Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Abdi Lintang

"Urip ning dunyo mung pingin nunut mesem lan guyu" II www.abdilintang.blogspot.com

Gangguan Kejiwaan Pada (anak)?

OPINI | 29 September 2012 | 02:09 Dibaca: 562   Komentar: 0   2

13488453781399830472

Bingung…?

Itu pertama yang saya rasakan. Bingung karena pada saat saya kerja, saya bertemu dengan seorang anak kecil cowok usia belasan, dengan baju yang dekil, badan yang kotor tak terawat dan pada saat jam menunjukan waktu jam 4  pagi. Hei…!!! bukannya itu waktu dimana anak-anak kecil masih di tempat tidur dan bermimpi indah, dan mendapatkan ciuman dikening oleh ibunya, yang sudah bangun duluan dari semua penghuni rumah untuk mempersiapakan semuanya.

Saya kira pertama anak ini adalah seorang anak-anak yang biasanya ada di jalanan untuk mencari uang, tapi ternyata setelah dia berbicara untuk menanyakan adakah di toko ini barang yang gratis, karena saya bekerja di sebuah toko 24 jam, saya baru mengerti bahwa anak ini bukan anak-anak yang biasa di jalanan untuk mencari uang, tetapi dia adalah anak yang mengalami GANGGUAN KEJIWAAN.

Gangguan kejiwaan….?

Pada usia yang masih sangat dini…?

Apa penyebabnya…?

Heran…bingung…marah dan sedih…kok bisa…??

Mungkin akan sedikit wajar apabila yang kita temui itu adalah seorang yang sudah dewasa ataupun tua, karena sudah banyak hal yang mereka lalui yang bisa membuat mereka tertekan dan mengalami gangguan kejiwaan.

Tapi ini anak kecil..? yang dimana seharusnya dia hanya merasakan “bersenang-senang” dengan kehidupannya, walaupun seorang anak yang ada di jalanan yang tidak dapat bersekolah dan harus sudah mencari uang, tapi dia setidaknya punya sahabat, punya kehidupan walaupun banyak pahitnya dari pada senangnya, tapi dia punya…!!

Tapi anak ini dan yang senasib dengan dia…?? TIDAK PUNYA….!!!

Dia tidak tau senang, tidak tau sedih dan dia tidak tau apa-apa…!!!

***

Karena saya ingin tau, saya akhirnya cari-cari sumber, apa penyebabnya anak di usia dini bisa mengalami gangguan kejiwaan. Ternyata sebenarnya potensi gangguan kejiwaan seseorang itu bisa dideteksi dari kecil, “itu bisa diketahui dari sejak dini dari daya tahan mental mereka”. Ternyata ada suatu kelemahan pada diri seseorang yang sering di abaikan sebagai potensi masalah di kemudian hari. Misalnya saja keterlambatan bicara, berjalan, dan belajar. Lantas ada anak yang sering diolok-olok temannya. Itu adalah bentuk kelemahan yang harus diperhatikan.

Orang dengan masalah kejiwaan punya titik lemah yang berbeda satu sama lain. Gangguan daya tahan mental tersebut disebabkan oleh faktor internal individu. Kondisi sosial ekonomi itu hanya pencetus. Faktor yang oleh para psikiater, dianggap sebagai penyebab ada dalam diri individu. “Bakat”. Dan bakat itu muncul karena gangguan psikologis dan fungsi otak. Bagaimana dia dapat bakat itu? Pertama, karena dia terlahir dengan otak tidak berfungsi baik, proses kerjanya terganggu karena mungkin ibunya pernah berusaha menggugurkan janin, karena keracunan atau infeksi otak. Kedua, karena masalah psikologis, misalnya dia selalu ditakut-takuti sejak kecil sehingga sampai dewasa hidup dalam ketakutan.

Orang dengan bakat gangguan daya tahan mental baru bisa mengalami gangguan jiwa jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka untuk mengatasi kelemahan.

“Kalau dukungan keluarga bagus, orang dengan kelemahan daya tahan mental, dengan gangguan di otaknya, tidak akan apa-apa. Gangguan itu muncul kalau dia tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan”.

Oleh karena itu di tekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun daya tahan mental anak. Orang tua bisa menjalankan perannya dengan memperhatikan setiap tahapan perkembangan anak secara baik dan membantu anak-anak mengatasi kelemahan mereka dengan berusaha mendengarkan dan memahami kebutuhan mereka.

“Jadi masalah gangguan jiwa sebenarnya bisa dicegah kalau orang-orang memahami dan memperhatikan ini”.

Dan sebenarnya apa yang bisa dilakukan untuk mencegah ini…??

Salah satu caranya adalah dengan, berusaha meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui program Kesehatan Jiwa Masyarakat yang dijalankan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui kegiatan pos pembinaan terpadu (posbindu) dan posyandu. Dan peran pemerintah sangat penting disini. Dan mungkin penyebarluasan informasi mengenai kesehatan jiwa sebenarnya akan sangat efektif jika dilakukan melalui pendidikan sekolah.

“Ini bisa dilakukan kalau para guru kembali menjalankan tugasnya untuk mendidik anak-anak, bukan sekedar mengajar”.

Keluarga…?? ya keluarga..dimanakah keluarga mereka bagi anak-anak ini…??

Seharusnya keluarga ataupun orang tua harus menjadi tempat terakhir untuk anak-anak ini merasa tenang, nyaman dan bahagia. Saya hanya berharap tidak ada lagi anak-anak yang menjadi seperti ini karena keluarga/orang tua yang tidak respect terhadap anaknya, karena di sibukkan dengan kegiatannya sendiri. Dan saya berharap kelak dapat membantu mereka dengan apa yang saya bisa.

***

Dengan masih bertanya adakah yang gratis, dengan muka polos dan tatapan mata yang  kosong, akhirnya saya sodorkan sebuah coklat kepada anak tersebut. Anak itu berjalan keluar sambil membuka coklat tersebut, dengan tanpa kata-kata apapun yang keluar dari mulutnya, dia terus berjalan, entah kemana..?? pulang ke rumah kah…?? ke orang tua tuanya kah..?? atau dia masih punya keluarga…??

saya hanya bisa berucap dalam hati, semoga engkau BAHAGIA TEMAN.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 6 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 8 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 13 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: