Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Syaiful Radya

Saya seorang Ghost Writer, menekuni berbagai riset psikologi Klinis, Sosial, Politik dan Budaya.

Maraknya Siswa-siswa yang Melacur

REP | 05 May 2013 | 11:54 Dibaca: 1857   Komentar: 5   1

Prostitusi anak-anak terutama pelajar merupakan masalah kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dunia karena dampaknya terhadap pertumbuhan anak-anak. Anak-anak yang dijadikan pelacur rentan terhadap hinaan, eksploitasi, penipuan dan marjinalisasi, dan banyak di antara mereka yang tidak dapat menikmati hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak serta tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar untuk berkembang secara sehat (Paiva, Ayres, and França, 2004). Demikian juga di Indonesia, menurut hasil penelitian Mutiara, Komariah, dan Karwati (2009), bahwa pemerintah telah mengesahkan UU perlindungan perempuan dan anak dengan memberikan dukungan pada masyarakat untuk terlibat dalam pengawasan berkaitan dengan perdagangan manusia termasuk perdagangan anak dan prostitusi  anak-anak. Namun sayangnya jumlah anak-anak yang terlibat dalam kegiatan prostitusi  tidak berkurang; bahkan cenderung meningkat seiring dengan perkembangan industri seks yang pesat di negeri ini.

Permintaan pelayanan seksual dengan objek seks anak-anak di bawah umur terus meningkat setiap tahunnya. Menurut penelitian Djuwita (2008) dan Suyatna (2010) kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya beberapa mitos, bahwa melakukan hubungan seksual dengan anak-anak menambah kebugaran, vitalitas dan awet muda bagi pria, sehingga kasus prostitusi dan trafiking mengalami peningkatan pesat, demikian pula yang terjadi di indonesia.

Praktek-praktek  eksploitasi seksual anak yang kerap kali dijumpai di Indonesia adalah prostitusi  anak. Anak-anak yang dijadikan objek seks ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menurut laporan UNICEF tahun 2010, jumlahnya mencapai 70.000 orang anak. ECPAT Indonesia tahun 2011 memperkirakan jumlahnya lebih dari 100.000 orang anak. Selanjutnya di Jawa Timur, berdasarkan data lapangan yang berhasil dikumpulkan, daerah yang ditengarai sebagai pemasok prostitusi, adalah daerah, di antaranya Kabupaten Ponorogo, Banyuwangi, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Jombang, Blitar, Malang, Nganjuk, Sampang, Bangkalan, Jember, Situbondo dan Surabaya (Suyatna, 2010).

Rendahnya pengawasan dan berkurangnya perhatian orangtua maupun guru di sekolah dapat dikatakan menjadi bagian dari penyimpangan perilaku anti sosial, sebagaimana perilaku seks yang dilakukan siswa sekolah pelajar SMP dalam ruang kelas sebagaimana gambar berikut.

Hasil penelitian Yulia (2008) menjelaskan bahwa pada tahun 2002-2006 di Indonesia pekerja seks komersial, dari 500 ribu PSK 30% adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Kemudian ditinjau dari latar belakang anak-anak pekerja seks tersebut, menurut data-data yang diperoleh Djuwita (2008) bahwa sebagian besar pekerja seks anak-anak adalah perempuan jalanan yang sehari-harinya menganggur, pengamen jalanan, dan pedagang asongan atau koran di traffic light yang dapat dijumpai di Malang, Surabaya, dan beberapa kota lain di Jawa Timur. Jumlah tersebut terus meningkat, yang menurut hasil survey Yayasan Dian Nanda Nusantara (2012), bahwa dalam satu tahun di Kalbar telah menangani 251 kasus, dan jumlah tersebut 14% lebih tinggi dibanding jumlah kasus pada tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa laporan dari LSM perlindungan anak dan UNICEF, sebagaimana dijelaskan Suyatno (2012) bahwa ratusan ribu anak Indonesia setiap tahunnya  dijebak dalam bisnis seksual. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Willis dan Levy (2002) bahwa Indonesia menempati urutan ke-8 untuk kasus eksploitasi sesksual anak-anak. Anak-anak yang dilacurkan sudah kehilangan motivasi untuk bisa menjalankan hari-hari yang indah, kehilangan orientasi dan cita-cita, mengalami stress berkepanjangan, dan bahkan depresi yang pada akhirnya mereka merasa pasrah dan menerima kehidupan mereka berada di dunia prostitusi. Selain itu fakor ekonomi dan ketertekanan atau di bawah kendali dan paksaan dari pihak tertentu, misalkan suami atau orangtuanya menjadi bagian dari motif perdagangan seks anak-anak. Hal ini dapat dujumpai di Surabaya yang merupakan kota transit seksual.

Selanjutnya hasil survey awal dengan sepuluh subjek pada tanggal 9 dan 24 Maret 2013 dapat diketahui sebagaimana dua contoh wawancara berikut.

Awalnya saya hubungan gitu sama cowok saya Kak, saat kelas 1 SMA, terus kita putus, aku dapet cowok lagi juga gitu lagi… kupikir semua cowok kalo pacaran juga maunya cuman itu, rugi kita, mereka macarin cuma mau cari gratisan, kecewa sekali aku, kupikir sekalian aja dijual (Ria, 17 tahun/ kelas 3 SMA)

Saya di suruh bapak Mbak, saya kan anak pertama, harus bantu-bantu keluarga, buat sekolah adik,  buat bayar listrik, buat beli rokok bapak dan buat masak. Saya ya sedih tapi gimana, gak berani sama bapak (Aida, 14 tahun/ putus sekolah)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari subjek sebagaimana pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa subjek pertama, Ria (bukan nama sebenarnya) merasa dirinya sangat kecewa setelah putus hubungan dengan pacarnya dalam keadaan dirinya telah berhubungan seksual dengan pacarnya. Demikian pula saat mendapatkan pacar lagi juga melakukan hubungan seks, sehingga Ria menyimpulkan bahwa semua laki-laki yang memacari perempuan hanya untuk memenuhi kebutuhan seksual. Artinya bahwa Ria telah membuat kesimpulan secara general terhadap pengalaman berpacaran dan niat laki-laki yang memacari dirinya. Selanjutnya pada kasus Aida (bukan nama sebenarnya) dapat diketahui bahwa dorongan untuk menjual dirinya adalah memenuhi permintaan ayahnya dan takut untuk menolak karena dirinya menjadi bagian dari tulang punggung keluarga. Berdasarkan informasi dari dua subjek tersebut, juga dapat diketahui bahwa pada Ria, dorongan untuk menjual diri atau terjun ke dunia prostitusi  selain terdapat motif ekonomi juga motif kekecewaan. Sedangkan pada Aida, dorongan menjual dirinya selain motif ekonomi yaitu untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga terdapat motif paksaan orangtua.

Selanjutnya dari hasil survey awal tanggal 24 Maret 2013 dengan 4 subjek berusia antara 14-15 tahun dan 12 subjek berusia antara 16-17 tahun diketahui beberapa motif prostitusi sebagai berikut.

Tabel 1

Alasan menjual diri

Alasan

Usia 14-15 (N=4)

Usia 16-17 (N=12)

f

%

f

%

Senang

2

50%

3

25%

Diajak/ ikut teman

2

50%

1

8%

Mengikuti jaman modern

2

50%

1

8%

Jenuh di rumah

1

25%

3

25%

Agar bisa membeli apa saja

1

25%

2

17%

Menambah teman

1

25%

2

17%

Agar diakui dalam pergaulan

1

25%

0

0%

Disuruh orangtua

1

25%

0

0%

Mengikuti trend model

0

0%

2

17%

Kecewa

0

0%

2

17%

Berharap menemukan pasangan hidup

0

0%

1

8%

Catatan: subjek dimungkinkan untuk menyebutkan lebih dari alasan

Sebagaimana Tabel 1 tersebut, diketahui bahwa 18% subjek dari kelompok subjek berusia antara 14-15 tahun dan 18% subjek berusia antara 16-17 menjalani kehidupan sebagai pekerja seks karena diajak atau mengikuti teman dan melakukannya karena senang. Kemudian 18% subjek berusia 14-15 tahun juga menyatakan bahwa dirinya terjun ke dunia prostitusi karena ajakan teman, selain itu juga adanya motif kekecewaan dan motif ekonomi, 12% dialami subjek berusia 16-17 tahun. Selain itu terdapat alasan yang mengindikasikan adanya motif konformitas, gaya hidup, eksplorasi dan post modernism, terutama 18% dinyatakan oleh subjek dari kelompok usia16-17 tahun.

Pada subjek yang menyatakan bahwa dirinya mengikuti jaman modern memberikan alasan yang berbeda dengan subjek yang menyatakan mengikuti trend mode atau gaya hidup kota. Hal ini dapat diketahui dari petikan wawancara berikut.

Hidup itu apa sih? Ya mengikuti perkembangan jaman lah, jaman berubah ya hidup ini menyesuaikan. Maksudnya jaman itu ya pikiran kita dan sikap kita itu biasa aja lagi kalau liat-liat orang begini, ya cuekin aja, nasib orang itu beda-beda, ada juga yang kebelet ngesesk milih kawin meski usianya baru 12 tahun, soal seks gak ada bedanya jaman bahula dengan jaman sekarang kalau kawin usia 12 tahun juga boleh? (Dewie, 17 tahun/ kelas 2 SMA)

Soal hubungan seks itu kan musim kak, gak di kota aja, juga gak orang dewasa aja. Ya namanya lagi trend gitu istilahe, trend dalam pertemanan dan banyak kok temen-temenku di sekolah yang komersil kalau soal itu. Yah, ini juga pengalaman hidup, meskipun pahit itu kan kata orang, kita jalani saja kak (Han, 16 tahun kelas 2 SMA)

Hal tersebut dapat dikatakan bahwa faktor yang mendorong seseorang di bawah usia 18 tahun terjun ke dunia prostitusi memiliki motif yang beragam. Menurut Myers (2001), bahwa motif manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak lainnya yang timbul dari dalam diri seseorang ataupun dipengaruhi oleh faktor dari luar, kemudian motif akan memberikan tujuan sertan arah kepada tingkah laku atau yang disebut sebagai motivasi (Bandura, dalam Alwisol, 2010).

Demikian pula beberapa hasil penelitian tentang prostitusi  anak-anak beserta dampak-dampaknya telah cukup banyak dilakukan sebagaimana bebarapa laporan dalam tabel berikut.

Tabel 2

Penelitian tentang pelacuran anak-anak di bawah umur

Peneliti (tahun)

Judul

Hasil penelitian

Levy, S dan Willis, D.M (2002)

Child prostitution: Global Health Burden, Research Needs, and Interventions

Menggambarkan adanya gangguan kesehatan, psikologis, dan pelecehan seksual dan kekerasan dan bahkan kematian akibat penyakit kelamin menular.

Flowers, R.B (2001)

The Sex Trade Industry’s Worldwide Exploitation of Children

Memaparkan anak-anakm menjadi korban pemerkosaan, pemukulan, perpindahan, kecanduan narkoba, pelecehan psikologis, dan trauma lainnya, termasuk paparan virus AIDS dan hidup tanpa masa depan.

Fariour, S (1997)

The International Law on Trafficking in Women and Children for Prostitution: Making It Live Up to its Potential

Memberikan gambaran tentang motif ekonomi yang mendasari praktik eksploitasi seksual pada anak-anak yang di dukung oleh sistem sosial politik.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu (Tabel 2) sebagaimana hasil penelitian dari Silbert and Pines (1981) dan Flowers (2001), dapat diketahui bahwa motif-motif prostitusi  pada anak-anak di bawah umur cukup bervariatif, dan salah satu pendukungnya adalah perlakuan ayah. Hasil penelitian sebelumnya tidak banyak mengungkap motif-motif secara psikologis selain tinjauan sosial budaya, serta dampak psikologis dari tekanan sosial pada anak-anak yang menjadi korban prostitusi . Selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian sebelumnya sebagian besar menggunakan survei dengan data yang dikumpulkan melalui angket. Dalam penelitian ini, selain menggunakan angket juga akan digunakan skala motif, dengan analisis faktor, yaitu mengelompokkan motif prostitusi berdasarkan skala dan data-data demografis yang dalam penelitian sebelumnya analisis lebih banyak digunakan dengan deskripsi presentil.

Hal ini dapat dikatakan bahwa motif prostitusi  pada anak-anak belum banyak digali, terutama yang menyangkut motif psikologis, apakah motif tersebut muncul dari dalam diri si pelaku ataukah mereaksi faktor dari luar dirinya, seperti keluarga dan sosial. Selanjutnya Bandura (dalam Hall & Lindzley, 1993), menjelaskan bahwa motif merupakan determinis resiprokal (reciprocal determinism), yakni tingkah laku manusia merupakan proses interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. Seseorang dapat menentukan/ mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungannya.

Untuk mendapatkan gambaran awal tentang prostitusi di bawah umur, khususnya pada anak-anak dan remaja, melalui hasil wawancara awal dan penelitian sebelumnya yang telah dikemukakan maka beberapa motif yang menjadi alasan subjek untuk terjun ke dunia prostitusi dapat diketahui sebagaimana tabel berikut.

Tabel 3

Motif prositusi, konsep dan alasan

Motif prostitusi

Konsep dan alasan

Teori

Data Wawancara

1.Motif acquisition

Pemenuhan kebutuhann memperoleh uang, pemilikan materi objek berharga, dan keinginan untuk mencapai mobilitas social (Murray dalam Alwisol, 2010)

Aku punya keinginan gitu, ya gak mungkin lah minta ortu, kalau gak cari duit sendiri bagaimana aku bisa punya apa yang kuinginkan

2.Motif untuk berkuasa (N-pow)

Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku tertentu tanpa dipaksa, atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain (McClelland, dalam Robbins, 2003)

Selama ini aku ngerasa selalu diatur laki-laki, taunya laki-laki itu menang sendiri, kalau mau butuhnya ngemis-ngemis kayak anak kecil. Aku pinginnya semua cowok tunduk padaku, ya modalku cuman itu, tubuh ini, seks, itu persis kelakuan ibuku, ayahku tidak berdaya

3.Motif frustration-aggression

Sesuatu yang menjadi miilik individu dirusak atau dihancurkan oleh orang lain (Fromm, 2000)

Saya kecewa dan ingin membalas sakit hati, biar mereka tau bahwa aku ini buruk dan mereka penyebabnya

4.Motif pressure

Tunduk secara pasif terhadap kekuatan luar, seperti orangtua, pacar, atau orang yang dianggap menguasai kehidupan dirinya (Muray, dalam Hall & Lindzley, 1999)

Aku gak berani melawan maunya bapak, katanya ini demi keluarga

5.Motif play mirth

Mencari dan menikmati kesan-kesan yang menyentuh perasaan (Fromm, 2000)

Kalau aku sih suka-suka saja, yang penting heppy, ngapain juga mikir, seks itu nikmat kok

6.Motif gaya hidup (life style)

Pemenuhan kebutuhan akan pengakuan di pergaulan yang dipandang cocok atau sesuai dengan minatnya (Levy dan Willis, 2002)

Hubungan seks itu kan musim kak, gak di kota aja, juga gak orang dewasa aja. Ya namanya lagi trend gitu istilahe

7.Motif konformitas

Penyesuaian perilaku remaja untuk menganut norma kelompok acuan, menerima ide atau aturan-aturan kelompok yang mengatur cara remaja berperilaku (baron & Byrne, 2002)

Aku kadung deket dengan teman-temen genk-ku, kalau aku gak ngelakuin gitu kayak mereka aku gak ditemenin, gak maulah

8.Motif eksplorasi pengalaman baru

Adanya dorongan atau keinginan untuk memperoleh pengalaman baru, mengurangi kejenuhan di rumah, dan mencari tantangan baru nuntuk menjawab rasa penasaran (Levy dan Willis, 2002)

Yah, ini juga pengalaman hidup, meskipun pahit itu kan kata orang, kita jalani saja kak… kalau orang lain yang gak ngelakuin gini paling juga pulang sekolah ya nonton tv, main FB, tidur, ya gitu-gitu aja, gak tau banyak kejamnya dunia luar

9.Motif post modern

Boeree (2004), bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan untuk memandang kehidupan dari sudut pandang primitive sebagai proyeksi kehidupan modern atau masa kini.

Soal seks gak ada bedanya jaman bahula dengan jaman sekarang kalau kawin usia 12 tahun juga boleh

Berdasarkan deskripsi yang dikemukakan, maka dapat diketahui bahwa motif pelacuran yang dilakukan anak-anak cukup variatif, dan motif-motif tersebut tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan sistim pendidikan baik di sekolah maupun dalam keluarga. Namun demikian hal yangn paling penting menjadi perhatian adalah masalah penegakan hukum. Di negara lain eksploitasi seksual atas anak diganjar hukuman keras. Semisal dua warga negara Indonesia yang ditangkap di Melbourne, Australia, diancam hukuman hingga 10 tahun dan denda Rp 2,3 miliar karena terlibat dalam jaringan prostitusi anak-anak.

Selanjutjnya, hasil wawancara juga diketahui siswa yang terlibat dalam kegiatan prostitusi bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, namun gaya hidup, bahwa para pelajar yang kurang mampu tergiur dengan temannya yang memiliki barang mewah, seperti handphone dan lainnya, sehingga mereka berkeinginan untuk menjadi PSK. Aktivitas PSK para pelajar dilakukan  secara sembunyi-sembunyi dengan menggunakan fasilitas ponsel. Mereka tidak menjajakan dirinya secara terbuka seperti PSK lainnya.

Hasrat yang tinggi untuk memiliki barang mewah tersebut disambut oleh para mucikari sebagai  ‘gayung bersambut’, menjadikan ini peluang emas meraup keuntungan. Transaksi seks ABG ini dikoordinasi beberapa mucikari yang biasa beroperasi di Lokasari, Jakarta Barat. Melalui mucikari inilah para siswi yang masih di bawah umur itu dipertemukan dengan pria-pria hidung belang. Dari pengakuan beberapa siswi tersebut diketahui bahwa petualangan mereka diawali dengan menjual keperawanan kepada pria hidung belang Rp 2 juta (SuryaOnline). Setelah keperawan mereka terjual seharga Rp 2 juta, lalu para siswi 15-an tahun ini meneruskannya menjadi penjaja seks dengan tarif setiap kencan Rp 300.000, dan bahkan lebih rendah dari itu, sampai Rp. 50.000,- per transaksi.

Belajar dari beberapa data dan berita diatas (kasus prostitusi siswi SMP di beberapa kota di Jawa Timur, terutama Pasuruan, seks bebas siswi SMP-SMA serta survei Komnas PA bersama LPA, maka sudah semestinya pemerintah bersama masyarakat melihat ini sebagai tantangan besar bagi bangsa ini. Anak-anak dan remaja adalah generasi harapan penerus bangsa ini. Untuk menjadi penerus bangsa yang akan mengisi perjuangan bangsa, tentulah diharapkan orang-orang yang berwatak dan berintegritas. Orang-orang yang dididik dan ‘dibentuk’, cerdas sekaligus bermoral.  Ada orang yang sejak lahir memang memiliki jiwa pemimpin, namun pada umumnya jiwa kepemimpinan dari para pemimpin dunia ini muncul setelah melalui proses belajar yang panjang.

Apabila pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan (Great Leader are Make, not Born), maka setiap lika-liku kehidupan seorang calon pemimpin sangatlah penting. Bila sejak kecil mereka memiliki masalah paradigma, maka kecil sekali kemungkinan mereka pada akhirnya menjadi pemimpin yang visionerl. Bila sejak kecil mereka memiliki masalah moralitas, maka kecil sekali kemungkinan mereka pada akhirnya menjadi pemimpin yang bermoral dan berintegritas. Dan apabila, krisis moralitas seperti kasus diatas kita biarkan, maka tidaklah mustahil bahwa nilai-nilai kultur positif nusantara hanya akan dapat ditemukan “museum moral Indonesia”.

Sementara, aksi-aksi demoralisasi masih tetap santer terdengar dan bahkan lebih progresif. Film porno kalangan remaja, siswa-siswi selalu menjadi berita nasional setidaknya tiap dua minggu sekali. Setiap berita ini muncul, maka animo netter naik beratus-ratus persen. Dalam salah satu kasus beberapa tahun yang lalu, ada seoraang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri. Di tempat lain seorang anak SD bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP atau kisah anak SD lain yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan. Tawuran pelajar SMA meski sudah mulai jarang kedengar, namun aksi pertikaian para mahasiswa kini menggantikan hot news.

Aksi dan aktivitas yang negatif ini tidak semata ditangani, namun harus dicegah. Aksi negatif lebih mudah menjamur daripada aksi positif. Indonesia memang tidak kekurangan siswa-siswi yang berprestasi hingga tingkat dunia dalam bidang sains, teknologi, seni, budaya, dan olahraga. Kualitas dasar anak Indonesia sangatlah, dan memiliki potensi yang besar untuk menjadi manusia yang berdaya manfaat  tinggi bagi masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, semua potensi ini haruslah dikembang, sehingga kita perlu mendidik  agar mereka tidak terjun ke gerbang kehancuran.

Siapakah yang paling bertanggungjawab dalam hal ini? Orang tua memiliki peranan nomor wahid. Pendidikan moral dan pekerti sudah semestinya dididik anak sejak dini ketika masa-masa terbesar hidup mereka berada di rumah bersama orang tua. Ketika mereka menginjak remaja, maka porsir terbesar jatuh ketangan pihak sekolah/guru. Pendidikan sekolah menjadi gerbang utama membentuk mindset, paradigma serta moralitas si anak ini. Hampir 1/2 ‘kehidupan’ siswa-siswi SMP-SMA berada  di sekolah (6-8 jam di sekolah, 1-2 jam di luar sekolah, 6-8 jam di rumah, 7-9 jam tidur).

Pemuka agama seharusnya menjadi ‘pengawas moralitas’ masyarakat, namun banyak dari mereka terjebat dalam konflik kepentingan, politik hingga sebatas ‘artis’ lip service. Disini, peran pemerintah melalui media sangat penting dalam memproteksi anak-anak. Begitu juga, sistem pendidikan kita hendaknya memikirkan hal ini. Jangan sampai sistem pendidikan hanya dipandang  sebagai mesin ‘produksi’ kelulusan kuantitatif. Seorang yang dinyatakan lulus hendaknya memikirkan faktor logika dan etika. Bukan sebatas angka UN, lalu orang lulus, namun moralitas diabaikan. Guru bukanlah mesin kelulusan, tapi guru adalah pendidik. Bukan juga semata pengajar, tapi sekali lagi pendidik!

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan, maka diharapkan ada peningkatan kualitas pada penyelenggara pendidikan, bukan hanya kompetensi pedagogis maupun sertivikasi, namun kompetensi bidang interaksi sosial sangat diperlukan. Untuk itu diharapkan ada peningkatan kualitas SDM terutama guru-guru BK untuk lebih meningkatkan kemampuan interaksi sosial dengan siswa dan orangtua siswa, berkomunikasi secara persuasif dalam penanganan masalah siswa, sebagai bentuk preventif terhadap masalah-masalah sosial yang dilakukan pelajar. Dalam hal ini peran seluruh guru juga sangat diharapkan, kooperatif dan pro-aktif dalam penangan masalah-masalah kenakalan siswa di lingkungan sekolah.

Peneliti: Syaiful Radya, Galih Widya Pratiwi., Indrayana Praditya., & Asrina

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 12 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 13 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: