Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Dinoto Indramayu

Setiap saat saya mencoba merangkai kata, beberapa diantaranya dihimpun di : www.segudang-cerita-tua.blogspot.com www.segudang-cerita.blogspot.com www.magister-manajemen.blogspot.com www.teluh.blogspot.com Sekarang, saya ingin mencoba merambah selengkapnya

Keong Racun (2)

OPINI | 23 September 2010 | 08:05 Dibaca: 854   Komentar: 1   0

Peluang Bisnis Fantastis

Para intelektual dari kampus turun mengajak menjemput peluang usaha yang sangat menguntungkan. Modal sedikit, cara pemeliharaan sangat mudah, pasar terjamin karena bukan hanya untuk pasar domestic tetapi juga ekspor. Budidaya keong racun!

Ilmu dari kampus yang berkolaborasi dengan jiwa kewirausahaan para pendidik menjadikan ilmu yang satu ini segera berubah menjadi sebuah komoditi dagangan yang laris manis. Buku-buku tentang keong racun pun terbit dan beroplah tinggi. Para instruktur pun kebagian limpahan rezeki, menyelenggarakan berbagai pelatihan teori dan praktek serta memompa motivasi peserta.

Keong racun alias bekicot dibudidayakan dimana-mana. Kepolpulerannya menggantikan kodok, belut dan lele yang lebih dahulu disosialisasikan sebagai tantangan bisnis dengan keuntungan fantastis. Keong racun telah meracuni masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat dengan cara yang tepat.

Walau pada akhirnya keong racun benar-benar meracuni para pembudidayanya yang tergoda para penggelora semangat. Pasar sama sekali buntu tak lagi sebagaimana dijanjikan sementara hasil budidaya berlumpah ruah. Dimanak sendiri? Jumlahnya sangat banyak dan yang peling penting, pada umumnya mereka pun belum pernah merasakan rasa keong racun yang sebenarnya!

Pembudidaya (maaf saya tidak menyebutnya sebagai peternak) keong racun pun pupus menyusul berbagai komodiiti penuh janji fantatis sebelumnya, kodok, belut dan lele.

Walau sampai sekarang banyak yang tetap bertahan membudidayakan keong racun, kebanyakan adalah mereka yang tinggal di wilayah yang sudah sedari dulu familiar dengan keong racun. Tanpa dibudidayakan sebagaimana keong sawah di masa kecil kami. Keong racun hidup alami diantara tumpukan sampah alami, menempel di pepohonan dan sebagainya.

Tahun sembilan puluhan, ketika usaha penuh keuntungan itu telah berhasil mati meracuni pembudidayanya, di Kediri dan sebagian daerah Jawa Timur masih dijumpai Keripik Bekicot dan olahan keong racun lainnya.

Keong racun adalah salah satu bisnis fantastis yang ditaarkan para motivator yang telah banyak meracuni pemodal sehingga mereka kehabisan modal dan usaha serta semangatnya mati. Tetapi tidak demikian dengan para motivator. Mereka semakin kreatif memberikan jalan keluar baru yang jauh lebih menjanjikan.

Tidak heran kemudian muncullah peluang membudidayakan cacing yang tidak kalah menghebohkan. Banyak para pemilik modal tiba-tiba tertarik bergelut dengan hewan yang menjijikkan itu. Lagi-lagi, mereka pun harus mati perlahan kena cacingan karena cacing yang berlimpah tak dapat dijual. Jangan berpikir seperti belut, keong racun atau kodok yang bisa dimakan kalau untuk hewan yang satu ini.

Tragedi keong racun pun terus berlanjut, banyak pensiunan BUMN menginvestasikan dana ratusan juta tunjangan masa depan hidupnya untuk berdingin-dingin dalam air bersama udang besar alias lobster. Berbagai pelatihan budidaya, tantangan bisnis dan motivasi diselenggarakan. Tidak lupa penjualan bibit berkualitas.

Para pensiunan muda (baru pension maksudnya) pun beralih profesi dari kegiatan rutin sebelumnya menjadi pembudidaya lobster. Mereka tekun menontrol suhu air, memberi makanan, dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi hewan air tawar kesayangannya.

Bahkan, diusianya yang senja, ketika libido sendiri relative berkurang. Mereka mesti menyaksikan pasangan lobster beradu kasih. Bahkan tenaganya sangat dibutuhkan dalam proses yang satu ini. Sebuah proses yang paling menjanjikan keuntungan berlimpah.

Tetapi, kegagalan dalam budidaya, ketidakberhasilan dalam pengawinan da kendala lainnya menyebabkan lobster-lobster tak berkembang. Bahkan sebagian besar mati karena bersamaan matinya semangat meraih keuntungan sang pembudidaya.

Aquarium, bak budidaya dan berbagai kelengkapannya menjadi saksi bisu lenyapnya ratusan juta rupiah pesangon perusahaan yang semestinya menjadi bekal menjalani kehidupan pasca bertugas. Sebagaimana hokum alam, uang hilang melayang tinggalah bayang-bayang keuntungan berlimpah yang tumpah di tengah jalan.

Berbagai gambaran keong racun dan peluang usaha yang diusaha-usahakan di atas kiranya menjadi bahan pertimbangan bagi para pemilik modal untuk berinvestasi. Merubah kebiasaan dari aktivitas rutin menjadi budidaya di bidang pertanian (tanaman, ternak, ikan, hewan, dll.) bukanlah proses yang mudah. Jangan mudah teracuni, seperti banyak orang sebelumnya mati rasa akibat mencoba meraih cara singkat menjadi kaya via budidaya keong racun.

Dan bagi para ahli, jangan tuangkan keahlian untuk keuntungan sesaat dengan men-sesatkan keilmuan kalian. Bagi orang berilmu selalu terbuka jalan rezeki yang barokah. Amien.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: