Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Ari Z. Nanto

Penulis buku HORMON CINTA, FOBIA CEWEK, dan ANDA PUAS KAMI IKHLAS (Gramedia)

Kau yang Berjanji Kau yang Mengingkari

OPINI | 13 January 2013 | 06:51 Dibaca: 363   Komentar: 0   1

Sains menjanjikan kita kebenaran fakta, tetapi sains tidak bisa menjanjikan kedamaian dan kebahagiaan.

Gustave Le Bon

Janji Itu Hutang

Janji adalah hutang. Sebagaimana hutang yang harus dilunasi, maka janji pun mesti ditepati. Kalau tidak, maka yang tersisa adalah rasa kecewa yang mendalam dan ketidakpercayaan yang menghujam. Ngerrriii bo’!

Jadi mutlak ini adalah persoalan yang serius. Butuh ekstra perhatian agar jangan sampai terjadi banyak kendala di kemudian hari. Satu pesanku adalah jangan pernah berjanji jika tidak sanggup untuk menepati!

Angin surga itu hanya bagus didengar telinga. Semua pasti tergiur dengan yang serba muluk. Tapi bagi mereka yang selalu awas dan waspada, janji yang terkesan berlebihan malah bisa menimbulkan kecurigaan.

“Jangan-jangan…” adalah sinyal tanda bahaya. “Naga-naganya…” adalah rambu berwarna kuning yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi merah.

Janji ingin membahagiakan seseorang bukanlah perkara yang main-main. Itu super duper serius tahu gak seeeh? Kalau kamu gagal dalam mewujudkan janjimu, hasil akhirnya bisa ditebak. Hancur-lebur dan porak-poranda!

Semua bangunan yang sudah kamu susun dengan hati-hati bisa runtuh seketika. Perbuatan baikmu akan dianggap sebelah mata. Kata-kata jujurmu langsung membubung ke angkasa dan lenyap bak asap.

Aku bukannya menakut-nakuti lho. Anggap saja tulisan ini sebuah warning alias peringatan dini supaya kamu tidak tergelincir dan jatuh tersungkur. Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena sudah berbaik hati mengingatkanmu.

Tapi sudahlah. Kita tidak sedang mempersoalkan hadiah apa yang pantas kamu berikan padaku. Kita lagi membicarakan betapa dampak yang bisa ditimbulkan dari janji bahagia yang tak terpenuhi dapat berakibat sangat fatal.

Janji Bahagia Itu Bahaya

Kenapa menawarkan janji bahagia itu berbahaya? Karena bahagia pada hakekatnya tidak bisa kita berikan kepada siapapun. Seseorang menjadi bahagia karena ia sendiri yang memilih untuk merasa bahagia.

Seorang anak yang ingin hadiah sepeda tapi kamu belikan games belum tentu bahagia. Seorang istri yang ingin punya rumah sendiri tapi kamu ajak liburan ke hotel berbintang belum tentu bahagia.

Kebahagiaan itu ibarat berlian yang terkena sinar dan memantulkan cahaya. Ia memiliki beragam bentuk dan warna. Terkadang bukan hadiah mahal yang membuat seseorang bahagia. Terkadang bukan kado spesial yang membuat seseorang gembira.

Mungkin saja kebahagiaan seseorang terletak pada bagaimana kita tersenyum ramah padanya. Mungkin saja kegembiraan seseorang terdapat pada cara kita bertegur sapa dan menghargainya.

Strategi Bijak

Ada strategi yang lebih bijak jika kita ingin membuat seseorang merasa bahagia. Alih-alih berjanji muluk ingin membahagiakannya, bukalah pikiran dan hatinya seluas dan selebar mungkin untuk selalu dimasuki perasaan bahagia.

Caranya adalah dengan menularkan pikiran dan hatimu yang terbuka. Senyum akan melahirkan senyum. Tawa akan berbuah tawa. Dan bahagia akan mendatangkan bahagia.

Tags: bahagia

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: