Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Ukhti Aulia Rakhmah

an ordinary person that wants to be extraordinary person :)

Dul… Seorang Remaja…

OPINI | 08 September 2013 | 22:58 Dibaca: 376   Komentar: 0   2

Membaca berita-berita tentang Ahmad Abdul Qodir Jaelani yang akrab dipanggil dengan sapaan “Dul” anak pemusik Ahmad Dhani dari isteri Maia Estianty ternyata yang masih berumur 13 tahun. Saya baru tahu. Memang benar,,, untuk urusan artis2,,, tingkat keingintahuan saya kecil. Karena ini menyangkut berita kecelakaan,,,bukan selebritas semata,,makanya saya bisa mengklik berita-berita tersebut.

Banyak sekali komentar-komentar negatif melayang kepada si Dul (bukan si Doel anak Sekolahan). Juga kepada Ahmad Dhani sang ayah yang tinggal satu rumah dengan nya. Berita bahwa ia baru saja mengantar pacarnya ke pulang ke Bogor juga asyik dibahas di kompasiana. Katanya,, anak 13 tahun koq udah pacaran,, dulu waktu saya usia segitu (13th_red) memandang cewe aja belum berani,,,ini udah nganter pulang  ke Bogor pula. Wah…. bukannya saya mau membela Dul yah…atau membenarkan kalau pacaran untuk anak umur 13 tahun…bukan. Saya ingin mengingatkan tentang tahap perkembangan remaja.

Segagai calon perawat,,,maka saya harus memandangnya dari semua hal… secara holistik bahasa kromo inggilnya… #eh

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence yang artinya tumbuh menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Menurut Al-Mighwar (2006) bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap .

Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa :
a. Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran–heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap “ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.
b. Remaja Madya (Middle Adolescence)
Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senag kalau banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau meterialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.
c. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini. 1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. 2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. 3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi. 4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain. 5) Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

Nah si Ahmad Abdul Qodir Jaelani ini… masuk golongan remaja…

Tapi si Babe dan emaknya harus berperan dalam masa remajanya itu,,harus paham psikologis remaja…

Biar jati diri yang dibentuk si anak pada masa remaja ini tidak salah dan berakibat buruk pada masa dewasanya nanti…

Orang tua harus memahami juga tahap perkembangan remaja saat ini… :)

So… Let’s be smart parents… :)

klik juga

http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2013/05/24/kesehatan-reproduksi-558736.html

baca juga tulisan saya di

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 6 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: