Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Hariyanto Imadha

A.Alumni: 1.Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti Jakarta 2.Akademi Bahasa Asing "Jakarta" 3.Fakultas Sastra, Universitas Indonesia,Jakarta. B.Pernah kuliah di: 1.Fakultas Hukum Extension,UI 2.Fakultas MIPA,Universitas selengkapnya

Psikologi: Hedonisme dan Tumpulnya Hati Nurani

OPINI | 25 September 2013 | 07:59 Dibaca: 369   Komentar: 0   0

BANYAK orang belum mengetahui bahwa sikap hidup hedonistis bisa menyebabkan tum[pulnya hati nurani. Misalnya, anggota DPR yang ingin hidup bermewah-mewah, meronovasi WC, ruang banggar dan lain-lain dengan bahan-bahan yang mewah atau menteri-menteri yang menggunakan mobil yang mewah atau presiden yang naik pesawat kepresidenan yang mewah, bisa mengakibatkan hati nuraninya kurang peka terhadapnasib rakyatnya yang menderita.

Apakah hedonisme itu?
Hedonisme merupakan gaya hidup bermewah-mewah dan bersenang-senang. Semuanya ingin serba indah, serba mewah dan serba mudah. Biasanya mereka punya motto bahwa hidup hanya sekali jadi harus diisi dengan kesenangan-kesenangan duniawi.

Apa sebab munculnya hedonisme?
Salah satu sebab yaitu banyak barang konsumtif yang diimpor akan menimbulkan adanya ekses materialisme di mana ukuran kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya dan mahalnya barang-barang dan uang yang dimiliki. Semakin banyak rumahnya, semakin mewah rumahnya, semakin banyak mobilnya, semakin mewah mobinya, maka dia akan merasa dan dianggap sukses oleh masyarakatnya. Apakah semuanya diperoleh dari hasil korupsi atau lainnya, itu urusan lain.

Apakah hati nurani itu?
Ada yang mengatakan bahwa hati nurani adalah keseimbangan antara rasio dan emosi atau perasaan yang berproses secara cepat dan secara benar sehingga bisa mengambil keputusan yang benar.

Apa maksud hati nurani yang tumpul?
Hati nurani tumpul yaitu tidak adanya keseimbangan antara rasio dan emosi atau perasaan. Perasaan ingin senang atau hedonisme lebih berat dan rasio lebih ringan mengakibatkan rasio tak bisa berproses secara benar.

Kurang peka terhadap rakyat
Apabila hedonisme melanda para pemimpin dan para wakil rakyat, maka bisa dipastikan mereka kurang peka terhadap penderitaan rakyat, terutama rakyat yang menderita. Semua perhatian kepada rakyat diselesaikan secara gampangan saja.

Bagaimana bentuk kebijakan gampangan?
Karena sudah terbuai dengan kekayaan dan kemewahan materi, maka kebijakan terhadap rakyat diambil secara gampangan saja. Kurang garam, ompor. Kurang bawang merah, impor. Kurang gula, impor. Kurang BBM, impor. Kurang apa saja diselesaikan dengan cara impo. Rasionya tak mampu bekerja optimal. Tak tahu lagi bagaimana cara mengatasi semua masalah itu secara optimal dan mandiri. Tak tahu lagi bagaimana caranya supaya produksi garam bisa dihasilkan negeri sendiri. Kehidupannya sudah terbelenggu kesenangan dan kemewahan.

Hidup mewah tidak dilarang
Sebenarnya, hidup mewah tidak dilarang agama. bahkan pemerintah juga tidak dilarang. namun yang harus diperhatikan adalah, hidup mewah harus disertai hati nurani dan kepekaan sosial.

Kepekaan sosial yang bagaimana?
Tiap orang berhak kaya dan hidup mewah, namun harus diimbangi dengan kepekaan sosial. Antara lain rajin melakukan ataupun memberikan infaq, sodaqoh, zakat dan semacamnya. Wajib memperhatikan orang lain terutama orang miskin yang membutuhkan pertolongan. Harus punya rasa saling tolong menolong.

Tidak semua orang kaya dan hidup bermewah-mewah tidak punya hati nurani.

Ada juga yang kaya, hidup mewah, tidak berlebihan tetapi suka beramal. Sayang, orang yang demikian jumlahnya sedikit.

Pemimpin dan wakil rakyat yang hidup hedonisme
Apakah para pemimpin dan para wakil rakyat kita yang cenderung hedonisme masih punya hati nurani atau tidak, rakyat atau masyarakat pasti bisa melihat dan menilainya sendiri.

Semoga bermanfaat.

Catatan:
Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 05:49

Seandainya Semalam Ada Taufik Kiemas …

Hendi Setiawan | | 02 October 2014 | 07:27

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 2 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 2 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 3 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 5 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 6 jam lalu


HIGHLIGHT

Wisata Rohani di tepi Rawa Pening …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pasukan Kecil yang Lugu …

Muhamad Adib | 8 jam lalu

Bu Mega Temuilah SBY! …

Apriliana Limbong | 8 jam lalu

Oktober 49 tahun lalu …

Pras | 8 jam lalu

Selamat Hari Batik Nasional …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: