Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Slamet Bowo Santoso

Menyukai tak mesti selamanya memuji, sekali-sekali boleh juga mengkritik. Karena cinta dari hati tanpa perlu selengkapnya

HIV/AIDS Itu Membuat Kami Bangkit

REP | 20 December 2012 | 21:29 Dibaca: 1055   Komentar: 0   0

13560137061368795024(Sumber: pengobatanherbalpenyakit.com)

Panggil saja namanya Dinda, usianya masih sangat muda yakni 22 tahun pada 2011 yang lalu. Perawakanya tinggi sekitar 160 centimeter kulit putih, wajah bersih dan tampak terawat, menggunakan jilbab modis layaknya wanita dari keluarga terhormat.

Tidak salah, Dinda memang berasal dari keluarga menengah ke atas, ayahnya seorang pejabat di tingkat kabupaten, sementara sang ibu adalah seorang guru di satu di antara sekolah dasar negeri. Sudah bisa diperkirakan, masa anak-anak hingga remaja Dinda penuh kecukupan baik materi maupun kemampuan otaknya.

Dinda sendiri mengaku menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di satu SMA negeri ternama di Kota Sintang Kalimantan Barat 2006 silam. Pertemuan saya dengan Dinda sebenarnya terbilang tidak disengaja, karena kebetulan saya meliput peringatan Hari HIV/AIDS Internasional 2011 yang dilaksanakan di kantor bupati Sintang.

Sekilas bertemu Dinda saya menganggap tidak ada yang istimewa pada sosok tersebut, dia layaknya aktivis perempuan lain yang kebetulan peduli dengan penderita HIV/AIDS. Namun setelah sekitar lima menit berkenalan dan berbincang saya langsung teperangah karena rupanya Dinda mengidap penyakit mematikan sejak sekitar tujuh tahun terakhir, penyakit itu adalah HIV/AIDS.

Naluri saya seketika tersentak mendengar pengakuan tersebut, sekilas tebayang di benak saya betapa suram masa depan Dinda ini karena terus menghitung hari, selain itu juga terbayang seperti apa masa lalunya sehingga mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya tersebut. Saya kemudian terpancing untuk bertanya lebih dalam mengapa di usia semuda ini Dinda sudah mengidap HIV yang waktunya terbilang sudah lama.

Terlebih menurut beberapa pengetahuan yang saya pelajari dari brosur, internet dan yang lainya, masa inkubasi HIV/AIDS hanya 8 hingga 10 tahun. Artinya jika mengacu pada pemahaman dangkal saya, Dinda sedang menunggu akhir-akhir masa hidupnya.

Beruntung bagi saya, Dinda mau berbagi cerita, karena baginya saat ini hidupnya hanya untuk membangkitkan semangat Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang lain agar tidak merasa putus asa dengan penyakit yang di deritanya.

“Saya sendiri juga tidak mengetahui mengapa saya bisa menderita penyakit ini, ingin protes dengan Tuhan rasanya. Saya tidak pernah melakukan hubungan seks bebas, menggunakan narkoba atau perbuatan berpotensi lain,”ujar Dinda yang mengaku sudah memiliki seorang buah hati tersebut.

Pertama kali diakui Dinda, dirinya mengetahui penyakit yang membuat tubuhnya semakin kurus tersebut dari pemeriksaan yang jalaninya di klinik VCT yang ada di Kota Sintang di awal 2006 silam. Saat itu, dirinya sudah sering mengalami penyakit dengan waktu yang sangat lama, seperti flu yang berbulan-bulan baru sembuh.

Setelah dilakukan penelusuran mendalam, ternyata Dinda mendapat fakta bahwa HIV yang dideritanya tersebut bukan berasal dari tindaka berisiko. Melainkan dari jarum suntik yang tidak steril, bisa ketika melakukan donor darah, suntik di dokter atau lainya yang tidak bisa ditelusuri lebih jauh.

Pasca tes yang menyatakan dirinya positif tersebut, Dinda mengaku terdiam, enam tahun berikutnya dirinya memilih menyembunyikan penyakitnya tersebut dari orang terdekat. Mulai dari ibu, ayah, paman, bibi dan yang lainya. “Saya takut mereka mengucilka saya, saya hanya mau terbuka dengan sesama ODHA yang memang sudah ada komuitasnya, itupun sangat tertutup,” katanya.

Langkah Dinda tersebut bukan tanpa alasan, masyarakat Sintang khususnya dan Indonesa umumnya masih menganggap HIV/AIDS sebagai penyakit kutukan. Penyakit tersebut hanya diderita mereka yang memiliki perilaku menyimpang. Selain itu, mereka yang menderita lebih sering diasingkan dari pergaulan.

Enam tahun bungkam, akhirnya pada 2010 Dinda memutuskan menceritakan kepada keluarga. Itupun berkat bantuan orang-orang di komunitasnya yang berhasil meyakinkan bahwa HIV/AIDS bukan untuk disembunyikan, melainkan harus di cari jalan agar bisa bertahan hidup lebih lama.

Keluarga Dinda kala itu tak kalah terpukul, mereka yang berasa dari keluarga menengah ke atas harus medapatkan kenyataan pahit tersebut. Hari-hari Dinda berikutnya tak kalah buruk, orangtua dan saudaranya sempat tidak menegurnya sama sekali. Perkiraan awal akan diasingkan terbukti kini. Dinda bahkan sempat dikurung dalam kamar dan tidak boleh keluar rumah karena dianggap aib bagi keluarga.

Kesehatanya terus menurun pasca kejadianya tersebut, kali ini bukan penyakit ringan yang datang. Penyakit-penyakit berat datang silih berganti, berat badanya pun turun drastis, sat itu Dinda berfikir mungkin sudah tidak ada harapan. Putus asa akan apa yang dialami berikutnya sudah terbayang di depan mata.

Beruntung bagi Dinda, kedua orangtua merupakan orang-orang yang memiliki pendidikan cukup. Mereka akhirnya sadar sepenuhnya bahwa Dinda tidak layak ditinggalkan, dukungan penuh dari keluarga akhirnya datang. Dinda memutuskan terbuka kepada publik terhada penyakitnya, agar apa yang dialaminya menjadi pembelajaran bagi yang lain.

Bersama beberapa aktivis HIV/AIDS lain di Kota Sintang, Dinda mendatangi sekolah-sekolah, tempat prostitusi, dan wilayah berpotensi lainya untuk mengajak peduli dengan HIV/AIDS tersebut. Serta menghindari perilaku berpotensi tertular HIV/AIDS, karena dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan. Tidak jarang, Dinda bercerita langsung di depan kelas yang dipenuhi siswa-siswi SMA.

“Setelah tujuh tahun, akhirnya saya mendapatkan diri saya lagi. Saya bisa berperan bagi masyarakat dan keluarga. Bersama aktifis lain kami bergerilya, agar yang kami rasakan tidak dirasakan orang lain. Termasuk kepada mereka kelompok paling beresiko yakni yang bekerja atau tinggal di lokasi prostitusi,”katanya.

Kini kesehatan Dinda berangsur membaik, berat badanyapun kembali naik meskipun tetap tampak wajahnya pucat. Meski demikian, Dinda mengaku kehidupanya masih tergantung pada obat-obatan yang harus dikonsumsi secara rutin dengan jam, bahkan menit yang sudah ditentukan. Karena jika telat semenit saja, dampaknya akan sangat besar terhadap kesehatanya.

“Sekarang, penyakit yang ada dalam subuh saya menjadi pendorong semangat saya untuk berbuat baik terhadap sesame. Karena bagi kami penderita ini, waktu kami sudah ditetapkan, meskipun kami tetap berharap ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini secara permanent,” katanya.

Pengakuan serupa disampaikan seorang penderita HIV/AIDS Sintang lainya panggil saja namanya Dewi. Wanita berumur sekitar 35 tahun tersebut mengaku sudah hampir 10 tahun mengidap penyakit mematikan ini. Meskipun kondisi fisiknya masih terlihat sehat, namun ketergantungan akan obat-obatan terkadang membuatnya merasa kesal.

Sama dengan yang dialami Dinda, Dewi juga awalnya mengaku tidak mengetahui menderita HIV/AIDS tersebut. Pasalnya dirinya tidak pernah berganti-ganti pasangan, meskipun perilakunya memang beresiko tertular penyakit berbahaya tersebut. Dewi memang menjadi Wanita Idalam Lain (WIL) seorang pejabat di Kota Sintang kala itu.

“Saya tidak tahu, rupanya hubungan saya dengan pejabat itu yang kemudian mengantarkan saya menjadi penderita AIDS. Dan setelah saya sakit seperti ini, pejabat itu kemudian meninggalkan saya. Beruntung bagi saya, karena anak saya tidak ikut tertular HIV/AIDS,” ungkapnya.

Bersama Dinda, dirinya melakukan pendampingan terhadap mereka yang rawan terjangkit penyakit mematikan tersebut. Bukan hanya mereka yang tinggal di lokasi-lokasi prostitusi saja menurutnya, namun mereka para pejabat, anggota DPR, TNI, Polri juga menjadi kelompok rawan tertular.

Pasalnya kelompok-kelompok tersebut banyak berhubungan dengan dunia luar dan kerap bertugas keluar daerah. Menurut Dewi, tidak jarang pejabat yang baru pulang dari bertugas keluar daerah justru pulang dengan membawa GIV/AIDS.

“Bagi kami, sekarang hidup kami murni hanya untuk melakukan pendampingan, agar tidak ada lagi yang tertular. Biarlah kami yang menjadi korban keganasan penyakit tersebut, yang terpenting juga jangan tinggalkan kami. Karena dengan begitu kami masih bisa bertahan hidup lebih lama,” pungkas Dewi yang sempat menjadi ketua kelompok aktivis peduli HIV/AIDS tersebut.

Hanya sayang, pasca pertemuan tahun 2011 itu, saya sudah tidak lagi bisa berkomuniasi dengan Dewi, karena menurut beberapa sumber sakitnya sudah semakin berat. Sehingga harus mendapatkan perawatan di Pulau Jawa. Nomor kontak yang dulu selalu aktif saat ini sudah tidak lagi bisa dihubungi.

Saya berharap dengan tulisan ini, memberikan inspirasi ketika berhadapan dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebut. Jangan kucilkan mereka, karena dengan memberikan semangat, mereka memiliki harapan hidup lebih panjang dari yang sudah ditetapkan yakni 8 hingga 10 tahun.

Mari ubah anggapan dalam otak kita, bahwa mereka kelompok orang-orang yang mendapat kutukan. Karena mereka juga sama seperti halnya kita yang tidak mengidap HIV/AIDS, mereka butuh support dan jangan sekali-sekali pernah mengucilkan mereka.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: