Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Kukuh Ikw

seorang yang sedang belajar memahami arti hidup di dunia ini... ^_^

Minyak Goreng yang Baik??

REP | 13 January 2010 | 06:01 Dibaca: 1891   Komentar: 21   6

Minyak goreng kemasan
Minyak goreng kemasan sudah banyak kita jumpai di pasar tradisional ataupun supermarket. Kita pun terkadang bingung memilih minyak yang lebih baik. Bahkan terkadang ketika kita membeli di supermarket kita jumpai endapan putih yang ada di bagian bawah ataupun melayang-layang, kemudian kita mengurungkan niat kita untuk membelinya karena anggapan kita bahwa minyak tersebut kotor, mutunya jelek, de el el. Padahal……

Faktanya seperti apa yang saya sampaikan sebelumnya di sinibahwa minyak goreng ada 2 bagian, cair dan padat. Proses pemisahan ini berlangsung lewat pendinginan minyak pada suhu rendah selama kurang lebih 6-12 jam bahkan lebih (bergantung kualitas minyak yang diinginkan). Dalam istilah produksi kualitas ketahanan minyak ini dikatakan sebagai CP (cloud point) yakni suhu dimana minyak nampak berkabut. Nah, kalau CP nya rendah berarti ketahanan minyak terhadap suhu dingin akan semakin bagus. Biasanya kan suhu di supermarket lebih dingin sehingga minyak cenderung membeku. Apakah kemudian minyak tersebut aman dikonsumsi? Jawabannya pasti AMAN karena ini sama seperti es dengan air. Dua-duanya adalah air juga kan… hanya fasenya berbeda. Kalau kita panaskan maka endapan tersebut akan hilang. Nah kalau masih ndak hilang? Berarti dalam proses penyaringan atau pengemasan ada yang salah tuh, yang ini sih saya nggak ikutan….

Isu selanjutnya adalah minyak merk A atau B kok lebih “tahan” dipakai menggoreng ya? atau kalau kata ibu-ibu dipakai goreng berkali-kali baru jadi jelantah. Hubungannya apa? Apakah harga? Warna? Kandungan Omega 3, 6, vit. E, de el el? Tidak. Ini berhubungan dengan perbandingan fase padat dan cair minyak serta cara kita menggoreng. Minyak yang ‘bagus’ adalah minyak dengan kandungan fase padat (stearin) yang sedikit. Minyak ini lebih cocok dipakai menggoreng dengan api kecil dan sedang serta lebih tahan terhadap reaksi kimia (susah tengik). Sementara jika kita ingin menggoreng dengan suhu tinggi lebih baik kita pakai minyak padat (stearin atau lemak lainnya) karena sifat ikatannya. Kalau minyak sudah mulai menghitam atau menjadi jelantah maka struktur minyak tersebut telah rusak. Di dalamnya terbentuk gugus benzena yang dapat mengeluarkan senyawa dioksin ketika kita pakai untuk menggoreng. Bahaya dioksin dapat anda lihat di sini , resikonya banyak lhooo… Jadi solusinya? Setiap minyak bisa kita pakai dengan bebas, tak perlu ragu akan hasil gorengan, pasti jadi kecoklatan kok, asal jangan terlalu sering pakai minyak jelantah, toh minyak jelantah bisa dipakai untuk yang lain.

Salam gorengan

^_^

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Diantara PPG (Pendidikan Profesi Guru) dan …

Ferril Irham Muzaki | | 05 March 2015 | 16:00

Begalnomics: Kenapa Begal Tetap Ada Meski …

Yoga Ps | | 05 March 2015 | 16:36

Para Pekerja Sebaiknya Menghindari Kebiasaan …

Reidnash Heesa | | 05 March 2015 | 16:31

Hati-hati Mendownload Aplikasi untuk Mobile …

Yety Ursel | | 05 March 2015 | 22:12

Kalajengking dan Wanita Berbisa …

Pical Gadi | | 05 March 2015 | 22:07


TRENDING ARTICLES

Kisruh APBD DKI Jakarta Gegara Siluman …

Syukri Muhammad Syu... | 8 jam lalu

Mahasiswi Goyang dengan Profesor di …

Mansur Am | 10 jam lalu

(Breaking News) Denny Indrayana Tersangka …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, Dua Bidak …

Mas Ukik | 12 jam lalu

Ahok Dapat Dukungan dari Ketua Umum Partai …

Imam Kodri | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: