Artikel

Medis

Omri

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Menulis itu lebih dari sekedar menyenangkan, karena juga mendorong keinginan membaca. Cara yang paling konvensional adalah menulis yang benar benar kita ketahui, tetapi menulis untuk sesuatu yang tidak seluruhnya kita ketahui juga bisa menjadi asyik, karena segera mengetahui dari pembaca kita, betapa bodoh dan dangkalnya kita dan ahirnya mendorong untuk lebih tahu. Saya menyenangi perjalanan jauh, olah raga, fotografi, nanam sayur dan mendorong kiat hidup sehat.

Harga Obat Ancam Kesehatan?


OPINI | 21 February 2011 | 17:02 Dibaca: 408   Komentar: 25   2 dari 3 Kompasianer menilai aktual

12982824291765969619Head-line Kompas hari ini membicarakan bagaimana tingginya harga obat di Indonesia, pangsa pasarnya yang diatas 30 Triliun Rupiah [namun dikatakan kecil oleh beberapa produsen], bagaimana jumlah obat terlalu banyak, KPPU juga mengatakan tinggi nya harga disebabkan kartel obat [ini pernyataan yang sangat keras karena umumnya tidak ada yang ingin mengatakan hal ini secara terbuka], Direktur group pabrik obat mengatakan harga [dirasakan] tinggi karena masyarakat Indonesia mayoritas membayar dari kocek sendiri, dan hal ini disambung oleh Direktur salah satu pabrik obat mengatakan bahwa ini dikarenakan pemerintah tidak bernegosiasi dengan pihak asuransi, dll, dll. Fakta yang ada adalah para keluarga pasien mengeluh tak berkesudahan. Kompas menceritakan anak leukemia yang harus dibiayai 22 juta rupiah hanya dalam 25 hari padahal ayahnya pemegang Askes, dan berbagai cerita yang membuat bulu kuduk merinding dan air mata menetes.

Ini tidak lebih dan tidak kurang adalah cerita busuk, dan hanya menampilkan kebusukan2 didalam industri obat. Apa yang ditampilkan Kompas disana juga sekaligus memperlihatkan minimnya pengetahuan masyarakat bahkan pengetahuan pejabat otoritas pemerintah atas bisnis obat dinegara ini.

Bisnis Obat merupakan salah satu bisnis yang ter korup didunia dan tak terkecuali di Indonesia. Ini dimulai dengan system pemberian izin yang berliku liku dan tidak transparan, sehingga memungkinkannya terjadi kartel2 kecil maupun besar untuk setiap jenis obat. Hal kedua, yang sebenarnya jauh lebih penting dari seluruh hal tadi adalah kualitas obat yang sangat diragukan keabsahannya, karena tidak melalui penelitian yang komprehensif, bukan hanya dalam keampuhannya, namun terlebih didalam dampak sampingannya yang merugikan kesehatan. Jadi harga obat yang tinggi ini diperburuk lagi dengan rendahnya kualitas produk obat itu sendiri. Dengan lemahnya pengawasan atas kualitas obat, maka pasar ikut ikutan memberikan standar “tambahan” yang tidak memiliki dasar sama sekali, yaitu adanya label paten, generik dan generik bermerek. Harga obat ditentukan apakah ia obat generik, generik bermerek atau obat paten. Obat paten sekalipun mestinya tidak semena mena menetapkan harganya, hanya karena jenis technical materialnya berbeda. Ini perlu diawasi oleh pemerintah. Hal mengenai obat paten ini dan obat2 terlaris di dunia sudah pernah saya tuliskan pada artikel sebelumnya dan bisa lihat di blog saya.

Apa sih yang perlu kita ketahui sebagai masyarakat awam tentang bisnis obat2an ini?

Pertama, bahwa bisnis ini sangat besar jumlahnya. Di Indonesia saja [yang masih dikatakan kecil] sudah merupakan 6% dari pengasilan domestik bruto PDB dan jumlahnya diatas 30 triliun dan volume bisnis untuk dunia sudah sebesar 7000 triliun rupiah. Ini menurut Kompas. Dengan volume sebesar ini terjadi persaingan bisnis yang sangat runcing diantara pelakunya. Persaingannya sebenarnya bukan terjadi di Indonesia, namun dibelahan dunia sana, ditempak induk2 perusahaannya berada. Mayoritas dari bisnis ini dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan2 besar tadi yaitu Pfizer, Novartis, Sanofi-Aventis, GlaxoSmithKline, AstraZeneca, Roche, Johnson&Johnson, Merck&Co, Eli Lilly, Abbott. Pada nomer 11-20 anda akan melihat nama2 yang juga tidak asing seperti Wyeth, Bayer, Schering dsb. Bila KPPU mengatakan bahwa harga ditentukan oleh kartel, maka itulah daftar dari kartel yang ada. Bukan hanya sekedar harga, indikasinya juga sangat kuat bahwa mereka ini juga berbagi kapling diseluruh dunia, sama seperti Negara Spanyol dan Portugis membagi dunia pada abad 15-18. Ini adalah bentuk konkrit imperialisme industri obat. Perlu diketahui bahwa pada industri pestisida [racun tanaman], hal yang sama terjadi persis seperti pada obat [racun manusia], karena pada umumnya obat dan pestisida diproduksi oleh perusahaan yang sama.

Apakah yang menyebabkan harga obat menjadi tinggi? Kalau di Kompas, wakil produsen mengatakan itu karena orang Indonesia membayar dari kantongnya sendiri… Wah, ini pernyataan yang benar2 konyol sekali. Kalau harganya tinggi, ya harganya tinggi, terlepas dari siapa yang membayarnya. Terlihat sekali bahwa produsen ingin memasukkan konsep negara barat, dimana mayoritas warganegara ditanggung oleh Negara biaya kesehatannya, sehingga warganegara tidak perlu mengeluh kalau harga obat naik. Tapi toh itu adalah uang rakyat kan? Kalaupun Negara yang membayarkan maka itu tetap uang rakyat dan itu keringat rakyat. Uang yang tadinya bisa membangun jalan sekarang masuk kekantong pabrik obat. Mereka ingin agar pabrik Obat berlindung dibelakang Negara, dan pendapatan pabrik obat menjadi bahagian dari APBN. Argumen apa pula ini…? Wakil dari pabrik obat juga nyerocos hal yang mirip dengan mengatakan mestinya Negara bernegosiasi dengan asuransi. Kembali lagi ini konsep negara maju, dimana masyarkat sudah diasuransikan oleh Negara maupun pemberi kerjanya. Sama saja Bung… Anda hanya ingin berurusan dengan satu orang saja yaitu pihak asuransi dan berbagi untung dengan mereka tanpa ada hubungannya dengan nilai nominal tinggi harga obat tadi. Jadi selain pabrik obat, ternyata perusahaan asuransi kesehatan juga ingin berlindung dibelakang Negara dan menjadi bahagian dari APBN. Sekarang saya merasa menjadi bodoh sekali dan tersinggung oleh kedua komentar2 ini? Bung…. HARGA OBAT ANDA TERLALU TINGGI. Tidak lebih dan tidak kurang dan anda kelihatannya tidak mengerti dan membelokkan kembali kepada kepentingan anda saja.

Kenapa saya katakan tinggi? Beberapa obat popular malah katanya lebih “murah” harganya di Indonesia dibandingkan dengan di Eropah misalnya. Lho, koq bisa? Obat “kacangan” decolgen di Jakarta lebih murah dari di Singapore. Itu contoh gampang dan bagus. Ini sama dengan beli pestisida merek Bronco di Jkt yang lebih murah daripada di Jordania misalnya. Lha, ternyata spesifikasinya tidak sama. Yang disini dosisnya lebih kecil daripada dinegara lain. Atau juga technical materialnya [bahan dasar obatnya] yang disini ternyata tidak aktif lagi, dan kalaupun anda minum sekilo bersama pabriknya, tetap saja tidak menyembuhkan. Waah, anda mulai mencurigai kalau info ini sudah menyerempet ke fitnah……. Jadi kalau saya katakana harga nya tinggi, mungkin perlu diralat menjadi “harga tinggi dibandingkan kualitasnya”.

Apalagi tolok ukurnya bahwa kita dapat katakan tinggi? Dasar terbaik adalah harga produksinya. Mengapa demikian? Karena harga produksi obat2an termasuk pestisida rata rata hanya 5% dari harga jualnya. Bukan 50%? Bukan Mas, hanya 5%. Angka ini adalah angka survey resmi dunia. Ini sudah termasuk dengan ongkos penelitian yang menurut mitos sangat tinggi itu. Ini adalah satu2nya industri yang marginnya bisa ribuan persen. Kenapa bisa begitu? Karena produsen bisa mengatur harga dan melindungi bisnisnya secara sangat ketat melalui kartel yang disebutkan dan pengaruh dan kolusi. Mungkin ada yang mengatakan, wah saya kerja di pabrik obat lho dan saya tahu costnya memang tinggi. Dan saya akan menjawab: Bung, di Indonesia tidak ada pabrik obat. Yang ada adalah tempat assembling obat. Semua bahan dasar obatnya di import dari luar negeri terutama technical materialnya dan di Indonesia di diaduk aduk, dibentuk, dikemas dalam blister atau dimasukin kapsul atau diencerin jadi syrup. Jadi anda ndak tahu berapa harga obatnya karena anda hanya mengerjakan asemblingnya saja. Pada waktu bahan obat tadi di import maka keuntungan terbesarnya sudah diraup oleh perusahaan induk. Anda hanya kebahagian sedikit untuk biaya iklan atau bayar detail man dan untuk bayar komisi RS atau dokter tambah seminar gratis bagi mereka dan juga pesiar ke luar negeri. Karena itu juga di Indonesia tidak ada pendidikan Sarjana pembuat obat. Yang ada [sarjana farmasi] adalah sarjana assembling obat. Mereka tidak tahu bagaimana membuat obat, dengan pengertian membuatnya dari bahan dasar menjadi bahan baku dan seterusnya. Jadi Kesimpulannya… HARGA OBAT ANDA TERLALU MAHAL.

Bagaimana dengan kualitas obat yang ada? Wah wah wah… yang ini selalu membuat perut saya jadi mual. Cerita tentang ini ibarat orang yang mengaduk ngaduk tinja. Maaf bahasanya kasar… tapi memang makin diaduk, makin bau. Masyarakat umum, termasuk juga para pemberi resep yaitu dokter, memiliki anggapan bahwa seluruh proses pembuatan obat dilakukan dengan secara hati2, berisi zat2 penyembuh yang murni dan bersih dari kontaminasi, diproduksi dengan cara yang penuh tanggung jawab dan etika, dicobakan pada hewan dan manusia dan diteliti seaman amannya sebelum kemudian disetujui oleh badan pengawas obat [POM di Indonesia, FDA di Amerika] untuk diedarkan kepada masyarakat. Itu adalah mitos yang umumnya dipercaya. Kenyataannya adalah bertolak belakang.

Bulan lalu komisi kesehatan dunia [International Medical Council on Vaccination] memberikan laporan resmi mengenai vaksin yang diproduksi di dunia sekarang ini. Ternyata dari 35 jenis vaccine utama yang diberikan pada anak2, diketemukan 113 jenis partikel penyakit, 59 jenis zat kimia, 4 jenis DNA binatang, DNA dari tissue janin manusia yang diborsikan dan zat albumin manusia. Saya tidak perlu mengaduk ngaduk tinja disini. Vaksin hanyalah salah satu contoh betapa buruknya kualitas obat2 hasil industri Farma.

Apakah obat2an tadi benar2 di uji cobakan secara komprehensif? Pada umumnya obat2an hanya dicobakan kepada orang yang sehat dan hasilnya di ekstrapolasikan pada orang sakit. [maksudnya di reka reka apa yang akan terjadi bila diberikan kepada orang sakit]. Contoh tergampang adalah Tamiflu, obat flu burung. Bagaimana pabrik obat dapat mencobakan obatnya pada pasien sakit, sedangkan pasien flu burung ini pada mati semua? Jadi tidak ada sample yang bisa dicobakan, dan toh Tamiflu bisa diperdagangkan. Obat2an tidak pernah dicobakan bersamaan dengan pemberian obat lain. Contoh gampang, obat panadol misalkan tidak pernah dicoba diberikan bersamaan dengan obat perut misalkan entrostop dan diteliti dampaknya. Apa yang akan terjadi bila obat darah tinggi diberikan bersamaan dengan obat kudis2an dan obat sakit maag? Ndak ada yang tahu. Kalau kita Tanya dokter, mereka juga tidak tahu karena itu bukan bidang mereka. Mesti Tanya farmacolog, dan mereka tidak tahu karena ndak pernah diujikan. Paling2 mereka mencoba berlogika secara sederhana berdasarkan rumus kimianya. Namun tidak pernah diujikan. Apa yang terjadi adalah bahwa banyak pasien2 akan menderita karena keracunan obat, karena dokter2 sangat rajin memberikan obat2 kepada pasiennya. Survey dikota besar dan negara maju menyatakan bahwa rata2 orang dewasa diatas 50 tahun akan menelan minimal 3 macam obat yang di resepkan oleh para dokter. Biasanyanya ini untuk mencegah atau mengobati penyakit menahun, seperti diabetes, darah tinggi, cholesterol, penyakit jantung, ginjal dan syaraf. Setiap tahun jumlah obat yang dimakan bertambah jenisnya karena dampak buruk konsumsi obat2 yang sudah seperti cocktail ini. Kesimpulannya OBAT ANDA HARGANYA MAHAL…. DAN KUALITASNYA BURUK.

Apa yang perlu kita lakukan sebagai konsumen? Sebagai individu [dan ini satu2nya senjata yang ampuh], kita perlu lebih mengetahui tentang merawat hidup secara sehat dan menghindari jatuh sakit. Sebelum kita sakit, maka kita perlu mengetahui beberapa cara penyembuhan penyakit dan memilih yang baik dan terbukti benar [apakah itu secara medis maupun non-medis], terutama cara yang aman, tidak berisiko dan relatif murah. Bila harus memakan obat medis, cari tahu mengenai obat ini dengan jelas, kegunaannya dan dampak sampingnya. Ini juga berlaku untuk obat2 non-medis, apakah itu herbal, atau suplemen. Bila anda mencari second opinion mengenai penyakit anda, jangan lupa mencari second opinion mengenai jenis obat yang diberikan.

Bagaimana dengan upaya pelaku2 industri kesehatan, POM dan otoritas untuk memperbaiki kondisi yang buruk ini? Wah….. biarlah itu urusan mereka. Kita ndak sanggup mengajari beliau2 itu…….

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: