Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Manusia Psycho karena Zaman

REP | 07 November 2012 | 22:12 Dibaca: 1835   Komentar: 0   1

“Psycho alias orang yang jiwanya sakit atau terganggu. Biasanya orang psycho itu mudah terobsesi dengan satu hal, sadis dan cenderung menutup dirinya. Psycho itu ada bermacam-macam, tergantung bagaimana dia menyikapi suatu masalah..” (Sebuah pengertian “psycho” yang aku kutip dari sebuah situs bebas di internet)

Seperti penyakit kanker aku merasa orang yang masuk kategori “psycho” itu ada stadium atau tingkatannya. Bukan itu saja seperti ada kategorinya…

Menurut aku (ini opini)…

Psycho itu umumnya ada tingkat I (bisa disembuhkan), II (sulit disembuhkan), III (sangat sulit disembuhkan) dan IV (tidak bisa disembuhkan kecuali muzizat). Seperti kanker tentu saja stadium IV yang paling berbahaya dan disebut-sebut sudah tidak ada obatnya. Bersyukur ada beberapa orang ada yang mengaku sembuh kanker berkat muzizat. Yah, ilmu kedokteran pun percaya bahwa penyakit yang tidak ada obatnya hanya bisa disebuhkan oleh “Muzizat” dan Muzizat itu adalah milik Tuhan Sang Pencipta.

Kembali soal Psycho.. Aku tertarik berpikir dan merumuskan sendiri sikap-sikap manusia yang sudah bisa dikategorikan psycho. Aku membahas psycho khususnya dalam fenomena sosial terkait hubungan percintaan antara dua insan manusia dan banyak terjadi pada anak muda bahkan hingga usia 30-an. Bukan pada “psycho” yang suka ambil barang orang, ngintip orang mandi dan lain-lain yang aneh2… Aku lebih melihat psycho yang menjalar pada hubungan keluarga atau orang yang sakit jiwa di dalam keluarganya. Tentu saja yang lebih terkait pada masalah keluarga yang sekarang ini faktanya hanya sedikit KELUARGA UTUH yang bertahan.

Tentu berangkat dari sejumlah orang-orang yang ada disekitarku dan dari informasi-informasi yang aku peroleh dari berbagai sumber termasuk di internet.  (Prinsip: memanfaatkan internet untuk hal positif).

Aku melihat ada banyak perubahan gaya hidup manusia yang di hidup di bawah ABAD 21. Khususnya mereka yang hidup diatas tahun 2000. Dan semua perubahan itu merusak nilai-nilai moral satu diantaranya makna sebuah keluarga yang utuh.

Ada banyak hal yang berubah. Ketika kaum gay, lesbi, bisekxual, trangender dan interseks (LGBTI) mulai diakui komunitasnya secara terang-terangan aku (pribadi) merasa dunia ini makin aneh. Keluarga dengan suami dan isteri perempuan atau laki-laki termasuk pria atau wanita yang bisa berhubungan (maaf intim) dengan sesama jenis atau lawan jenis secara bersamaan… Aneh tapi nyata TAPI makin menjamur hingga ke negeri TIMUR yang mengenal AGAMA ini. Di barat dan negara maju lainnya di dunia sudah terjadi dari beberapa tahun silam dan di Indonesia? Pun demikian.  Kota Bali bahkan menjadi pilihan lokasi yang memudahkan pernikahan sesama jenis.

Ada semacam ‘pergeseran (bahkan loncatan) perubahan nilai modal’ menurut aku (opiniku) yang kini menjadi bagian dari seorang manusia yang sudah terjangkit penyakit (jiwa) “psycho” tingkat III. Jika ‘masih berpikir atau coba-coba’ untuk menjadi bagian dari kaum LGBTI maka itu sudah termasuk “psycho” tingkat I.

“Psycho” tingkat II menurut aku cocok disematkan pada mereka yang jatuh-bangun dalam usaha untuk tetap atau keluar dari komunitas LGBTI. Sedangkan “Psycho” tingkat IV pantas disematkan pada mereka orang per orangan yang sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.

SIAPA yang PSYCHO disekitar kita?

Yang aneh-aneh seperti orang yang suka ngambil barang, orang yang suka ngintip orang mandi, etc… tentunya tidak akan masalah karena faktanya mereka jumlahnya sedikit. Tapi orang per orang yang masuk kategori ‘psycho’ menurut aku secara tidak sadar banyak disekitar kita.

MEREKA adalah para laki-laki atau perempuan yang tidak pernah merasa puas dengan pasangannya. Mereka yang suka selingkuh, aku berpikir mereka adalah manusia ‘psycho.’ Dalam kategorinya tentu saja ini adalah kasus yang hampir tiap hari terjadi dan sudah seperti hal biasa dalam kehidupan zaman modern ini.

Inilah yang aku sebut lompatan moralitas atau lompatn etika dalam kehidupan masyarakat. Ketika seseorang menjadikan “selingkuh” sebagai hobi maka aku menyebutnya ‘psycho’ stadium VI. Mengapa? Orang yang HOBI SELINGKUH mereka yang dikategorikan playboy/playgirl, suami/isteri tidak setia, pria hidung belang, tente girang..etc.. dan tentu saja FAKTANYA jika sudah hobi dan maniak akan “main-main” perempuan maka itu akan SULIT DISEMBUHKAN. Hanya muzizat yang bisa menyembuhkannya. Dan faktanya muzizat terjadi karena ada yang berdoa/mendoakan, ada yang sabar mendoakan dan melakukan terapi, ada obat dan semua itu membutuhkan pengorbanan waktu, pikiran, tenaga hingga modal. Seperti penyakit kanker yang butuh banyak duit untuk bisa disembuhkan baik operasi atau terapinya demikian mereka YANG HOBI SELINGKUH tidak akan mudah untuk disembuhkan.  Butuh kesebaran tingkat dewa…

Mereka yang coba-coba menjadi tukang selingkuh atau berpikir ingin selingkuh karena menemukan rekan (orang/manusia) yang lebih menarik (fisik ataupun kepribadian) di lingkungannya namun mampu kontrol dan tidak jadi melakukan “selingkuh” maka aku menyebutnya sebagai manusia yang sehat. Tapi, jika dia berpikir lalu KHILAF dan melakukan selingkuh dan kembali kepada hidup sehat namun dia terkategori sudah ‘psycho’ stadium I yang BISA SEMBUH dan BISA juga kambuh lagi.

Selanjutnya? Saya pribadi berpendapat bahwa orang yang melakukan selingkuh adalah seorang yang menjadi “psycho (gangguan jiwa) karena zaman.” Selingkuh menghancurkan banyak keluarga, merusak masa depan anak, menciptakan dendam dan permusuhan antar orang tua dan menciptakan NERAKA dalam kehidupan bermasyarakat.

Lalu? Dimanakah posisi kita? Hati-hati jangan sampai kita masuk kategori ‘psycho’ tingkat I karena jika demikianpun maka penyakit itu seperti kanker jika tidak disembuhkan tuntas bisa kembuh dan naik tingkat…

Modal dan etika adalah bagian terpenting dari filsafat kehidupan umat manusia… Ini pilihan pribadi untuk menentukan dimana hidup kita akan dibawah… tapi ingatlah zaman sekarang banyak ancaman dan kehancuran mulai dari orang-orang dalam keluarga… Teknologi bisa membantu kita tapi bisa juga menjadi penyesat.. Contohnya ponsel (apa saja, apalagi BB dan ponsel yang bisa Skype).. bisa membuat orang yang tidak niat selingkuh menjadi tukang selingkuh karena dari semua alat canggih itu seseorang bisa keliling dunia, berkomunikasi bahkan melihat siapa saja dalam banyak pilihannya…

Mereka yang cerdas pasti mengerti dan akan memilih untuk yang terbaik menuju surga dalam hidupnya.. Selamat menjalani hidup di zaman yang MEMANG BENAR makin banyak godaan ini.

Salam,

Jude

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | | 18 September 2014 | 23:42

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | | 19 September 2014 | 07:39

Masukan Untuk Petugas Haji Indonesia …

Rumahkayu | | 19 September 2014 | 07:37

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 5 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Timnas U23 Sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 8 jam lalu

Tetangga …

Pm Susbandono | 8 jam lalu

Elpiji 12 kg Naik & Solusi Hemat …

F Tanjung | 8 jam lalu

Mogok Sekolah …

Yuni Cahya | 8 jam lalu

[Tips Haji] Bawalah Sabar Sebanyak Bulu di …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: