Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Endro Ist

(art terapis-penulis-pebisnis)—99 bidang profesi yang telah dilaluinya TANPA MELAMAR; I.[bidang Property]; {(01)tukang batu, (02)mandor Bangunan, (03) selengkapnya

Bosan kirim Lamaran Kerja, Menganggur…, coba Silaturahim !

REP | 09 February 2013 | 01:28 Dibaca: 613   Komentar: 0   0

menganggur bukan kutukan, kenistaan, atau hal yang memalukan. tidak perlu sembunyi dari terang matahari. hadir saja di dunia apa adanya. songsong terangnya tanah dengan optimisme yang terus terbarukan. kalau ada kesedihan itu perasaan yang wajar saja karena kita tidak bisa membeli dunia hari ini. tapi tidak semua hari sama. pasti ada peluang yang dapat kita rebut dalam waktu dekat. tentu perlu tekad yang kuat dan cara yang baru. karena cara lawas yang dipakai tak kunjung menghasilkan juga.

apakah surat-surat lamaran yang ada kirim tak kunjung mendapat respon?

apakah informasi lowongan kerja yang anda dapat tak terlalu banyak berguna lagi.karena banyak peluang yang terlalu tinggi tuntutan kerjanya, atau lokasinya terlalu jauh dari rumah, dan pengalaman kerja yang anda punya tidak sesuai   denagn kursi kerja yang ada. lalu apa yang mesti diperbuat?

bila hal ini yang terjadi?

apakah ini benar akhir dari dunia untuk anda hari ini?

apakah tidak ada peluang untuk bangkit dan merebut kesempatan kerja seperti yang lain?

bila anda jenuh mengirimkan surat lamaran. sebaiknya anda memang harus menghentikan tindakan asal mengirim surat tersebut. karena bila anda terus lakukan justru akan membuat anda frustasi dan kecewa yang mendalam. perlu difikirkan melakukan langkah lain yang tepat sasaran. mengirim surat lamaran terlalu banyak ibarat menembak burung mempergunakan senapan mesin.

harus lebih selektif mengincar peluang, juga jangan menghamburkan biaya serta enerji yang anda punya. sepintas peluangnya lebih kecil, tetapi kemungkinan berhasilnya lebih  baik. bila sudah lebih dari 30 surat anda kirim dan belum ada balasan, atau undangan wawancara, bisa jadi format lamaran anda ada yang tidak tepat penulisan isi surat, maupun curiculum vitae, struktur bahasanay, serta ad ahal-hal yang saling tidak mendukung misalnya. ada kontradiksi keterangan didalamnya, yang mungkin tidak terlihat saat anda menyusunnnya kemarin.

karena biasanay surat lamaran cuma di co-pas copy paste saja. maka kesalahan itu bisa berulang. namun bila ternyata semuanya sudah rapi dan teliti. bisajadi keberuntungan memang belum berpihak pada anda. karena padasetiap leuang kerja yang anda terima ada berkarung-karung surat lamaran yang sama.

lalu mesti menyerah?

he-he-he jangan dulu. masih banyak jalan menuju ka’bah…

dengan melakukan moratorium pengiriman surat lamaran, fikiran anda akan semakin jernih. minimal tekanan untuk berharap akan ada jawaban dari surat-surat anda kirim berkurang. jangan dikira anda tidak stres dan tidak nyaman. makan tidak enak, tidur tak enak bukan?

setelah penghentian upaya mengirim surat lamaran ini, pikiran anda berangsur akan makin jernih. dan keluar banyak fikiran kreatif. situasi ini penting, membuat anda jadi tidak segan keluar rumah, bergaul, silaturahim kesana kemari. nah, bila kita lepas beban melakukannya. biasanya ada saja informasi pekerjaan yang sampai ke anda, justru dari teman dekat, orang-orang dekat.

begitulah karena sumber informasinya amat dekat, bisa jadi juga dari saudara, adik, atau kakak dari orang yang memiliki kedudukan penting dan pengambil keputusan didalam rekrutmen kerja. disinilah peluang anda menjadi lebih besar. bisa jadi peluang kerja itu belum sempat dipublikasikan atau disebarkan di jejaring sosial, andalah orang pertama yang mendaftar.

anda wajib menjemput peluang kerja itu, jangan menunggu saja.

info pekerjaan dari lingkungan dekat , justru memperbesar peluang anda untuk berhasil.

siapa tahu anda justru ketemu langsung dengan end user, yaitu bos yang memang sedang memerlukan tenaga anda hari ini.jadi kenapa takut mencoba?

hari ini!?

sekarang!

salam Mr-45

ini jelas langkah yang amat terlalu sederhana.tapi bila kemungkinan berhasilnya besar.kenapa takut?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: