Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Pengaruh Pola Makan terhadap Perkawinan

OPINI | 27 April 2013 | 17:18 Dibaca: 890   Komentar: 8   8

“Anda adalah apa yang Anda makan”

Ada penelitian menarik sehubungan pola makan dengan sistem perkawinan dan pohon keluarga. Para isteri yang dominan ternyata cenderung punya pola makan yang buruk; sedangkan isteri yang mandiri cenderung mempunyai pola makan yang jauh lebih baik.

Dalam keluarga yang intim dan punya keakraban tinggi, para isteri mempunyai pola makan yang lebih banyak mengandung protein, calsium, zat besi, dan vitamin A. Para suami yang datang dari keluarga penuh konflik, mempunyai kualitas pola makan yang lebih rendah.

Laporan umum tentang nutrisi dan kesehatan yang disampaikan oleh Departemen Layanan Kesehatan Umum di Amerika menunjukkan betapa besarnya dampak pola makan pada kesehatan.

Perhatikan data berikut ini:

Dari 2.1 juta orang Amerika yang meninggal dalam tahun 1987, hampir 1.5 juta di antaranya berkaitan dengan berbagai penyakit yang ada kaitannya dengan pola makan; seperti sakit jantung, stroke, diabetes, beberapa jenis kanker, dan penyakit yang terkait dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol.

Salah satu petunjuk pertama adanya kaitan antara pola makan dan keharmonisan perkawinan datang dari Jackson dan Lederer (1968). Peneliti yang juga penulis ini, mempelajari 278 pasangan menikah dari kelompok umur muda dan separuh-baya.

Dari dua kelompok ini, pernikahan yang bermasalah ternyata lebih rentan mengalami sindrom kelelahan-iritabilitas-perilaku irational.

Nampaknya ketidakseimbangan biologis bisa mendatangkan perilaku negatif dan irasional yang mengaburkan persepsi seseorang dan pada akhirnya mempengaruhi hubungan dalam pernikahannya.

Gejala umum yang dirasakan meliputi kelelahan, depresi, ledakan emosi, insomnia, sakit kepala, dan sensitif terhadap cahaya dan suara. Di kebanyakan pasangan, gejala ini lebih merupakan kondisi sub-klinis dan bukannya suatu keadaan di mana kesehatannya tiba-tiba memburuk dan terlihat jelas apa yang menjadi penyakitnya.

Lederer (1981) melaporkan bahwa jika penyebab biologis dari gejala-gejala ini disingkirkan, terapi pernikahan cenderung berjalan dengan jauh lebih baik. Dalam beberapa kasus malah hanya dibutuhkan sedikit terapi atau bahkan tidak sama sekali.

Lederer menyimpulkan bahwa ketidakseimbangan biokimia seperti kekurangan atau kelebihan nutrisi, sensitivitas terhadap makanan, dan berbagai toksin lingkungan turut menyumbang pada sindroma kelelahan-iritabilitas-perilaku irasional ini.

Statistik dari Lederer dan dua terapis klinis di bidang pernikahan terkenal lainnya, menunjukkan bahwa 50-90 % pasangan didiagnosa mempunyai masalah bio-kimia dan nutrisi yang biasanya memperburuk konflik pernikahan mereka.

Karena statistik ini mungkin berdasarkan atas pasangan-pasangan yang sengaja dipilih demi kepentingan terapis atau klinik yang bersangkutan dan ada kemungkinan sudah dipersiapkan mengenai faktor-faktor biologis semacam ini, maka diperlukan adanya penelitian serupa sebagai bahan pembanding.

Keluarga-keluarga dengan pola makan buruk mempunyai konflik yang lebih tinggi dibandingkan keluarga dengan pola makan yang baik/sehat. Pola-pola relasi yang disfungsional (tidak sehat) juga terkait dengan masalah perilaku makan.

Peneliti ini mencatat bahwa para isteri yang sangat bergantung atau sangat memegang kendali, cenderung punya pola makan yang buruk; sedangkan isteri yang mandiri cenderung mempunyai pola makan yang jauh lebih baik.

Dalam keluarga yang memiliki keakraban tinggi, para isteri mempunyai pola makan yang lebih banyak mengandung protein, calsium, zat besi, vitamin A dan riboflavin. Para suami yang datang dari keluarga penuh konflik, mempunyai kualitas diet/pola makan yang lebih rendah.

Bagaimana pola makan kita, selamat mengevaluasi

Semoga bermanfaat

Julianto Simanjuntak

Disarikan dari: Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy. Love Publishing Company, Colorado, 1991

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: