
Suka nulis tapi gak tentu arah dan tanpa pengarah plus minatnya masih timbul tenggelam. Kadang sehari posting sampai 4 kali, kadang 4 bulan tidak sama sekali.
Dibaca: 799
Komentar: 31
5 dari 5 Kompasianer menilai aktual
Ilustrik/Admin (Shutterstock)
Kalau anda harus memilih antara ikan segar dengan ikan asin, mana yang akan anda pilih? Saya sangat optimis kalau anda akan memilih ikan segar. Selain rasanya lebih lezat, kandungan gizinya juga lebih baik daripada ikan asin, yaitu ikan yang diawetkan dengan proses penggaraman dan pengeringan.
Kalau kita bayangkan lebih jauh, proses pengeringan ikan juga umumnya banyak yang tidak higienis higienis dengan garam tanpa yodium sehingga sangat pantas jika kandungan gizi dan kesehatannya tidak sebaik ikan segar.
Jika kondisi ini kita tarik ke produk susu, maka susu segar sebenarnya jauh lebih baik kualitasnya dibanding dengan susu bubuk. Tapi sayangnya di kehidupan kita, penggunaan susu bubuk jauh lebih memasyarakat dibanding dengan susu segar tersebut.
Mengapa? Kita semua tahu bahwa susu bubuk adalah produk-produk impor, sementara susu segar adalah produk dalam negeri. Propaganda asing di bidang nutrisi inipun telah berhasil digenggam oleh kapitalis-kapitalis yang secara tak disadari telah mengendalikan perilaku konsumsi kita.
Tidak hanya itu, instansi teknis pemerintah, dokter-dokter dan lembaga kesehatan lainnya telah dicekoki persepsi kapitalis terhadap nutrisi yang sangat penting bagi tubuh manusia tersebut. Bahkan, penelitian yang membuktikan bahwa terdapat kandungan racun pada susu aking itupun tidak berani dipublikasikan dengan alasan ini dan itu.
Semua itu sebenarnya tak lepas dari intmidasi barat yang merupakan negara-negara produsen yang secara tidak disadari sedang membelenggu negara kita, seperti saya tulis di sini. Kita tidak sadar jika penjajahan ekonomi sedang berlangsung. Pemerintah mungkin lupa, Indonesia adalah negara agraris dengan padang rumput yang luas yang dapat membuat peternakan sapi perah secara besar-besaran yang dapat memasok kebutuhan susu segar dalam negeri.
Sebagai konsumen, kita selalu punya kesan bahwa susu segar yang beredar tidak murni lagi sehingga menghilangkan minat untuk membeli. Sebaliknya, kita sangat tergoda oleh iklan-iklan yang mengatakan bahwa susu bubuk merk ini dan itu mengandung tambahan gizi macam-macam untuk meningkatkan kecerdasan, kekebalan tubuh dan lain-lain sehingga pilihan selalu jatuh pada membeli susu bubuk.
Kini peternak sapi perah di Indonesia satu demi satu mengalami kebangkrutan karena ternyata susu segar kalah bersaing dengan susu bubuk. Mungkin saja para peternak itu masih bisa bertahan hidup, tapi masyarakat kita terus dibodohi untuk memilih susu aking yang jika diibaratkan dengan nasi adalah sebagai nasi aking, yaitu nasi sisa yang dikeringkan.
Taryadi, 1022012