Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Limantina_sihaloho

Di samping senang menulis, saya senang berkebun, memasak (menu vegetarian), keluar masuk kampung atau hutan, selengkapnya

Bahaya Makan Mie Instan!

REP | 02 November 2009 | 14:09 Dibaca: 7783   Komentar: 29   6

Bahaya Makan Mie Instan!

Para Pemenang Indomie Kreasi - Kompas 1 Nov 2009

Para Pemenang Indomie Kreasi - Kompas 1 Nov 2009

Salah seorang staf humas rumah sakit di Penang tahun lalu bercerita pada saya dan adek saya. Ada seorang pasien yang dirawat di rumah sakit di mana staf humas ini bekerja. Pasien ini masih muda, sebut saja namanya Roma, (bukan nama sebenarnya).  Setelah lulus kuliah, dia bekerja di salah satu bank di Semarang.

Roma anak orang kaya tetapi anehnya makanan kesukaannya adalah mie instan, termasuklah itu indomie yang gencar beriklan di media cetak dan elektronik. Ibarat orang pakai narkoba, Roma pun sudah sangat tergantung pada mie-instan. Dia tak tahu bahwa mie-instan yang enak di lidahnya itu dan gampang bikinnya pelan tapi pasti telah menggerus ususnya. Apalah istilah kedokterannya itu? Para dokter tahulah itu.

“Sudah M uang orang itu habis untuk biaya perobatan si Roma”, begitu kata staf humas rumah sakit tersebut pada kami. M maksudnya sudah ada semilyaran. Untung orang tuanya kaya atau mungkin dia punya ansuransi yang bisa dia pakai secara internasional ya.

“Itu gara-gara dia senang dan sudah pada tahap ketagihan makan mie instan”, begitu lanjut staf humas tersebut.

Enak di Lidah Saja

Cara Pemilik Perusahaan Indomie menggaet lebih banyak pembeli produk instan mereka.

Cara Pemilik Perusahaan Indomie menggaet lebih banyak pembeli produk instan mereka.

Waktu saya kuliah, saya juga senang makan mie-instan. Pintar juga yang punya produk, dibikinnya macam-macam rasa termasuk rasa-rasa dari Sumatra. Saya sudah lupa apa nama rasa yang khas dari Sumatra, pedas dan enak betul di lidah. Ingat rasanya saja orang bisa makan 2 atau 3 sekaligus — atau satu yang jumbo. Ada ukuran jumbo segala.

Sibuk kuliah dan tak ada mata kuliah yang berkaitan dengan makanan di perkuliahan saya, ya karena saya kuliah di jurusan teologi. Waktu SMA pun mana ada guru saya yang bilang kalau mie-instan itu bahaya. Bapak saya pun senang makan mie-instan. Dulu yang terkenal bernama sarimi. Paling tidak sekali sampai dua kali dalam seminggu, bapak saya makan sarimi itu. Kalau dia tak begitu selera makan, salah satu dari kami anak-anaknya akan berlari ke warung beli sarimi.

Suatu ketika di penghujung perkuliahan saya, saya ikut sebuah seminar tentang lingkungan hidup. Salah seorang pembicara dalam seminar itu membuat saya menjadi vegetarian sampai sekarang. Si pembicara itu seorang buddhis, menjelaskan bagaimana hubungan apa yang kita konsumsi dengan perusakan alam. Contoh, belakangan semua jenis hewan mau dilahap manusia pula, termasuk ular, katak hijau dan makanan-makanan aneh lainnya. Penurunan populasi katak hijau merusak ekosistem karena rantai makanan terganggu.

Setelah menjadi vegetarian, saya jadi berminat pada pembahasan atau bacaan tentang makanan terutama tentang hal-hal ada kaitannya dengan pola hidup menjadi vegetarian.

Dari situlah saya mengetahui bahwa mie instan itu berbahaya. Makanan-makanan istan berbahaya bagi kesehatan. Sebaiknya kita hanya makan pada kondisi-kondisi darurat ketika tidak ada pilihan lain. Kalau malas itu bukan alasan. Anak kost bisa saja makan indomie karena malas masak atau malas pergi ke warung makan.

Tidak mudah begitu saja berhenti makan mie-instan. Awalnya saya mengurangi secara bertahap. Betullah bahwa mie-instan macam indomie itu memang sudah kaya narkoba, bikin ketagihan. Saya bukan pemakai narkoba, yang saya tahu pemakai narkoba ya jadi ketagihan. Sama dengan rokok.

Strategi Para Pemilik Produk Makanan Instan

Apalah hebatnya resep dari ketiga pemenang seperti dalam gambar di atas? Pintar pemilik produk indomie dengan memilih orang Sorong - Papua Barat menjadi pemenang pertama ya. Pesan yang mau disampaikan adalah agar penduduk di Papua lebih banyak lagi makan mie-instan. Perusahaan Indomie tidak akan rugi dengan memberikan uang Rp 50.000.000 pada Jumiaty karena mereka akan dapat lebih banyak lagi dari pembeli yang akan semakin ketagihan makan produk mereka.

Di samping ketiga juara di atas, ada lagi 125 orang pemenang masing-masing memperoleh Rp 2.500.000.

Mie instan tidak hanya disukai kalangan menengah ke bawah tapi semua lapisan masyarakat. Saya tidak memperhatikan apakah Indomie juga beriklan di harian seperti Kompas. Kalau ya, lucu juga sebab itu sama saja dengan mengiklankan produk rokok yang sama-sama berbahaya bagi kesehatan walau saya kira tak separah rokok yang harus mengorbankan perokok pasif. Kalau saya berada di samping orang yang melahap indomie, saya tidak akan apa-apa.

Segala jenis makanan instan kan sebenarnya tak bagus. Termasuk susu-instan. Kata mereka pemilik produk itu bagus. Itu kan akal-akalan mereka saja untuk menarik lebih banyak pembeli. Yang paling bagus itu adalah makanan alami yang kita olah sendiri. Sekali lagi, kalaupun kita terpaksa makan makanan instan, dalam kondisi darurat dan tidak ada pilihanlah.

Konon pula, salah satu penyebab semakin mudahnya orang jatuh sakit dan berpenyakit macam-macam adalah akibat pola makan dan jenis makanan yang mereka konsumsi.

Kita bisa cari informasi apa bahaya makan mie instan lewat Google, akan bermunculan di sana.  Mie instan merupakan salah satu penyebab kanker dan berbagai jenis penyakit lainnya terutama di bagian usus. Ada lo orang yang sampai harus potong usus karena suka makan mie-instan. ***

Tags: racun msg

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

[Cermin] Tentang Keimanan …

Meta Morfillah | 7 jam lalu

Mewujudkan Independensi Mahkamah Agung dalam …

Zulkifli Muhammad | 8 jam lalu

Nikmatnya Berwisata Sambil Berdinas …

Dizzman | 8 jam lalu

Menyoal “Kurtilas Terancam Gagal” …

Dede Taufik | 8 jam lalu

“Off the Record” …

Ronny Wijaya | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: