Back to Kompasiana
Artikel

Makanan

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Flatulence Alias…!

HL | 21 September 2010 | 07:09 Dibaca: 1081   Komentar: 28   7

pastry,bagel dan pretzel (ilust wikipedia.com)

pastry,bagel dan pretzel (ilust wikipedia.com)

Judul diatas sengaja tidak tuntas diselesaikan karena ’kurang etis’ untuk diucapkan. Flatulence adalah ’keluarnya gas dari bagian bawah saluran pencernaan baik dengan berbunyi maupun tanpa bunyi, baik berbau maupun tanpa bau’ dan dalam bahasa eufemisme disebut dengan ’buang angin’. Produk yang dihasilkan dinamakan flatus.

Flatulence adalah kondisi yang normal pada setiap manusia. Rata-rata setiap hari kita ’buang angin’ sebanyak 14 kali dengan kisaran 3 sampai 40 kali tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsi. Karbohidrat lebih sering menyebabkan flatus dibandingkan dengan lemak dan protein, namun makanan yang menyebabkan flatus pada seseorang bisa saja tidak menghasilkan flatus pada orang lain. Sebagian besar flatus tidak berbau dan apabila ’menghasilkan’ bau, ini diakibatkan dari gas hydrogen sulfide yang dihasilkan oleh ratusan bakteri yang normal terdapat di usus besar ( colon ).

Gas yang terjadi pada saluran cerna kita bersumber dari dua unsur. Unsur yang pertama adalah gas yang tertelan pada waktu kita makan dan minum. Jumlah gas yang tertelan bisa meningkat jumlahnya bila kita makan dan minum terburu-buru, mengulum permen karet ( chewing gum ), merokok dan menggunakan gigi palsu ( denture ) yang longgar. Bersendawa ( belching dan burping ) adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan gas. Gas yang masih terperangkap akan melanjutkan perjalanan ke usus kecil selanjutnya terkumpul di usus besar.

Unsur kedua timbulnya gas adalah dari makanan yang tidak dapat dicernakan oleh enzym yang ada dalam saluran pencernaan kita. Makanan yang tidak berhasil dicernakan ini sesampainya di usus besar akan mengalami proses penguraian oleh bakteri yang secara normal ada di usus besar dan menghasilkan gas hidrogen sulfida, karbon dioksida dan methane (CH4). Menurut penelitian hanya sepertiga dari manusia menghasilkan gas methane ini dan ’ciri’ khas dari tinja ( stool ) nya akan mengambang di air karena gas methane yang terjebak dalam tinja membuatnya lebih ringan dari air.

Flatulence tidak dapat dihilangkan sama sekali namun dapat kita kurangi dengan menghindari jenis-jenis makanan yang menyebabkan terbentuknya gas di dalam saluran cerna kita. Jenis-jenis makanan itu antara lain :

  • broccoli, brussels sprouts (sejenis kol mini)
  • asparagus, cauliflower (kembang kol), radish (lobak), eggplant (terong)
  • pisang, apricot, raisins (kismis), turnip ( sejenis lobak), timun ( cucumber )
  • bawang putih ( garlic ), bawang perai ( leek )
  • segala jenis kacang-kacangan ( legumes ) terutama kacang yang dikeringkan atau ‘digoreng’ karena kandungan karbohidratnya jauh lebih banyak daripada jenis makanan yang lain sehingga dia masuk golongan penghasil gas ‘kelas wahid’ ( very gassy ).
  • gula rafinasi, karena manusia tidak memiliki enzym alpha galactosidase untuk mengurai gula ini sehingga dia terkumpul di usus besar dan menghasilkan gas.
  • Gula fruktosa, yang banyak terdapat pada bawang bombai (onion ), artichoke , buah pir (pear) dan gandum ( wheat ).
  • Gula laktosa yang banyak terdapat pada susu, keju, ice cream , roti, cereal dan salad dan hampir semuanya termasuk ‘kelas berat’ ( very gassy ).
  • Gula sorbitol (yang juga tidak mampu dicerna), terdapat secara alami pada buah-buahan seperti apel, pir ( pear ), peach, prune dan lainnya serta dipakai juga sebagai pemanis buatan pada makanan nirgula ( sugar-free ) dan kembang gula.
  • Semua jenis ‘terigu’ termasuk kentang, gandum, mie ( noodle ) dan segala kue berbahan terigu seperti pastry, bagel, pretzel.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 11 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 14 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah Untuk …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Usul Mengatasi Kemacetan ” Kiss and …

Isk_harun | 8 jam lalu

Kakek Moyangku Seorang Pelaut …

Sunu Purnama | 9 jam lalu

Harga Mahasiswa …

Muhammad Nur Ichsan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: