Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

Kenapa Teh Hijau Berwarna Kuning Kemerahan..?

REP | 30 May 2013 | 11:47 Dibaca: 603   Komentar: 14   5

13698888129493263

Teh trasan, teh dengan rasa asin, sepat dan manis menjadi ciri khas warga di lereng Gunung Merbabu (dok.pri).

Dinginnya udara Ngablak yang di apit 3 gunung, Merbabu, Andong dan Telomoyo tak berarti apa-apa saat duduk didepan sebuah tungku. Udara hangat mengusir hawa beku pagi itu saat fajar telah tiba. Diatas tungku dalam sebuat ceret yang sudah hitam legam nampak air mendidi dengan riak penuh gelembung udara.

Sejumput garam dapur dimasukan dalam mulut ceret lalu di tutup kembali. Tak lama kemudian sebuah gelas dengan lukisan motif bunga sudah disiapkan dengan cawan dibawahnya. Beberapa pecahan gula jawa (gula kelapa campur yang dicampur gula pasir) diletakan disisi-sisi gelas. Ditiungkan segelas penuh air mendidih yang berwarna kuning kehijaun. Inilah yang namanya teh trasan, demikian warga lereng gunung menyebutnya.

Pucuk daun teh segar dipetik lalu direbus dan ditambah sedikit garam. Cara minumnya juga unik. Gula jawa yang sudah dipotong lantas dikulum lalu tinggal minum seduhan teh asin yang hangat. Rasa sepat, manis, asin, dan harumnya teh campur aduk menciptakan aromanya tersendiri. Ini benar-benar teh hijau segar yang bisa langsung dinikmati.

13698888881866082246

Salah satu sudut kebun teh Peromasan, di lereng Gunung Ungaran (dok.pri)

Petualangan dengan teh tak berhenti dalam segelas teh sepat asin manis tersebut. Berada di tengah-tengah kebun teh Peromasan, milik pabrik teh Medini untuk melihat langsung proses pemetikan daun teh. Seluas mata memandang hanya permadani hijau beralaskan tumbuhan dengan nama ilmiah Camelia sinensis.

Tanaman perdu yang terdiri dari 82 spesies berasal dari daerah Irawadi, Myanmar yang kemudian tersebar luas ke Asia. Teh awalnya dikenal saat Kaisar Shen Nung berkuasa. Saat itu tak sengaja daun kering dari kayu bakar masuk dalam ketel air yang mendidih. Aroma harum, warna dan citarasa yang menarik membuat awal teh menjadi minuman yang selanjutnta menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Kembali di kebun teh Peromasan. Saya bertemu dengan mandor petik yang dengan gamblang menjelaskan proses pemetikan. Ada 2 cara pemetikan, yakni dengan alat atat atau dengan manual tangan. Untuk menutupi kebutuhan produksi, pemetikan dilakukan dengan bantuan pisau mirip sabit kecil atau gunting lengkap dengan keranjangnya. Apabila dengan tangan hanya daun terpilih yang terpetik, tetapi jika dengan alat tidak menutup kemungkinan daun tak terpilih ikut terpotong.

2 jenis daun yang menjadi pilihan pemetik teh. Daun yang diberi nama burung, bilamana pucuk daun masih kecil dan baru saja mekar sehingga mirip dengans sayap burung. Daun jenis ini yang nantinya akan dijadikan teh hijau. Daun jenis peco yakni daun dengan tangkai daun berselang seling. Daun jenis ini diambil 3-4 daun dari pucuknya yang nantiny akan dibuat menjadi teh hitam.

13698889801135205898

Di pabrik teh Pagilaran, saya baru tahu apa itu teh hijau dan teh hitam (dok.pri)

Teh hitam atau teh hijau acapkali disalah artikan. Teman saya yang membeli teh hijau dalam air teh yang dikemas botol sempat protes. “katanya teh hijau, kenapa warnanya merah begini, bukankah seharusnya warnanya hijau” sambil membolak-balikan botol menghadap sinar matahari. Bagaimana dengan teh hitam, apakah nanti berwarna hitam?.

Jawaban muncul saat saya bermain di pabrik teh Pagilaran, Batang-Jawa Tengah. Mengapa ada teh hitam dan teh hijau. Teh hijau adalah daun teh segar yang langsung di produksi menjadi teh, sehingga tanpa melalui proses oksidari enzimatis. Proses yang dimaksud adalah pemeraman atau fermentasi, agar terjadi reaksi biokimia yang melibatkan enzim-enzim dalam daun teh. Teh hitam adalah teh yang sudah mengalami pemeraman atau proses enzimatis penuh, dan warna daun teh berubah menjadi gelap. Ada juga teh Ulong, yakni teh yang perlakuannya semi oksidasi enzimatis. Jadi teh hijau dan hitam bukan perkara warna saat teh diseduh, tetapi mengarah pada proses produksinya saja.

Banyak yang beranggapan bahwa teh itu memiliki beragam khasiat. Ada yang mengatakan teh  sebagai anti bakteri, anti diare, stimulasi hormon, anti okisdan dan masih banyak lagi khasiatnya. Mengapa teh begitu berkhasiat, adakah yang sudah membuktikannya atau hanyalah mitos belaka untuk mendongkrak penjualan teh oleh pabrikan.

Ada sebuan penelitian yang mengatakan teh mengandung 450 komponen dan yang tersebesar dari golonga polifenol. Katekin adalah senyawa utama dari polifenol dengan komposisi 90%. Secara teoritis, polifenol adalah senyawa antioksidan yang mampu mengikat radikal bebas. Radikal bebas itu sendiri adalah produk samping dari proses metabolisme tubuh dan pengaruh dari luar seperti pencemaran.

Peran radikal bebas berupa ROS (reactive oxygen species) dan RNS (reactive nitrogen species) akan menyerang membran sel-sel lemak dalam tubuh yang kemudian merusak DNA. DNA yang rusak tidak lagi bisa berjalan normal dalam mengendalikan sel, sehingga munculah yang namanya kanker. Kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal yang mengganggu sel-sel normal tubuh. Anti oksidan berperan dalam menjinakan ROS dan RNS yakni dengan menurunkan keativan radikal bebas bahkan mengeluarkannya dalam tubuh.

13698890741102836797

Baragam jenis dan sajian teh hanyalah modifkasi penyajian. Kandungan antioksidan tetap berperan sebagaimana fungsinya. Kembali pada selera masing-masing (dok.pri)

Teh tubruk, teh celup, teh hijau, teh hitam, teh wangi, teh melati, teh tarik apapun wujud dan modifikasinya tetap memiliki peran yang sama. Keanekaragaman penyajian teh hanyalah masalah selera semata, namun khasiat didalamnya tetap berfungsi sebagaimana adanya. Agar berperan optimal tentu saja harus sesuai dengan takarannya, seberapa banyak? andalah yang menentukan sesuai dengan seleranya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Korban-korban Kebijakan dan Peraturan JKN …

Yaslis Ilyas | 8 jam lalu

Latihan Siang Malam, Prajurit TNI Dipantau …

Mirza Gemilang | 8 jam lalu

Memasuki Hari ke Enam Belas Berada di …

Taufiq Rilhardin | 8 jam lalu

Pacaran? Tidak Harus dengan Kekerasan! …

Stevani Dewi | 8 jam lalu

Transisi Swallow Go Internasional Dikenal …

Tenny Rizka Firsti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: