Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Mustiko Warih

Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Angkatan 2010

Jenuh

OPINI | 15 June 2013 | 23:29 Dibaca: 448   Komentar: 2   3

Saat keadaan sudah begitu mendesak, menuntut, menekan,  kita akan tiba pada sebuah titik dimana kita tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali diam dan mencaci keadaan. Saat kita mulai bosan dengan semua aktivitas yang dilakukan berulang-ulang namun tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Kondisi ini pasti pernah atau bahkan sering dialami oleh setiap orang, yaitu sebuah kondisi yang sering kita sebut sebagai kondisi “jenuh”.

Jenuh akan datang jika kita terlalu terburu-buru untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru akan membuat pekerjaan menjadi semakin rumit, tidak seimbang dan tidak tertata sehingga kita akan merasa malas untuk melanjutkannya lagi. Maka pesan Rasulullah SAW adalah istiqomah. Yang paling penting adalah kontinuitas, kita hanya diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang ringan namun kontinyu. Bukan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar tapi tidak konsisten.

Jenuh pada dasarnya adalah saat kita disorientasi dengan tujuan kita, pada awalnya kita semangat karena tujuan kita jelas dan seakan sudah didepan mata, tapi ketika sudah berjalan beberapa waktu, bayangan tentang cita-cita itu semakin pudar sehingga tidak jelas untuk apa sebenarnya segala hal yang kita usahakan sekarang. Jika sudah tiba pada titik itu, yang perlu kita lakukan adalah berhenti sejenak dan memperbaiki niat. Menata kembali semua pekerjaan dan mengusap bayangan cita-cita yang sudah pudar sehingga semakin jelas.

Jenuh adalah kewajaran. Jika kita sudah mencapai sebuah titik jenuh, kita akan dihadapkan pada 3 pilihan, yaitu terus naik, stagnan atau turun. Idealnya kita harus memilih opsi pertama, yaitu terus naik. Ketika kita memilih untuk terus naik maka kita harus menganggap bahwa kejenuhan itu tidak ada. Dari sini, muncullah konsep sabar. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh seberapa banyak masalah yang bisa ia selesaikan, tapi seberapa lama ia bisa bertahan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Waktu adalah proses terapi. Sabar adalah obat paling pahit, namun sangat manjur untuk menyembuhkan segala penyakit jiwa.

Ketika kita jenuh, sebenarnya Allah sedang menguji kita, mampukah kita bertahan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Apa yang bisa kita lakukan? Majulah, majulah dan tinggalkan jenuh itu, jika ia mulai mengejar kembali, teruslah berjalan kedepan hingga jenuh itu jenuh mengikuti kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 9 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 10 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 11 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: