Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Seberapa Penting Garam Bagi Tubuh Kita?

OPINI | 28 April 2013 | 22:51 Dibaca: 692   Komentar: 0   0

13671640451509681554Seperti orang bilang “bagai sayur kurang garam”.  Ungkapan ini sering digunakan untuk mengungkapkan kurang lengkapnya sesuatu karena kurangnya suatu hal.  Kata-kata seperti “banyak makan garam” tentu juga sering kita dengar.  Betapa akrabnya kita dengan “garam”.  Akan tetapi, seberapa pentingkah garam bagi kita?

Garam yang biasanya dikenal sebagai penambah rasa asin jika ibu-ibu memasak, ternyata sudah dikenal juga memiliki rumus kimianya yaitu NaCl.  Walaupun hanya 4 huruf tetapi sangat diperlukan. Setidaknya ada beberapa peran garam bagi tubuh kita . Menurut Winarno (2008),  NaCl atau Natrium Klorida berhubungan erat dengan fungsi tubuh.  Klorida merupakan penyusun dari cairan lambung yang sering disebut dengan asam chlorida.   Asam lambung ini menciptakan suasana dalam lambung menjadi sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin untuk memecah protein.  Selain itu, asam lambung berfungsi mematikan bakteri penyakit yang masuk bersama makanan, menstabilkan zat gula dari hasil penguraian sebelumnya, serta merangsang produksi enzim pencerna protein (Ali, 2004).  Menurut Winarno (2008), ion-ion klorida mengaktifkan enzim amilase dalam mulut untuk memecahkan pati yang dikonsumsi.

Sebagai bagian terbesar dari cairan ekstraseluler, natrium dan klorida juga membantu mempertahankan tekanan osmosis, di samping juga membantu menjaga keseimbangan asam dan basa.  Natrium bersama dengan kalsium, magnesium, serta kalium dalam cairan ekstraseluler mempunyai reaksi alkalis.  Sementara, klorida bersama fosfat, karbonat, sulfat, asam-asam organik, dan protein mempunyai reaksi asam (Winarno, 2008).

Jika Anda merasa haus maka Anda bisa saja sedang mengalami kekurangan natrium.  Kekurangan natrium yang terlalu banyak akan menyebabkan cairan ekstraseluler berkurang, akibatnya tekanan osmosis dalam cairan tubuh menurun.  Hal ini menyebabkan air dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel.  Akibatnya, volume cairan, termasuk darah, akan menurun yang mengakibatkan penurunan tekanan darah.  Itu mengapa orang yang terlalu banyak menghindari mengkonsumsi garam akan berpotensi mengalami tekanan darah rendah atau hipotensi.  Begitu pula sebaliknya, jika banyak mengkonsumsi garam maka akan berpotensi mengalami tenanan darah tinggi atau hipertensi.  Hal ini juga yang dijadikan terapi bagi mereka yang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi, yaitu harus mengurangi konsumsi garam.

Angka Kecukupan Gizi (2012) menyarankan konsumsi natrium 1500 mg per hari bagi orang dewasa (19-49 tahun).  Jumlah asupan ini perlu dikurangi dengan bertambahnya usia.  AKG (2012) menyarankan konsumsi natrium 1300 per hari bagi yang berusia 50-64 tahun dan 1200 mg per hari bagi yang berusia lebih dari 64 tahun.  Dengan demikian, tidak ada salahnya untuk memperhatikan konsumsi garam demi kesehatan kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: