Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Dewi Setyawan

suka memuji Tuhan di manapun… menyukai alam dan travelling… suka tulis menulis… juga poto2 bareng temen2… ^_^ selengkapnya

Hubungan antara Pria dan Wanita

OPINI | 03 April 2013 | 21:21 Dibaca: 670   Komentar: 0   0

Menurut bab 8 dalam buku berjudul Lady in Waiting tentang “Wanita yg Puas” dan ada kesimpulan per nomor+tambahan penjelasan dari opiniku…

Bukan berniat mengajari.

Ini karena seringkali orang berkata teori  harus ada prakteknya..Jadi aku memutuskan untuk menuliskan contoh dari kenyataan yang ada.Jadi bisa sama2 belajar teori dan praktek.

Ada topik menarik dalam bab tersebut yaitu wanita lajang sering dikecewakan para pria karena:

1. Terpengaruh dengan kata2 rayuan&perlakuan khusus dari pria

Seperti yang telah kutulis sebelum ini, khususnya artikelku yang berjudul Cinta Tidak Buta.

Itulah contoh2 rayuan pria dan tidak perlu memercayai semua itu. Harus tetap menggunakan logika dalam meresponi.

Selain Cinta dan Nyawa? tulisanku, aku juga ingin menambahkan tentang perlakuan khusus.

Memang ada teman-temanku lelaki yang tidak sopan padahal kami hanya berteman biasa.

Misalnya, tiba-tiba menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulutku untuk menyuapi.

Lalu ada juga pria lain yang tiba-tiba mengusap-usap kepalaku.

Dari sisi wanita, menurutku mereka sangat tidak sopan karena tindakan tiba-tiba itu tidak meminta izin dahulu. (Coba kalau meminta izin dahulu, pasti tidak diizinkan.) Lalu aku langsung menghindar, menjauh, dan protes secara terbuka sehingga tidak jadi menyuapi dan tidak mengusap-usap lagi.

Jika merasa tidak nyaman, lebih baik bicarakan secara terbuka dan jujur lalu mencegah supaya tindakan mereka tidak jadi/tidak lagi dilakukan.

Dari sisi pria, sebaiknya pria tidak sembarangan merayu dan berlaku khusus terhadap wanita karena itu tidak sopan.

2. Tidak ada pedoman/ batasan yang jelas tentang hubungan itu

Menurut buku ini, ada batasan kepemimpinan, komunikasi, dan kemurnian.

Kalau Anda ingin berteman saja, tegaskanlah agar tidak salah mengerti. Memang rasanya tidak enak hati kalau menjelaskan.Jadi penjelasannya dibuat santai saja, misalnya saat bercanda beritahu saja kalau Anda juga sering pergi dengan teman-teman lawan jenis yang lain dan SMS an dengan banyak orang supaya orang itu tidak merasa dia paling spesial di mata Anda.

Ada banyak salah paham dan motivasi yang salah karena ingin mendapat banyak hal juga setelah memberi  banyak dan seringnya pergi bersama. Hal ini disebabkan oleh tidak ada kejelasan hubungan seperti TTM serta HTS. Misalnya temanku wanita, dia sering pergi berdua dengan seorang lelaki selama berbulan-bulan. Dia mengira lelaki itu memiliki perasaan khusus, padahal hanya berteman. Lelaki itu malah menceritakan tentang hubungannya dengan beberapa wanita lain. Hal ini membuat temanku terluka. Cerita serupa juga dikisahkan di buku ini.

Hal yang tak kalah penting adalah emosi lari mendahului komitmen. Marah karena semua tidak berjalan sesuai harapan dan emosi yang dirasakan. Semuanya harus melihat kenyataan yang jelas, bukan harapan semu.

Jika belum yakin hubungan mau dibawa ke mana, lebih baik doa dan dipikirkan dulu masak-masak, minta nasihat dari keluarga jasmani dan rohani. Pergilah bersama banyak teman lain secara bergerombol. Menurutku, tidak perlu pergi berdua dulu. Dengan demikian, bisa lebih mengenal tanpa menimbulkan perasaan cinta dari orang itu.

Kemudian jangan nekat jika orang itu telah mengatakan tentang tujuan hubungan itu.

Apabila memang hubungan itu bertujuan lebih dari teman, buatlah pedoman yang jelas dan rinci agar tidak terjatuh dalam dosa seksual.

3. Penekanan pada potensi masa depan hubungan

Ada seorang pria juga yang menyatakan fantasi pernikahannya kelak bersamaku di gedung itu dan bulan madu ke tempat itu. Padahal kami cuma berteman biasa dan tidak ada hubungan apapun selain itu.Pada saat itu, aku protes juga.

Jika tidak nyaman. proteslah dengan sopan karena kita harus menjaga hati diri sendiri dan hati orang lain, bukan menghancurkannya. Seharusnya orang tidak sembarangan menekankan hubungan di masa depan yang masih lama dan belum pasti terjadi. Lebih baik fokusnya ke topik-topik lain yang positif dan membangun.

Motivasi juga berperan penting di sini. Ada orang yang memiliki motivasi udang di balik batu, ingin pacaran dengan seseorang sehingga baik pada orang itu. Dan ketika semua itu tidak terwujud langsung berubah 180% menjadi jahat dan tidak mau berteman lagi. Sebaiknya orang lebih bersikap dewasa, motivasi tulus dan tidak mengharapkan balasan/ tidak menginginkan hal yang belum pasti seperti jadian agar tidak patah hatinya menjadi berkeping-keping karena harapan terlalu tinggi dan tidak kesampaian seperti contoh dalam buku ini dan di dunia nyata.

Menurutku prinsip ini juga terjadi sebaliknya..

Antara pria terhadap wanita, juga wanita terhadap pria.

Aku menyukai buku ini dan study guide dari buku ini. Menurutku pelajarannya sangat berharga.

^_^. Demikianlah yang ingin kubagikan.

Dalam semua aspek hidup ini, harus bijaksana, memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama termasuk menjaga hati diri sendiri dan lawan jenis.. Jadi bukan hanya memenuhi keinginan diri sendiri saja.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 9 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: