Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Maila Al-ja'fari

Hanya setitik upil pada luasnya jagad raya

Anak Asperger Syndrom, Bisa Jadi Cikal Bakal ‘Einstein’

OPINI | 10 May 2013 | 10:14 Dibaca: 1325   Komentar: 7   1

Anak adalah sebuah keajaiban hidup bagi para orang tua. Mereka untuk seterusnya menjadi denyut nadi kehidupan bagi bapak dan ibunya. Senyum seorang anak, adalah kebahagian orangtua, sedangkan tangisnya menjadi keresahan orang tua pula. Bahkan ‘Anak Polah Bapa Kepradah’: Kebandelan anak-anak pun kerap orang tua yang menanggung akibatnya. Betapa anak adalah sebuah anugrah tiada tara, kekayaan dunia tak ternilai bagi para orag tua. Lalu ketika anak sakit, orang tualah yang lebih merasakan kesakitan itu. Pun sama halnya ketika anak dinyatakan mengidap Asperger Syndrom, banyak orang tua yang merasa dunianya runtuh. Padahal seharusnya bukan sesal dan pertanyaan, seribu pertanyaan yang dibutuhkan anak, tapi tanggapnya orang tua untuk lebih mengenal anaknya melalui banyak pendekatan, termasuk mengetahui apa itu Asperger Syndrom?

Asperger Syndrom dan High Function Autism (HFA)–autisme tingkat tinggi menurut Dr. Tony Attwood pada prakata dalam buku “Navigating the Social World (dikutip dalam McAfee 2001) yaitu dua istilah yang secara umum digunakan untuk yang berhubungan dengan autisme dengan fungsi tinggi, pervasif, gangguan perkembangan sistem syaraf otak yang mempengaruhi sejumlah kemampuan. Yang meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin dan mempertahankan pertemanan, melakukan interaksi sosial sehari-hari dan menghadapi perubahan. Orang-orang dengan gangguan tersebut berciri-ciri memiliki tingkah laku yang senang melakukan pengulangan dan sangat terserap atau tertarik dengan hal-hal yang tidak biasa dengan suatu subjek. Juga, mereka sering memiliki masalah dengan pemikiran abstrak, motorik dan keterampilan berkoordinasi, dan mengenali serta menirukan dengan emosi. Banyak dari mereka mengalami penyumbatan dengan ciri sangat sensitif dengan sentuhan panca indera (misalnya tidak merasa nyaman atau bahkan memberikan respon kesakitan terhadap suara-suara keseharian, cahaya, sentuhan, bau, rasa dan tekstur tertentu dari makanan). [“ Asperger Syndrome and high functioning autism are two terms that commonly are used to refer to higher-fuctioning autism, a pervasive, neurodevelomental disorder of the brain that affects a number of abilities. These include the abilities to communicate, make and keeps friends, carry out everyday social interactions, and deal with change. People with these disorder typically have repetitive behaviours and intense or unusual interests in certain subjects. Also, they often have problems with abstract thinking, motor and coordination skills, and recognizing and coping with emotions. Many are plagued with typical sensitivity to sensory input (i.e. uncomfortable or even painful responses to everyday sounds, lighting, touch, smells, tastes, or textures of certain foods)” ].

Lorna Wing ( Burgoine dan Wing 1983) menguraikan ciri-ciri klinis Asperger Syndrome sebagai:
- empati rendah
- interaksi satu arah
- kemampuan membangun persahabatan kecil atau tidak ada.
- pedantik (latah), suka mengulang-ngulang pengucapan (ekolalia)
- komunikasi non-verbal buru
- sangat terserap terhadap objek tertentu
- gerakan canggung dan kurang koordinasi serta sikap tubuh ganjil.
Secara umum, pada 1990-an Asperger Syndrome dianggap sebagai varian dari autism dan sebuah kelainan perkembangan penyerapan; yaitu kondisi yang mempengaruhi perkembangan berbagai kemampuan. Kini syndrome ini dianggap sebagai sebuah cabang di dalam spektrum autisme dan memiliki kriteria diagnostik tersendiri. Kini juga sudah ada data yang menunjukkan bahwa gejala ini lebih umum dari sekedar autisme klasik dan bisa terdianosa pada anak yang belum pernah dianggap autistik (Attwood, 2007:17).

Lorna Wing adalah orang pertama yang menggunakan istilah Asperger Syndrome di sebuah paper pada 1981. Ia merujuk ke sekelompok anak dan orang dewasa yang memiliki ciri-ciri sangat mirip denga profil kemampuan dan prilaku yang pertama kali diungkap oleh seorang dokter anak dari Wina, Hans Asperger, dalam thesis doktoralnya di tahun 1944 yang digambarkan sebagai prilaku seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang normal hingga di atas rata-rata tetapi juga berprilaku seperti penderita autis terutama dalam hal interkasi sosial dan komunikasi. (Attwood 2007:16).

Siapa yang tidak mengenal Albert Einstein, Bill Gates, Isac Newton? Mereka dan ada lagi beberapa manusia terkenal lainnya diduga setelah melalui penelitian terhadap sejarah hidup masing-masing, ternyata mengidap Asperger Syndrom.

Penanganan Anak Asperger Syndrom di Jerman

Ketika pertama kali menapak kaki di Jerman pada awal 2007, anak sulung saya baru saja berusia satu tahun setengah. Menuruti aturan yang berlaku, maka anak-anak saya harus menajalani pemeriksaan dokter dari mulai kesehatan, hingga kelengkapan imunisasi. Tak dinyana, dokter anak mencurigai ada suatu ‘ketidak-wajaran’ terhadap anak sulung saya. Sebenarnya, awal sekali, saya sempat merasakan anak saya berbeda dari anak seusia dia pada umumnya. Tapi saya menepis saja pikiran itu, dan menganggap itu adalah keunikannya. Maka dokter anak merujuk kepada sebuah klinik di Offenbach–daerah Hessen, khusus bagian ‘Sozialpädiatrisches Zentrum’ (pusat sosial-pediatri).

Dengan rasa penasaran yang sangat dalam, saya sangat bersemangat sekali mendatangi klinik yang ternyata lumayan luas. Di situ saya bertemu dengan beberapa orang ahli yaitu Sosial-pedagogik, phsikiater anak dan dokter anak. Hal yang mereka pelajari adalah sejarah anak saya, lalu tingkah lakunya selama berinteraksi dengan saya, selain mereka mengamati sekaligus mencatat selama dia bermain atau ketika mereka mengajaknya kepada suatu permainan.

Ternyata tidak begitu saja mereka bisa memutuskan diagnosa. Perlu penelitian lebih lanjut. Salah satunya melalui uji ADOS (The Autism Diagnostic Observation Schedule). Tentu sebelumnya, saya juga diminta untuk memiliki keterangan selain dari dokter anak yang pertama menanganinya, juga dari dokter mata, dan dokter THT. Berdasarkan pemeriksaan dari dokter THT, anak saya tidak memiliki gangguang pada telinga, dan pita suaranya. Namun memang ternyata anak saya mengalami gangguan pada matanya yaitu grüner star atau glaukoma namun belum pada tahap riskan.

Begitulah, dilakukan pemeriksanaan terhadap anak saya. Sampai akhirnya, setelah diadakan uji ADOS, para ahli anak meyakini kalau anak saya menderita Asperger Syndrom. Untuk meningkatkan kemampuan motoriknya, ada beberapa hal yang harus dilatih ke psikomotorik. Hasilnya memang bisa saya katakan, menakjubkan. Dan terlebih, saya sangat bersyukur, karena semuanya sudah masuk ke dalam tanggungan ansuransi kesehatan.

Ketika anak saya sudah waktunya mengikuti wajib belajar di sekolah, pemerintah setempat terutama pihak pendidikan, sangat memberikan perhatian dan mengambil beberapa langkah kemungkinan yang terbaik buat anak saya. Beberapa diantaranya: Apakah harusnya anak saya mengikuti sekolah khusus bagi anak autis namun jaraknya 60 km dari tempat saya tinggal? Atau mengikuti sekolah luar biasa yang juga ada di kota tempat saya tinggal? Namun kecerdasan anak saya normal bahkan di atas rata-rata. Lalu diputuskan, anak saya masuk ke sekolah biasa dan bergabung ke dalam kelas seperti anak lainnya, namun untuknya dan tiga orang temannya yang juga merupakan anak istimewa diberi tambahan seorang guru khusus–seorang guru dengan latar belakang selain pedagogik juga psikologi anak, terutama membidangi masalah anak-anak autis.

Syukur saat ini dia telah duduk di bangku kelas dua, dengan nilai yang selalu membuat saya tersenyum. Terutama dalam bidang mate-matika, saya malah merasa dia lebih jago dari saya. Sewaktu baru masuk sekolah dulu, dia suka ngeyel kalau saya suruh ngitung menggunakan alat bantu hitung. Dia lebih suka menggunakan otaknya langsung. Sekarang saya perhatikan, tiap kali dia mengerjakan soal mate-matika, seperti tidak jeda. Semua diselesaikan dengan cepat. Padahal dulu, banyak sekali kawan-kawan saya bahkan tetangga, yang tidak percaya kalau anak saya bisa mengikuti pelajaran di sekolah biasa. Buktinya, dia hampri tidak ada kendala dalam mengikuti pelajaran. Bahkan seringkali dia membuat kejutan ‘bagus’ kepada gurunya. Di awal sekolah sekalipun dia, termasuk anak yang cepat dalam membaca. Namun tetap saja sampai saat ini, berkomunikasi dengan banyak kawan sebaya adalah hal yang sulit buatnya. Seringkali diungkapkannya, kalau anak-anak di kelasnya nakal-nakal.

Ada hal yang membuat saya sangat bahagia kemarin. Bukan karena prestasinya di sekolah yang sudah jadi hal biasa buat saya. Tapi kemarin adalah pertama kalinya, dia mendapat udangan pesta ulang tahun dari seorang kawannya. Tentu saya sangat terkejut sekali. Berbeda dengan adiknya, yang saat ini masih di TK saja, sudah ratusan kali dapat undangan pesta ulang tahun. Ini bisa jadi alasan buat saya membujuknya, tahun ini saat hari ulang tahunnya, harusnya dia juga mengundang beberapa sahabatnya.

Anak saya itu memang berbeda, tapi bukankah setiap individu itu unik? Tidak ada yang salah menjadi berbeda. Walau pun kadang, saya ingin sekali memahami dunianya, bahkan mencoba masuk ke dalam alam pikirnya. Betapa hal-hal yang dianggapnya asyik itu, terkadang masih menjadi kegelisahan saya. Termasuk kegilaannya pada komputer. Dan kami sering bertengkar, karena larangan saya justru karena sayangnya saya kepadanya. Hal yang membuatnya sering meradang. Tapi saya yakin, ada saatnya dia mengerti dengan sendirinya larangan-larangan saya itu.

Penderita Autis Dilatih Sebagai Ahli IT di Jerman

Beberapa perusahaan di Jerman sudah menyadari peluang untuk memanfaatkan para penyandang Aspsger Syndrom di bidang tenaga kerja. Karena mereka dianggap memiliki kemampuan luar biasa di bidang teknologi, sebuah perusahaan konsultan di Berlin yaitu Auticon, justru merekrut para anak muda yang mengidap asperger syndrome namun memiliki bakat di bidang teknologi.

Menurut Pendiri Auticon, Dirk Müller-Remus, ”banyak orang dengan sindrom Asperger andal dalam manajemen kualitas karena cara berpikir mereka yang terstruktur, analitis dan logis, untuk memenuhi tingginya permintaan terhadap penguji coba peranti lunak, Auticon khusus melatih penderita Asperger dalam bidang ini.” (Deutsch Welle, rubrik IPTEK, 07.12.2012 ).

Jadi bila anda memiliki anak spesial seperti penyandang Asperger Syndrom, jangan pernah bereaksi negatif, walaupun lingkungan anda menekan dengan banyaknya pendapat. Terkadang perlu juga mengadopsi, ”biarkan anjing menggongong, kafilah berlalu.” Yang penting dengarkan kata para ahli dan tetap berikan cinta dan parhatian kepada anak-anak kita. Boleh juga menggantungkan harapan, siapa tahu anak itu menjadi ‘Einstein’ kelak.

*N:Referensi dari berbagai sumber.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Bukti Handphone Mahal itu Nggak Awet …

Ervipi | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 30) …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Indonesia Itu Pluralis Bukan Agamis …

Abdul Haris | 8 jam lalu

Rahasia Tulisan Jadi Headline …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Mengapa Jokowi Minta Pertimbangan KPK? …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: