JEpang dan Eropa. Cukup aman namun efeknya tidak secanggih alprazolam. Efek ngantuknya minimal dan waktu kerjanya cukup panjang. Biasa diberikan hanya pada awal terapi.

c. Estazolam (Esilgan)
Dikenal sebagai obat tidur, biasa diresepkan dalam bentuk sediaan 1 mg dan 2 mg
Tidak boleh digunakan berbarengan dengan obat anticemas lain. Efek sedasi tinggi sehingga digolongkan ke dalam hipnotik sedatif. Untuk gangguan tidur memang yahud tapi lebih baik pake golongan yang lebih ringan dulu.
Hang over sering dialami oleh pemakai obat ini, keracunan akibat pemakaian yang banyak menyebabkan efek sedasi yang berkepanjangan bahkan jika sudah dibilas lambung dan sudah digunakan obat keluar kencing.

d. Lorazepam (ATIVAN)
Aman untuk orang tua, dikarenakan karena metabolit atau sisa metabolismenya di dalam darah tidak aktif lagi, wktu kerja pendek sehingga aman untuk orang tua dan pasien2 yang mengalami gangguan ginjal.
Dosisnya beragam dari 0,5 mg 1mg sampai 2 mg

e.Diazepam (Valium, valisanbe)
Obat anticemas klasik, paling murah dan banyak gunanya dari anak kecil (bayi) digunakan sebagai obat yang dimasukkan ke dubur dalam bentuk supositoria (stesolid) untuk kejang demam sampai racikan untuk pasien dengan nyeri. Efeknya selain sedatif juga pelemas otot. Waktu kerjanya panjang sehingga sering hang over…Tidak disarankan digunakan pada lansia

Semoga membantu

dr.Andri,SpKJ
Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
email : mbahndi@yahoo.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 8 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: