Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Rumahkayu

Ketika daunilalang dan sukangeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Definisi Sederhana ‘Bullying’ Adalah…

OPINI | 20 January 2013 | 12:06 Dibaca: 383   Komentar: 0   5

Mentari bersinar ramah pagi itu…

DEE dengan senang hati duduk di tepi jendela rumah kayu yang terbuka lebar. Hanya ada dia dan Kuti di rumah pagi ini. Anak- anak sejak lebih pagi tadi dijemput oleh para saudara sepupunya untuk bermain bersama di rumah mereka, dan baru akan kembali sore nanti.

Ada hutan cemara di kejauhan. Dan gunung- gunung yang membiru. Ada warna ungu memikat yang hadir dari bunga- bunga jacaranda di pojok halaman. Dan ah.. betapa menyenangkannya melihat burung- burung melompat- lompat di rerumputan mencari makan seperti itu.

Terdengar suara keletak pintu terbuka. Dee menoleh. Kuti sudah selesai mandi rupanya. Dia menghampiri sang istri dan memeluk serta mengecupnya ringan.

Dee tertawa. Selalu senang mendapatkan curahan kasih sayang semacam itu.

“ Coklat-mu di atas meja itu, ‘yang “ kata Dee pada Kuti.

“ OK, trims, “ jawab suaminya, melirik secangkir coklat hangat yang masih mengepulkan asap di atas meja tak jauh dari situ.

Dee sendiri, bangkit dari duduknya, mengambil laptop dari lemari.

“ Mau ngapain, Dee? “ tanya Kuti.

“ Mau nulis, “ jawab Dee, “ Buat blog… “

Kuti tertawa. “ Memangnya nulis lebih menarik daripada… “

Mata Kuti berkilat.

Dee tertawa. Dia tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Mereka hanya berdua di rumah saat ini. Tentu akan menyenangkan melewatkan waktu semacam itu untuk bermesraan dengan sang suami. Tapi, ada beragam hal yang berputar mendesak- desak mencari saluran untuk dikeluarkan dari kepala dan hatinya.

Dee memeluk suaminya beberapa detik, menunjukkan kehangatan, namun tetap memilih untuk duduk menulis di depan komputernya.

Dan Kuti, tentu saja, tak punya pilihan, sembari menikmati coklat hangat yang tadi dibuatkan istrinya, duduk di samping Dee. Ingin tahu, hal mendesak apa yang membuat Dee begitu ingin menulis…

***

13586582812140173224

Gambar: www.lacoe.edu

Dee mulai mengetikkan kata- kata.

Sebagai pembuka, dia mencoba mengingat apa yang diajarkan di Sekolah Dasar tempat si kecil Pradipta, bersekolah.

Ada beberapa pemahaman dasar yang diajarkan pada murid- murid di sekolah Pradipta.

Salah satunya adalah hal yang diajarkan pada mereka dengan bahasa sederhana dan konkrit yang pada dasarnya mengajarkan pada mereka menghindari perilaku yang dapat digolongkan sebagai bullying, yakni: tidak mengejek , menggoda atau melakukan sikap yang membuat orang lain sedih.

***

Beralih dari Pradipta, Dee teringat pada keponakan remajanya, Pratama dan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Pratama cerdas, sangat cerdas. Kemampuan intelektualnya jauh melampaui anak- anak seusianya. Dia murid termuda di kelas. Kawan sekelasnya rata- rata dua tahun lebih tua dari dia.

Selisih dua tahun untuk orang dewasa mungkin tak lagi menjadi masalah. Tapi bagi kanak- kanak atau remaja dapat menjadi perbedaan besar.

Lepas dari kemampuan intelektualnya yang sangat cemerlang, kemampuan sosial dan kecakapan emosi Pratama berada pada tingkat rata- rata anak seusianya. Kadangkala bahkan sedikit lebih rendah. Hal yang, sepengetahuan Dee wajar bagi anak- anak dengan kecakapan intelektual yang sangat luar biasa .

Dan itu sebabnya kedua orang tua Pratama sangat berhati- hati menangani anaknya ini.

Tak seperti anggapan banyak orang, penanganan anak berbakat semacam Pratama sebenarnya sama sekali tak mudah.

Mereka sangat sensitif.

Pemikiran dan pendapatnya seringkali tak lazim. Itu sebabnya pemahaman dan wawasan sangat luas dari para orang dewasa di sekitarnya dibutuhkan agar dapat membantu anak- anak semacam ini menemukan jatidirinya. Bisa memahami segala keunikan dirinya, namun di pihak lain juga dapat menerima perbedaan dengan orang lain. Ini dibutuhkannya agar kelak dapat tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang ajeg dan bahagia.

Dengan kemampuan intelektual yang demikian tinggi, Pratama melewati masa- masa sekolahnya dengan banyak gejolak. Dia mampu menyelesaikan soal- soal akademik yang sulit, tetapi seringkali tak mampu memecahkan masalah sederhana. Tak mau, tepatnya, bukan tak mampu. Karena tak mau, dia menjadi tidak bisa memberikan jawaban yang diharapkan.

Belum lagi, dia sering mogok sekolah.

Anak semacam Pratama sudah mengerti konsep keadilan serta hak dan kewajiban manusia terhadap manusia lain bahkan sejak usia sangat dini. Tetapi karena kecakapan sosial serta kematangan emosinya tak setara dengan kemampuan intelektualnya, dia belum dapat mengendalikan reaksi dirinya ketika  dia melihat ketidak adilan atau kesewenang- wenangan.

Pernah di SD, ketika mendapati seorang  guru memarahi kawan sekelas yang menurut Pratama sebenarnya tidak bersalah,  dia bereaksi dengan tak mau pergi ke sekolah keesokan harinya.

Dee ingat, suatu hari Pratama kembali mogok sekolah saat duduk di bangku SMP.

Pratama dengan jelas menunjuk peristiwa yang menyebabkannya tak mau berangkat sekolah sebagai bully yang dilakukan padanya oleh kawan- kawan sekelasnya yang kebetulan berusia lebih tua dari dia. Pratama kecewa dan marah besar. Dia mengatakan bahwa mereka di sekolah diajari untuk tak membully kawan sekolahnya, tapi itulah yang dilakukan kawannya kepada dia.

Ketika itu, Pratama sendiri belum cukup kuat dan stabil untuk menghadapi situasi tersebut dengan kepala dingin. Itu sebabnya dia bereaksi dengan mogok sekolah.

Pratama mengikuti kegiatan ekstra kurikuler fotografi dan membawa kamera ke sekolah hari itu. Seorang kawannya ingin meminjam kamera tersebut untuk melihat fungsi- fungsi yang ada. Pratama bersedia meminjamkan, namun meminta kawannya berjanji bahwa dia hanya akan melihat fungsi kamera, tanpa membuka koleksi foto di dalamnya.

Kawannya setuju , tetapi kemudian melanggar janjinya.

Dia membuka folder dimana foto- foto disimpan. Dan tertawa melihat sebuah foto yang menunjukkan Pratama yang sedang tidur mengenakan T-shirt kebesaran milik ayahnya. Sang kawan yang merasa foto itu lucu mengirimkan foto tersebut ke telepon genggam miliknya lalu menunjukkannya pada kawan- kawan lain.

Pratama meradang.

Apa yang dilakukan kawannya itu bullying, memang. Sebab itu merupakan tingkah laku yang dapat melukai orang lain, baik fisik maupun mental.

Hal itu merupakan tindakan negatif, dilakukan secara sengaja,  yang dapat mengakibatkan cedera atau ketidaknyamanan/ keresahan pada orang lain dalam bentuk kontak fisik, kata- kata atau tindakan lain dalam bentuk apapun, termasuk , seperti yang terjadi kala itu, menyebarkan gambar milik pribadi tanpa seijin pemiliknya.

Orang tua Pratama, kemudian, menghubungi guru di sekolah anaknya menyampaikan ketidak hadiran Pratama di sekolah serta alasannya. Para guru untunglah cepat tanggap dan segera bergerak mencari jalan keluar, sebab paham, apa yang terjadi tak dapat diabaikan begitu saja…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: