Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Herry B Sancoko

Hidup tak lebih dari kumpulan pengalaman-pengalaman yang membuat kita seperti kita saat ini. Yuk, kita selengkapnya

Diet Sehat dan Panjang Umur

REP | 26 April 2013 | 06:41 Dibaca: 506   Komentar: 0   0

Manusia berusia seabad punya sikap positif tentang hidup.  Sumber foto: http://resources0.news.com.au/images/2012/06/21/1226404/816188-mavis-seckold.jpg

Manusia berusia seabad punya sikap positif tentang hidup. Sumber foto: http://resources0.news.com.au/images/2012/06/21/1226404/816188-mavis-seckold.jpg

Aku mau hidup seribu tahun lagi, begitu bunyi puisi “Aku” oleh Chairil Anwar. Keinginan untuk hidup panjang adalah obsesi manusia sepanjang jaman.  Bahkan kalau mungkin bisa hidup selamanya.  Tapi nyatanya untuk hidup sehat saja demikian rumit, apalagi untuk hidup selamanya.

Di dunia ini hampir pasti tidak ada seorang manusia pun ingin sakit. Kalau bisa selalu berada dalam keadaan sehat. Cara menuju sehat yang pada beberapa dekade lalu dirasa sederhana, kini begitu banyak metoda dan jalannya karena meningkatnya kesadaran tentang kesehatan, majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran tentang nutrisi dan sebagainya.

Yang paling umum dilakukan dan sudah menjadi kecenderungan umum adalah melakukan diet makanan, mengatur pemasukan jumlah kalori dalam tubuh.  Dalam konsep sederhananya adalah mengontrol makanan yang hendak dimakan. Ada yang melakukan diet ketat dan ada yang ala kadarnya sesuai apa yang diperkirakan perlu dilakukan menurut pendapat pribadinya.

Kadang pendekatan lewat diet makanan ini dilakukan sepilah demi sepilah. Bila punya tekanan tinggi, diet makanan bergaram. Jika menderita diabetes, diet makanan bergula. Jika tekanan rendah, menambah konsumsi makanan yang dianggap bisa menaikkan tekanan darah.  Dan usaha-usaha lain.

Untuk saat ini, pengaturan menu makanan menjadi amat kompleks dan rumit. Aturan-aturan atau ukuran-ukuran makanan yang hendak dikonsumsi belum pernah mencapai pada titik sekompleks dan serumit ini sepanjang pengetahuan penulis. Lihat saja, betapa banyaknya kata-kata yang berhubungan dengan diet. Misalnya dietarian, dietary, dieter, dietetics, diet (nutrition), dieting, diet food, cuisine. Varian kata-kata yang punya arti khusus dalam hal perdietan. Bagi orang awam, pengertian tentang diet jadi begitu membingungkan.

Karena kompleksitas masalah pengaturan kalori makanan inilah, lahir begitu banyak ragam bisnis jasa yang menyediakan menu makanan sesuai dengan kalori yang dibutuhkan. Lahirlah kursus-kursus tentang diet, lahirlah cabang profesi baru yakni ahli bidang diet. Seolah masalah diet memerlukan pendekatan keilmuan tersendiri.

Acara menyantap makanan menjadi sebuah acara yang pelik, penuh aturan dan penuh ranjau. Dulu ibu-ibu sering jengkel jika anaknya sulit makan, tapi kini tanpa disadarinya sang ibu juga membuat jengkel orang lain.  Tidak saja anak kecil yang rewel bila tiba saatnya untuk makan, tapi manusia dewasa malah mengalahkan bayi rewelnya jika berkaitan dengan menu makanan. Acara menyantap makanan yang seharusnya memberi pengalaman  menyenangkan, kini malah jadi ajang adu argumentasi dan nasehat.

Pada saat budaya dan media massa populer berkembang secara global, ternyata sehat saja masih kurang. Karena perkembangan ilmu kedokteran, keadaan sehat saja tidak mencukupi, sudah dianggap hal umum dan lumrah. Manusia mencari sesuatu yang lebih ideal.  Selain sehat harus proporsional bentuk fisiknya. Manusia berusaha memahat tubuhnya sesuai dengan lekak-lekuk gambaran sebagai manusia ideal secara fisik.

Hidup dibawah rejim perdietan bisa menggiring manusia pada penderitaan yang sebelumnya jarang terdengar yakni anorexia. Suatu keadaan dimana tubuh menolak makanan sehingga penderita jadi kurus kering dan bisa mengakibatkan kematian.  Rejim perdietan telah membuat seseorang melakukan tindakan ekstrim dalam perdietan karena ketakutan tidak rasional menjadi gemuk atau karena didorong oleh persepsi yang salah tentang bentuk ideal fisik tubuh.

Pendekatan Holistik

Karena tubuh manusia adalah kesatuan holistik.  Jadi tujuan menjadi sehat harus ditinjau dengan melihat keadaan tubuh manusia yang holistik pula.

Pendekatan holistik ini jarang disadari banyak orang. Keinginan untuk menuju sehat sering didekati secara sepotong-sepotong. Sehingga menyebabkan usaha untuk sehat malah bikin pusing karena kompleksitas aturan, pantangan karena fakto-faktor nutrisi yang perlu diperhitungkan. Seolah setiap orang diharapkan untuk bisa menjadi dokter bagi dirinya sendiri.

Generasi beberapa dekade lalu tidak mempersoalkan tentang perhitungan kalori dalam hal makan.  Mereka belum punya pengetahuan atau kesadaran tentang ilmu nutrisi. Untuk bisa makan merupakan tujuan utama dan tidak memperhitungkan dengan pelik apa saja yang boleh atau tidak boleh dimakan.

Dunia makan menjadi sesuatu yang punya kadar filosofis.  Tidak hanya sekedar memasukkan makanan ke mulut. Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Mangan ora mangan asal kumpul. Itu sebagian saja ungkapan tentang makanan yang mengandung dasar filosofi. Bahkan roh nenek moyang pun diberi makan lewat sesaji.  Jenis-jenis makanan tertentu dinilai sakral.  Nasi kuning, nasi tumpeng, kupat, lepet, jenang sunsum, bubur merah, bubur putih, jenang sengkala dan sebagainya adalah sedikit contoh bahwa makanan punya arti, simbol dan kandungan filosofis tentang kehidupan.  Nenek moyang kita berusaha menghubungkan dunia makanan dengan dunia spiritualitas.  Antara dunia fisik dan dunia jiwa.

Selama ini ada dua kutub mindset tentang hidup yakni diet sehat dan umur panjang. Banyak orang terpaku pada mindset diet sehat dengan menjaga kebugaran jasmani lewat berbagai jalan.  Sesuatu yang bisa kita kontrol dan diukur.  Sementara kutub mindset hidup panjang adalah sesuatu yang tidak bisa manusia kontrol.  Panjang atau pendeknya umur manusia tergantung Sang Pencipta.  Pendekatan mindset hidup panjang dianggap sesuatu yang dianggap melawan kehendakNya. Maka ditekanlah mindset ini ke dalam bawah sadar. Dinomer duakan.  Dengan asumsi bahwa jika diet sehat dilakukan maka dengan sendirinya lebih menjamin akan berumur panjang. Perkara mati adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol.  Padahal dalam kenyataan tidak seluruhnya berlaku demikian.

Untuk itulah kita cenderung untuk menekankan pada satu sisi tentang diet sehat dengan menjaga kebugaran jasmani lewat diet atau kontrol kalori dan kegiatan fisik tapi melalaikan dunia rohani atau kejiwaannya.  Kontrol kalori dengan ketat jika membuat stress atau tanpa mengatasi hal-hal yang membuat hidup stress, maka manfaat kontrol kalori bisa jadi amat meragukan bila kita sadari bahwa pembunuh nomer satu manusia adalah stress.

Jika kita melakukan pendekatan lewat mindset umur panjang, punya kemungkin lebih besar untuk menjaga kesehatan kita lewat pendekatan holistik. Tidak hanya melalui pendekatan diet sehat, tapi juga menjaga ketenangan pikiran dan batin. Kita akan cenderung berusaha mencari keseimbangan antara dunia fisik dan dunia kejiwaan. Keselarasan dunia mikro dan makro.  Sebuah pengupayaan hidup sehat lewat kedalaman diri.


Pengalaman Orang Lain

Tubuh itu ibarat rumah. Tempat kita tinggal selama masih hidup.  Maka seharusnya kita merawat rumah satu-satunya tempat tinggal kita itu sebaik-baiknya agar awet dan selalu dalam kondisi prima.  Merawat rumah tidak saja dengan melakukan perawatan fisiknya tapi juga harus dilakukan dengan perasaan cinta dan sikap positif.

Hidup sehat dan umur panjang bagi banyak kalangan terutama pada masa kini merupakan bentuk usaha yang terus menerus lewat tindakan kesadaran logis dan sistematis yang bisa amat melelahkan, kompleks dan perlu dedikasi.  Namun bagi beberapa orang malah dianggap sebagai sesuatu yang begitu sederhana, alamiah dan bahkan sudah menyatu dengan pola hidup kesehariannya.  Sebuah mindset yang sudah terbentuk dalam pribadi.

Salah satu cara untuk menemukan jalan tengah jawaban atas dua pendapat tersebut adalah dengan bertanya pada pengalaman manusia-manusia yang telah secara nyata terbukti berhasil bertahan hidup panjang.

Dalam statistik penduduk Australia yang dilakukan pada tahun 2012, orang-orang yang berhasil mencapai umur seabad atau lebih saat diwawancarai tentang resep mereka bisa berumur demikian panjang, diperoleh kesimpulan karakteristik tentang mereka.

Professor Perminder Sachdev, the University of New South Wales, berhasil mewancarai ratusan orang yang berhasil bertahan hidup diatas umur 100 tahun berkesimpulan bahwa mereka punya karakteristik yakni punya sikap optimistik dan positif tentang hidup.

“They usually rate life satisfaction very high (Mereka biasanya merating angka kepuasan tentang hidupnya sangat tinggi),” kata Professor Perminder yang dimuat di koran The Daily Telegraph, 22 Juni 2012. (http://www.dailytelegraph.com.au/news/optimism-is-the-key-to-a-personal-century/story-e6freuy9-1226404815244)

Pengalaman para juara hidup panjang tersebut bisa didapat di Youtube dari berbagai negara semisal di Rusia berusia 121 tahun (https://www.youtube.com/watch?v=AV_Nd0SOBBU), Cina berusia 130 tahun (https://www.youtube.com/watch?v=2YoNeJ7shgI), Jepang berusia 88 tahun masih aktif bekerja di ladang (https://www.youtube.com/watch?v=to9rhIwWJg0) dan bagian dunia lain.

Secara umum pernyataan mereka tentang resep hidup panjangnya adalah adanya keseimbangan antara dunia fisik dan rohaninya sehingga dicapai kedamaian dalam hati dan pikiran mereka.  Di sinilah pendekatan holistik menemukan bukti konkritnya dan diucapkan sendiri oleh para pelakunya tanpa teori, ilmu nutrisi, pendidikan tentang hidup sehat atau hal-hal rumit lainnya yang kini dilakukan oleh banyak manusia modern.

Masalah hidup masa kini memang lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu. Tapi apakah kompleksitas tersebut karena keadaan atau sebenarnya kita sendiri ikut berperanan dalam menciptakan kerumitan tersebut. Ataukah sesuatu yang sebenarnya sederhana dan bisa diatasi dengan menggunakan sikap jiwa yang tepat dan merubah mindset kecenderungan umum?

Nenek penulis yang kini masih bertahan hidup dan berumur sekitar 90 tahunan, malah kalau ditanya resep bisa hidup panjang jawabannya sangat sederhana, “Jangan punya hutang”, begitu katanya.

Meski jawabannya terkesan sederhana, namun dalam pengamatan kehidupan sehari-hari nenek penulis adalah sangat teratur dan disiplin.  Setiap hari harus mengeluarkan keringat dan makan tidak terlalu banyak. Istirahat cukup dan berusaha untuk tidak bikin susah orang lain.

Banyak pekerjaan fisik dikerjakan sendiri. Mulai bersih-bersih rumah, masak, belanja, mencuci, kasih makan ayam peliharaan dan lain-lain. Beliau menikmati hidup secara mandiri.  Tetap melakukan acara-acara tradisi yang kini mulai banyak ditinggalkan oleh para tetangga. Misalnya bikin nasi tumpeng, bikin kupat, bikin jenang sengkolo dan lain-lain sesuai dengan waktu dan tradisi yang ada.

Dalam kehidupan modern, banyak orang tercabut dari nilai-nilai tradisi dan menemukan kekosongan hidup.  Jika seseorang telah kehilangan akar tradisi sebagai sumber pegangan dalam hidup, maka kemungkinan untuk menderita stress makin besar. Manusia banyak dikejar oleh beribu macam kebutuhan manusia modern jangka pendek yang seolah datang silih berganti tanpa henti.  Waktu yang terbatas menciptakan makanan cepat saji yang disinyalir sebagai faktor yang memperpendek hidup (https://www.youtube.com/watch?v=8teAABsnTmM).  Jika keadaan ini tidak disadari dan digunakan pendekatan holistik, maka dengan pasti - lambat atau cepat akan mempengaruhi kesehatan manusianya. Datanglah pembunuh utama manusia yakni penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan stroke.*** (HBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Matinya Filsafat, Matinya Kemanusiaan …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 8 jam lalu

Belajar Ungkapan (Idiom) Amerika - Part 7 …

Masykur | 8 jam lalu

Sempatkan Berwisata ke Sumatra Barat …

Nurul Falah Elyandr... | 8 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: