Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Oleander: Tanaman Hias Paling Beracun di Dunia

OPINI | 22 February 2011 | 09:20 Dibaca: 4494   Komentar: 21   5

1298359410208763573

Oleander (ilust Wikipedia.com)

Pernahkah Anda melihat tanaman hias Oleander yang bunganya berwarna merah jambu, putih atau kuning? Pastilah pernah, karena tanaman hias ini bisa dijumpai dimana-mana, baik di halaman sekolah, halaman rumah sakit, halaman rumah kita, taman-taman kota dan di tepi-tepi jalan. Namun siapa yang menyangka, bahwa tanaman yang nampaknya indah dipandang mata ini, merupakan tumbuh-tumbuhan yang amat beracun dan mematikan, mulai dari daun, bunga, biji buah, dahan dan tangkai sampai ke getah batang pohonnya. Pokoknya, seluruh bagian dari tanaman Oleander ini beracun, bukan saja untuk manusia, tetapi juga untuk binatang peliharaan (kucing dan anjing) dan hewan ternak (kambing, sapi, kuda).

Ada beberapa komponen racun yang terkandung pada tanaman oleander ini diantaranya oleandrin dan neriine yang masuk golongan cardiac glycoside, suatu zat yang menyebabkan perlambatan denyut jantung dan gagal jantung. Kulit batang pohon (bark) Oleander ini mengandung zat racun rosagenin yang memiliki daya kerja seperti strychnine. Anak-anak yang gemar memetik daun atau bunga dan mengisap-isap atau mengunyahnya, adalah mahluk yang paling beresiko mengalami keracunan. Satu lembar saja dari daun Oleander yang dimakan oleh balita dapat berakibat fatal (mematikan). Gejala keracunan segera akan timbul segera setelah memakan bagian dari tanaman Oleander, diantaranya mual dan muntah, sakit perut dan diare, mata menjadi kabur, denyut jantung melambat, koma dan akhirnya kematian.

Yang memprihatinkan, tanaman Oleander ini sekarang dipakai sebagai alat untuk bunuh diri, khususnya di kawasan India Selatan dan Srilangka. Di Srilangka misalnya, sebelum tahun 1980, tidak pernah ada catatan medis di rumah sakit kematian karena racun Oleander. Pada tahun itu, diberitakan secara besar-besaran di media tentang kematian dua orang gadis yang dengan sengaja memakan biji Oleander kuning untuk bunuh diri. Semenjak kejadian itu, angka bunuh diri dengan Oleander terus meningkat dan dewasa ini di Srilangka rata-rata 2.000 orang tewas setiap tahun karena keracunan Oleander. Racun Oleander ini dipakai bukan saja untuk bunuh diri (suicide), tetapi juga untuk membunuh orang (homicide) dan untuk menggugurkan kandungan (abortion).

Pengeringan daun, biji dahan tanaman ini tidak mengurangi kadar toksisitasnya. Bahkan madu yang dihasilkan oleh lebah yang mengisap nektar dari bunga Oleander ini juga beracun untuk dikonsumsi. Yang cukup mengherankan, daun-daun tanaman yang berasa manis ini, dapat menewaskan seekor kuda bila terlambat diberikan pertolongan darurat (100 gram zat toxin ini sudah cukup untuk mematikan seekor kuda dewasa).

Cara pengobatan akibat keracunan Oleander ini adalah dengan merangsang muntah (induced vomitting), pembilasan lambung (gastric lavage), dan pemberian norit (activated charcoal). Permberian norit ini dimaksudkan untuk mengikat zat beracun tersebut sehingga menjadi netral untuk dikeluarkan dari tubuh. Cara yang perlu segera ditempuh, apabila perangsangan muntah tidak berhasil dilakukan, adalah dengan pemberian digoxin immune fab, suatu obat produksi dari GlaxoSmithKline. Untuk negara-negara berkembang seperti India dan Srilangka, pemberian digoxine immune fab tentu mengalami kendala, karena harganya yang cukup mahal.

Oleh karenanya, tindakan preventif perlu dilakukan menghadapi resiko tanaman hias Oleander ini. Apabila di rumah kita masih mempunyai anak-anak balita, sebaiknya tanaman ini ditebang saja. Demikian pula untuk sekolah dasar, lebih bijak bilamana tidak memelihara tanaman Oleander di halaman sekolah. Ada cerita yang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, mengenai sejumlah anak pramuka yang meninggal dunia karena memanggang daging yang ditusuk dengan ranting pohon Oleander. Sekali pun mungkin cerita di atas hanya mitos, tentunya pengenalan pengetahuan tentang bahaya keracunan tanaman Oleander kepada anak-anak perlu disosialisasikan semenjak dini, sehingga dapat dihindarkan kejadian yang tidak diinginkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 2 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 3 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 3 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 4 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: