Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Irma Endro

Penulis, Ibu 3 anak

Snacks Invasion: Bahaya Jajanan Bagi Anak-anak Kita

REP | 09 June 2012 | 16:53 Dibaca: 719   Komentar: 1   0

Setiap kali saya ke warung kelontong dekat rumah, kaki-kaki kecil ketiga buah hati saya akan melompat-lompat riang. Mereka sangat menyukai ritual menemani saya berbelanja ke warung kecil milik tetangga. Pasalnya, meski kecil warung tersebut padat banyak jajanan ringan. Bak pelangi sehabis hujan, kemasan aneka jenis jajanan ringan untuk anak bergelantungan menarik mata dan memikat hati siapa saja yang datang. Anak mana yang tidak tergoda?

Kemarin ketika saya membeli telur ayam, saya perhatikan ada satu lagi jajanan pendatang baru di warung itu. Bentuknya tidak jauh-jauh dari semacam kudapan ringan yang rasanya gurih. Saya sendiri hampir selalu takjub dengan kemasan-kemasan jajanan seperti ini. Hampir semua kemasan jajanan berwarna terang mencolok. Ada juga jajanan yang kemasannya bergambar tokoh-tokoh dalam film animasi anak. Belum lagi aneka jenis minuman dalam kemasan gelas dan sachet. Padahal aneka jajanan itu dijual dengan harga tak lebih dari Rp 500 perbuahnya.

Biasanya kalau sudah begitu saya hanya mengijinkan anak-anak saya memilih satu jenis jajanan saja. Itupun dengan syarat dikemasannya tercantum kandungan bahan dan alamat lengkap produsen. Dan tidak setiap hari mereka diperbolehkan mendapatkannya. Namanya anak-anak, biasanya mereka tidak puas dengan pilihan saya, karena akhirnya jajanan yang dipilihkan tidak jauh-jauh dari biskuit. . Saat bertemu dengan ibu-ibu tetangga sekitar rumah, saya suka iseng survei kecil-kecilan mengenai pola jajan anak-anak mereka. Sekedar ingin tahu saja, seperti apa pola jajan anak-anak mereka . Hasilnya membuat saya terpana sekaligus miris. Hampir semua ibu yang saya tanyai mengaku punya anggaran khusus untuk jajan anak-anak mereka minimal Rp 10.000 perhari untuk tiap anak! Seorang ibu bahkan bercerita anak perempuannya yang berusia lima tahun setiap hari menghabiskan jajanan warung tidak kurang dari dua puluh lima atau tiga puluh ribu rupiah. Mulai dari permen karet, lollipop, minuman ringan dengan aneka rasa dalam gelas dan kudapan ringan yang rasanya gurih-gurih.

Masih penasaran saya tanya lagi alasan kenapa bisa sampai sebegitu besar anggaran jajan anak-anak mereka. Menurut para ibu mereka tidak mungkin melarang anak-anaknya jajan karena teman-teman sang anak hampir selalu jajan. “Kalau temannya punya makanan, masa saya tega lihat anak saya menangis tidak dibelikan?”. Padahal para ibu yang saya tanyai sesungguhnya bukan orang yang berlebihan secara materi. Mereka ibu-ibu buruh cuci harian, ibu rumah tangga yang suaminya tukang becak, pengumpul barang-barang bekas dan petani sayuran. Tidak jarang mereka mengaku pontang-panting menyiasati urusan perut akibat penghasilan harian mereka yang tak jarang dibawah tiga puluh ribu rupiah.

Saya jadi  teringat dengan Mbak Sri, mantan asisten rumah tangga saya. Ia nekat merantau karena penghasilannya di desa sebagai penjual jamu tidak cukup untuk menjajani dua buah hatinya. Apalagi suaminya bekerja serabutan sehingga penghasilannya tidak menentu. Saat pulang kampung, Mbak Sri memborong aneka jajanan termasuk keju kesukaan anak-anak saya untuk kedua anaknya. Maryati, pencuci pakaian di rumah ibu saya punya pengalaman buruk terkait pola jajan anaknya. Akibat terlalu sering minum minuman ringan dalam kemasan gelas yang harganya Rp 500, anaknya sampai dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Menurutnya, dokter mendiagnosa pencernaan dan ginjal anaknya terganggu akibat kandungan zat pengawet dan pewarna yang terkandung dalam minuman ringan yang dikonsumsi sang anak.

Seringkali, seperti yang diungkapkan para ibu, anak-anak mereka menjadi susah makan akibat kegemaran jajannya. Entah karena jajanan itu bagi anak-anak sudah mengenyangkan atau rasa gurih dan manis pada jajanan menghilangkan selera makan mereka pada masakan ibunya di rumah. Hilangnya nafsu makan anak tentu sangat berpengaruh pada asupan gizi yang seharusnya mereka dapatkan dalam masa tumbuh kembang. Hal ini juga hampir dipastikan mempengaruhi pertumbuhan tinggi dan berat badan mereka serta daya konsentrasi mereka dalam menyerap pelajaran. Sangat mungkin juga berpengaruh pada perkembangan otak. Belum lagi resiko-resiko penyakit pada pencernaan sebagai akibat sulit makan dan terlalu banyak makan makanan yang mengandung zat kimia.

Maryati, Mbak Sri dan banyak ibu sepertinya tersandera oleh tuntutan jajan anak-anak tercinta mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak menyadari akan bahaya besar yang mengancam anak-anak mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 3 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 4 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Ngapain Garuda Minta Maaf ke Ahmad Dhani? …

Ifani | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: