Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Marlistya Citraningrum

avid reader, enthusiastic writer, passionate traveler. uncredited pictures are personal collection. kindly respect the copyright.

Bedanya “Best Before” dan “Expiration Date”

REP | 20 April 2012 | 17:30 Dibaca: 3227   Komentar: 61   12

Pernah menemukan label “best before”, “use by” atau “expiration date” di berbagai macam produk? Apakah istilah-istilah itu semuanya memiliki arti yang sama?

Kalau headline kemarin membahas soal produk makanan kadaluarsa, maka ijinkan saya bercerita sedikit soal istilah-istilah yang tadi. Kebetulan dulu saya pernah mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan food engineering.

Pada dasarnya ada dua hal yang mendasari penentuan kapan makanan sebaiknya dikonsumsi: shelf-life dan expiration date. Shelf-life adalah rentang waktu suatu produk bisa disimpan sebelum mereka tidak layak dikonsumsi. Expiration date adalah tanggal yang diberikan untuk membatasi tingkat keamanan suatu produk. Mirip? Memang. Mudahnya, shelf-life berhubungan dengan kualitas produk (quality), sementara expiration date berhubungan dengan keamanan produk (safety). Untuk makanan misalnya, jika tanggal yang tertera adalah best before, artinya setelah tanggal yang tertera, makanan tersebut masih aman untuk dikonsumsi, hanya kualitasnya yang menurun. Sedangkan “use by” dan “expiration date” adalah batasan akhir makanan tersebut aman dikonsumsi atau tidak.

Shelf-life dan expiration date biasanya dimodelkan secara matematis dengan memasukkan berbagai faktor, misalnya suhu, jumlah mikrorganisme, kelembaban, dan lain sebagainya. Perhitungan yang didapat biasanya kemudian dikurangi lagi untuk memberikan garansi keamanan konsumen. Misalnya shelf-life yang dihitung adalah 7 hari, maka perhitungan tanggal akan dibuat 1 atau 2 hari lebih awal dari perhitungan.

Yang sering dilupakan konsumen ketika membeli suatu produk yang memiliki shelf-life atau expiration date adalah cara menyimpan produk tersebut. Satu kesalahan yang paling umum terjadi adalah kontrol suhu. Hampir semua reaksi kimia, termasuk degradasi bahan makanan dan perkembangan mikroba terjadi pada suhu normal (suhu ruangan). Ketika terjadi kenaikan suhu, kecepatan reaksi kimia ini akan meningkat (sama dengan makanan/produk tersebut menjadi ‘rusak’ lebih cepat). Aturan dasarnya: kenaikan suhu 10oC akan mempercepat reaksi dua kali lipat. Itu sebabnya banyak produk yang disarankan untuk disimpan dalam suhu di bawah suhu ruangan, di kulkas, atau bahkan dibekukan. Disimpan di kulkas pun kadang tidak banyak membantu, misalnya banyak yang menyimpan daging mentah di kulkas yang suhunya 4oC, padahal daging seharusnya disimpan dalam keadaan beku. Itu kenapa banyak yang protes, kenapa dagingnya sudah tidak enak dimakan padahal belum melampaui batas expiration date. Dan kenapa juga disarankan ketika belanja, ambillah produk beku/dingin di saat terakhir belanja, saat akan membayar, dan bukan di awal. Setelahnya, produk-produk beku/dingin tersebut juga harus segera disimpan di kulkas.

Kandungan air (moisture) juga berpengaruh pada shelf-life makanan. Kadar air yang tinggi akan menjadi faktor yang mendukung tumbuhnya mikroba. Aturan dasarnya: jika kandungan air bisa diturunkan 1%, shelf-life makanan akan naik dua kali lipat. Selain itu, metode vakum dalam pengemasan juga penting, dimana oksigen ‘dikeluarkan’ dari kemasan untuk membuat mikroba yang sebagian besar aerobik (menggunakan oksigen) tidak bisa hidup. Kebanyakan produk disarankan untuk disimpan di air-tight dan water-tight container untuk menghindari kerusakan.

Gabungan tiga faktor ini yang mungkin menyebabkan rotinya mas Rahardi kadaluarsa sebelum waktunya.

Intinya memang kita harus berhati-hati mengamati tanggal apa yang tertera di sana, dan juga cermat dalam menyimpannya. Banyak yang sering meletakkan belanjaan (terutama makanan) di mobil, padahal ketika mesin mati dan berada di bawah sinar matahari, suhu dalam mobil akan meningkat, dan ya, degradasi makanan akan menjadi lebih cepat.

Have a nice weekend :)

-Citra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 7 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 8 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: