Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Posma Siahaan

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Bukan Maksud Milikku Membunuh Bibitmu

OPINI | 13 January 2011 | 16:18 Dibaca: 1007   Komentar: 7   0

1294931790393751470

Sari dan Deni sudah 3 tahun menikah, tetapi belum ada momongan. Di tahun pertama pernikahan, mereka masih santai-santai saja, tetapi di tahun kedua keduanya mulai cemas.

Semua handai taulan memberi nasehat yang non medis dahulu, “Kalau ML selesai, taruh 2 bantal di pantat Sari selama setengah jam,” saran yang satu. Dua bulan dicoba, belum dapat.

“Tahan diri. Jangan ML 2 minggu sebelum masa subur, dan waktu 4 hari masa subur itulah ML habis-habisan 3 kali sehari, 1 sendok makan,” Kata yang lain. Walau berat gak ML tiap 2 minggu sebelum masa subur, tetapi karena logis teori nabung bibit selama 2 minggu itu dilakukan juga oleh Deni. Tiga bulan dicoba, masih kosong.

“Banyak makan toge, minimal sekilo sehari,” Kata bibi dari pihak Sari, sampe muka keduanya mirip kacang ijo pun tetap juga tidak ada hasil.

“Makan martabak telur bebek dan cumi-cumi, sehari minimal 2 porsi, ” Kata paman Deni, dicoba 2 bulan, alhasil berat Deni nambah 7 kilogram, tetapi momongan belum jadi juga adonannya.

Tahun kedua, mulai konsultasi ke spesialis kebidanan. “Iya, dok. Kami sempat 3 tahun pacaran dan rutin ML, jadi saya makan pil KB. Apa ada pengaruhnya?” Tanya Sari.

“Mungkin saja. Hormon kamu jadi tidak teratur. Oke kita coba periksa kesehatan reproduksi dahulu.” Kata dokter kebidanan tersebut.

Bibit Deni diperiksa di laboratorium biologi medik dan kesimpulannya sehat. Santi dicek bentuk rahim dan saluran telurnya baik. Dan si dokter pun mulai memberi obat penyubur kandungan. Lima bulan, masih tidak berhasil juga.

“Jadi, bagaimana ini, dok? Saya sudah ingin benar punya anak, tetapi kalau ikut program bayi tabung yang 50 jutaan itu, kami tidak punya biayanya,” Memelas Sari menyatakan kesedihannya, sambil menggarut-garut tangan.

“Kenapa ibu garut-garut tangan? Lho, kulitnya ada merah-merah. Ibu ada galigata, ya?” Tanya si dokter kandungan.

“Iya, dok. Maaf, semalam kami baru ML. Kalau habis ML seharian suka ada galigata seperti ini.” Kata Sari.

Langsung saja temuan menarik itu ditangkap oleh si dokter. Segera dia mengkonsulkan Sari ke dokter penyakit dalam konsultan alergi imunologi.

Dan dengan tes yang prosesnya agak rumit, disimpulkan oleh si dokter konsultan alergi itu, bahwa Sari alergi dengan sperma suaminya. Dimana sperma suaminya langsung diserang oleh antibodi dari tubuh Sari saat masuk ke jalan lahir dan dihancurkan.

Jadi, sebanyak apapun sperma dihasilkan oleh Deni, semua akan dibunuh antibodi di ‘Mrs V’ Sari, segera setelah disemprotkan. Tanpa ada satu pun yang selamat.

Akhirnya, Sari diberikan obat antiradang. Dan jika suami istri ini ingin ML, Sari makan obat dahulu 2 jam sebelumnya.

Setelah menjalani terapi ini selama 3 bulan, Sari hamil. Hore! Kedua suami istri ini pun bersorak gembira mendengar penjelasan dokter kandungan.

” Tetapi, karena sperma bapak dapat memancing antibodi ibu yang menghancurkan sperma, dan takutnya bayi mungil di rahim ibu ikut-ikutan dihancurkan, sebaiknya jangan ML dahulu selama kehamilan ini…” Jelas si dokter.

Langsung Deni mendadak pucat dan lemas. “Kan bisa makan obat anti radang untuk mengatasinya, dok?” Katanya mau nego.

“Efek samping obat antiradang ke bayi juga ada.” Kata dokter.

“Yah…Puasa 8 bulan, deh..” Kata Deni lemas.

“Kamu harusnya bersyukur Den. Yang alergian istri kamu. Kalau kamu yang alergian terhadap Mrs V istri lebih susah lagi. Tiap ML, pasti Mr. P kamu bengkak dan merah kayak kena galigata. Pasti gatal dan sakit banget” Kata dokter konsultan alergi.

Ya, mendengar hal itu Deni pun dapat tersenyum lagi. Susah payah mau mendapatkan sang buah hati, masak menahan diri tidak ML 8 bulan saja tidak sanggup.

Sanggup-sanggupkanlah, Den. Aku gak ikutan, ah!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: