Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Endang Pujiyati

Ibu yang sedang belajar menjadi pendidik dan pengajar untuk putra-putrinya sendiri dan putra-putri dari rakyat selengkapnya

Pola Makan Masyarakat Jepang

OPINI | 25 January 2010 | 04:39 Dibaca: 1417   Komentar: 12   1

Saat pertama kali menginjak negara Jepang, tidak pernah terpikirkan bahwa masyarakat Jepang langsing-langsing, baik laki-laki maupun perempuan, meski saja ada yang kelebihan berat badan.  Tetapi secara umum masyarakat Jepang adalah langsing.

Sebelum menginjak negeri ini, saya hanya melihat dari TV Indonesia yang lebih banyak menyiarkan acara dari Negeri Paman Syam, yang nota bene makanan yang diperlihatkan kebanyakan adalah Hot Dog, Hamburger dan Steak, sedangkan sayuran sangat sedikit sekali di santap.   Masyarakat Amerika juga lebih banyak yang kelebihan lemak di bandingkan Jepang.  Sehingga tidak heranlah kalau banyak warganya yang mengalami obesitas, bahkan anak-anak sekalipun.

Ketika pertama kali melihat dan mengamati bahwa masyarakat jepang pada umumnya langsing, saya sempat berpikir bahwa mungkin Jepang mempunyai genetis langsing.  Tetapi setelah tinggal lama di negeri ini saya baru menyadari bahwa ada pola makan yang berbeda antara Amerika dan Jepang.  Demikian juga pola makan yang di tiru oleh masyarakat Indonesia yang notabene lebih banyak menerima siaran Amerika.

Porsi makan masyarakat Jepang sangat sedikit sekali.  Satu porsi nasi orang dewasa sama dengan porsi makan anak-anak di Indonesia, sedangkan anak-anak lebih kecil lagi.  Dalam menu harian mereka selalu ada sup sayuran atau sup rumput laut dengan miso shiru, atau selada, atau sayuran rebus.  Satu potong kecil lauk, baik itu berupa ikan, sosis, atau daging.  Setelah makan mereka minum ocha (teh hijaunya Jepang) hangat.

Kalau mereka tidak sempat sarapan di rumah biasanya membeli onigiri, nasi yang dibungkus nori yang isinya berupa ikan, udang, daging ayam atau daging babi, dan dibungkus dengan nori.  Kalau makan siang tidak sempat membuat bento juga mereka membeli paket nasi dengan lauk pauk lengkap, tetapi tentu saja masih dengan porsi yang kecil.  Kadang malah para wanita lebih menyukai yang porsi nasinya kecil. Kadang mereka membeli paket sushi, nasi yang dibungkus nori dengan isi selada, mayonais, kyuri (timun jepang), dengan tambahan proteinnya ikan tuna, atau kani (kepiting), atau udang yang semuanya mentah, kecuali kepiting.  Sungguh meyehatkan bukan..?  Tidak seperti menu makan siang orang Amerika atau Eropa dan Australia, yang kebanyakan makan junk food yang tentu saja kandungan lemaknya tinggi.

Anak-anak Jepang juga mau tidak mau akan terbiasa dengan pola ini, mereka gampang sekali makan selada mentah, atau sayur rebus.  Mereka sangat menikmatinya.  Kalaupun mereka tidak suka makan sayur di rumah, bila masuk penitipan anak, atau TK, guru mereka dengan telaten menjelaskan kenapa mereka perlu makan sayur.  Selain itu mereka menceritakan bahwa para petani sudah susah payah menanamnya, para pedagang sudah capek-capek menjualkannya, dan ibu di rumah sudah bersusah untuk memasaknya, mengapa mereka tidak mau memakannya?  Sampai si anak mau makan sayuran. Hal ini saya alami karena anak perempuan saya susah untuk makan sayur, tetapi kalau di sekolah dia dengan lahapnya akan memakan sayuran yang dibawakan.

Selain menu sehat dan porsi kecil, masyarakat Jepang tidak banyak mengkonsumsi daging.  Hampir sebagian besar menu mereka adalah ikan.  Segala macam jenis ikan dan masakan berbahan ikan.  Meski kadang daging dan ayam juga mereka makan, tetapi frekuensinya lebih sedikit.

Masyarakat jepang juga cenderung menyukai makanan yang tidak manis.  Cake, kue-kue, atau biskuit yang ada di Jepang tidak semanis yang ada di Indonesia.  Jadi kita kadang mereasa bahwa cake Jepang tidak enak, karena kita sudah terbiasa makan cake yang manis sekali.   Mereka juga menganggap gula tidak baik bagi kesehatan.  Penyuluhan kesehatan yang sukses menurut saya.  Sehingga kopi pun mereka minum tanpa gula.  Apalagi teh dan ocha, semua tidak manis.    Kalaupun diberi gula, kadarnya jangan samakan dengan kadar pemberian gula di masyarakat Indonesia.  Sepertinya diabetes menjadi penyakit yang jarang bagi masyarakat jepang.  Sehingga tidak heran bahwa usia orang Jepang sangat panjang.  Sampai nenek-nenek atau kakek-kakek mereka masih terlihat sehat, mampu bepergian sendiri, bahkan rumah ada yang di lantai 4 tanpa lift.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Rahasia Mantan …

Witri Prasetyo Aji | 7 jam lalu

Kompasiana …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Menelusuri Pusat Keramaian Pusat Kota Malang …

Muhammad Azamuddin ... | 8 jam lalu

Perawatan Penyakit pada Sistem Pernapasan …

Meli Yunita Agustin | 8 jam lalu

Dari Pameran Foto Arsip …

Ade Aryana Uli Pan... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: