Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Tebe

"Hidup itu....Tuhan yang menentukan. Kita yang menjalaninya. Dan orang lain yang mengomentari (kepo)." (tebe)

10 Macam Tipe Kepribadian Negatif

REP | 11 September 2012 | 05:44 Dibaca: 3635   Komentar: 6   4

Sejak saya (dulu) masih bekerja di sebuah perusahaan-dan saya menjadi seorang administrasi dan juga menjadi office boy saya selalu bekerja sesuai dengan profesionalisme bagi para pekerja pada umumnya. Walaupun saya bekerja dengan double job dengan mendapatkan salary yang cukup kecil setiap bulannya. Tapi itu bukan masalah bagi saya-hingga akhirnya saya mengundurkan diri.

Namun yang menjadi masalah di sini, saya merasa terdzalimi oleh sikap si bossy yang sering kali memperolok-olok dan mengkritik saya  tanpa sebab yang pasti. Entah, apa pun saya kerjakan dimatanya pasti saya selalu dipandang salah. Bukan itu saja saya sering mendapatakan kritikan yang membuat “down” diri saya. Akhirnya saya berpikir kalau saya tiap hari di perlakukan seperti ini-sebagai manusiawi rasanya ingin “memusnahkan” orang semacam seperti itu di muka bumi.

Hingga saya teringat pada masa-masa kuliah saat OSPEK. Dimana saya sering dengar dari kakak kelas (baca: senior) saya bilang,” senior selalu benar…! Boleh jadi itu benar, meski berbeda pada posisi sebagai peserta atau bawahan tapi pastinya akan berontak. Memang sulit untuk menjelaskan seseorang mudah disukai orang lain termasuk si bossy dan si senior tadi. Dilain pihak cukup mudah bagi kita untuk mengetahui seseorang tidak disukai oleh orang lain disekitarnya. Dibawah ini ini saya akan menunjukan tipe kepribadian negatif yang selalu timbul kepada saja yang menjadi penyandangnya. Celakanya sampai pada batas-batas tertentu, semua ternyata sama-sama kita memiliiki sifat seperti itu.

1. Pengkritik

Dunia ini benar-benar penuh dengan orang-orang yang hobinya mengkritik. Anda mau tidak mau harus menerima keberadaan mereka. Bahkan Anda sendiri mau membayar mereka untuk menujukan film apa yang harus Anda tonton, buku mana saja yang harus dibaca, dan tempat shoping mana yang harus dikunjungi.

Pengkritik professional dan konstruktif memang bisa memberikan pelayanan yang berharga. Saya juga tidak menyesali keberadaan mereka, namun kalau tidak memanfaatkan kekuatan atau pengaruh mereka untuk mengeksploitir orang lain! Itu baru saya setuju, tapi kalau seperti itu juga tindakannya. Maaf saja perlu diwaspadai.

Pengkritik yang sering Anda jumpai adalah pengkritik yang berdiri di setiap sudut jalan, di setiap kantor dan juga di rumah. Berbeda dari para pendapat negatif terhadap segala hal baik itu menyangkut sesuatu yang ingin Anda dengar atau tidak. Pengkritik seperti ini sering merasa serba tahu dan paling pintar. Mereka mengumbar kritik, tidak peduli apakah orang yang mendengannya sesungguh mau mendengarkan atau tidak

Sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya, hampir semua pengkritik pada dasarnya adalah orang-orang yang mengalami frustasi dihantui oleh rasa takut terhadap kegalalan. Karena dalam menilai diri sendiri hasilnya serba getir maka mereka sengaja meluangkan waktunya untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dan berkesempatan untuk memetik kepuasaan karena telah memberikan “pandangan yang amat brilian terhadap kejelekan dunia dan kesalahan orang lain.” Brendan Behan mengatakan dengan tepat,” Para pengkritik adalah seperti pria yang di-kebiri oleh sang harem-nya. Mereka merasa tahu bagaimana cara melakukan sesuatu, merasa melihat segala hal yang perlu dikerjakan, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Cepat atau lambat Anda pasti akan muak terhadap pengkrtik dan menginginkan mereka untuk segera menyingkir. Biasanya mereka akan sakit hati dan bersiap-siap melemparkan kesalahan kepada Anda, begitu ada sesuatu yang tidak beres. Mereka merasa layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik, karena mereka merasa berniat membantu Anda!

Yang terakhir sebelum melancarkan kritik kepada orang lain, pastikanlah bahwa perilaku Anda sendiri sudah benar. Louis Nizer sang penulis pernah menulis peringatan yang baik kepada semua, antara lain berbunyi,” Apabila seseorang mengarahkan jari telunjuknya kepada orang lain, perlu diingat bahwa keempat jarinya yang lain justru mengarah kepada dirinya sendiri.” Seperti pepatah lama yang sering Anda dengar, “Senjata Makan Tuan.” Jadi berhati-hatilah menunjuk seseorang  dengan kritikan sebelum Anda berkaca diri!

2. Si Agresif

Orang-orang yang agresif cenderung mengejar pemenuhan suatu tujuan bagaikan seekor badak liar yang-maaf-nafsu birahinya-meluap- luap. Seperti penganjur falsafah Lombardi yang familiar yaitu,” Kemenangan bukan segal-galanya di dunia, melainkan ’satu-satunya’ hal penting di dunia ini.” Mereka begitu mudah meng-identifikasikan dirinya sebagai pahlawan seperti Teddy Roosevelt, Jenderal George Patton dan tokoh-tokoh terkenal lainnya yang bersikap “tidak seorang pun akan mampu melebihi saya.”

Orang yang terkenal agresif senantiasa mempunyai hasrat menyala-nyala dan hampir tidak pernah puas untuk menguasai dan mengendalikan orang lain. Taktiknya yang cenderung bersifat kasar dan memaksa, biasanya terpancar secara jelas dari wajah kerasnya. Orang yang bersikap agresif hanya dapat mencapai tujuan melalui kekerasan dan biasanya mereka tidak ragu-ragu untuk bersitegang  leher dan  ber-konfortasi dengan orang lain. Padahal orang-orang lain memandang orang bersikap agresif itu sebagai gangguan dan percerminan sikap negatif yang sebenarnya tidak perlu ditampakan. Orang yang agresif tidak pernah mengetahui perbedaan sikap agresif dengan sikap tegas!

Seorang Charlotte MacDonald pernah mengatakan,” Sikap agresif merupakan senjata ampuh untuk berperang, tetapi sikap tegas merupakan suatu keterampilan yang lebih unggul guna memenangkan suatu situasi apabila bisa dipraktekan secara efektif, dan akan membantu  semua orang yang terlibat di dalamnya.”

3. Tukang Gosip

Ssstt…jangan bilang siapa-siapa ya kalau si  anu, si itu sama siapa itu ternyata begitu lho?” Dan bla…bla…bla….Eh, ingat ya jangan dibocorkan -siap. Janji lho!”

Orang yang suka bergosip selalu mengkhayalkan dirinya sebagai sumber informasi. Mereka merasa mengetahui aneka cerita yang sebenarnya yang paling rahasia, mengenai segala sesuatu yang telah terjadi dan merasa puas memberikan sesuatu kepada Anda apabila Anda berjanji tidak membocorkannnya kepada siapapun juga. Intinya, mereka itu tahu segala hal tentang berita yang tak pasti. Namun ketahuilah bahwa sesunguhnya, satu-satunya informasi penting dari orang-orang yang gemar bergosip adalah bahwa mereka biasanya tidak memngetahui cerita atau pun masalah yang sebenarnya!

Cepat atau lambat orang-orang yang senang bergosip akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang  lain. Pada akhirnya akan terungkap bahwa segala hal informasi tidak dapat dibuktikan kebenarnya atau bahkan akhirnya berkembang menjadi berita yang tidak benar. Orang-orang yang senang bergosip itu sebenarnya memandang segala sesuatu kedalam hanya dari kulit permukaaan saja atau dari luar saja!

Mark Twain pernah mengatakan,” Suatu kebohongan dapat merajalela sampai merambah separuh lingkaran dunia, sedangkan kebenarannya hanya terletak pada bidang tanah di bawah sepatunya.”

4. Sang Moralis

Orang semacam ini mulai beraksi dengan menceritakan orang lain tentang bagaimana seseorang harus hidup ideal. Dari sudut pandangan seorang moralis, hidup di dalam dunia yang serba mutlak dan segala-galanyanya yang dikuasai.

Keberadaan seorang moralis biasanya mudah diketahui. Salah satunya yakni ketika memberikan nasehat tentang bagaimana harus bersikap, berpakaian, cara bicara, merapikan meja kantor, memilih rekan-rekan kantor atau teman-teman se-level-nya. Keyakinannya begitu tebal terhadap “kebenaran” dan berbagai hal yang serba ideal sehingga gagasan hidup dan memberikan hidup secara sederhana sama sekali tidak sesuai dengan pandangannya.

Hampir semua orang akan mendaptkan giliran dicerca oleh para moralis. Ejekannya yang halus adalah,” Anda rupanya tidak mampu membuat keputusan sehingga saya terpaksa mengambil alih membuat keputusan ini untuk Anda. Kalau Anda tidak mengikuti saran saya ini Anda akan mendapatkan malu!”

5. Si Martir

Seorang martir adalah orang yang senang dimanipulir oleh orang lain dengan suka rela menempatkan dirinya sebagai anak domba yang dipersembahkan di meja altar sebagai persembahan. Sebagaimana halnya para moralis, senjata utama seorang martir adalah kesalahan. Perbedaannya adalah bahwa moralis mendorong Anda untuk merasa bersalah, sedangkan martir  memanfaatkan kesalahan orang lain lain menurut  cara terselubung. Baik dengan ucapan-ucapan atau tindakan seorang martir sengaja menunjukan kepada Anda mereka rela mengorbankan kebutuhan dan dirinya demi kepentingan Anda bahwa Anda adalah orang yang terlalu mementingkan diri sendiri, sembrono. Acuh tak acuh apabila Anda tidak bersedia melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.

Meskipun seorang martir senantiasa menonjolkan jeritan dan bobot pengorbannya, mereka sesungguhnya adalah orang yang paling mementingkan diri sendiri. Sudah barang tentu seorang martir tidak benar-benar berkorban. Mereka menikmati semacam kepuasaan tersendiri karena mereka berkesempatan memetik keuntungan tertentu di dalam taktik anak domba yang dikorbankannya tadi. Jadi begitu Anda mengenali orang semacam ini dan acuhkan jeritan kepedihannya. EGP ajalah! Mengapa tidak! Kalau Anda tidak memperhatikan nanti Anda sendirii yang akan menjadi “tumbal” berikutnya. Menaruh perhatian kepada seorang martir hanya akan membuang waktu secara sia-sia saja.

6. Si Tuan Perfeksionis

“Saya selalu sempurna dalam segal hal?” Banyak diantara kita yakin bahwa falsafah semacam itu merupakan kunci untuk dapat hidup secara efektif ; tetapi ketahuilah bahwa kenyataan sebenarnya tidak demikian!

Berhadapan dengan orang- orang perfeksionis seringkali hanya merupakan pemborosan waktu dan tenaga. Jelas apabila Anda tidak berhati-hati, waktu dan tenaga Anda pun akan hilang tanpa hasil yang memadai sebagaimana yang diharapkan. Jika Anda lengah Anda akan terdorong membuat suatu kesalahan yakni sama saja bekerja sama dengan orang perfeksionis. Salah satu diantara mereka  yaitu orang yang selalu bertepuk dada meyombongkan dirinya sebagai orang perfeksionis, terus menerus menulis kembali naskahnya, memeriksa, mengkritik dan selalu menekankan kepada kedua rekannya untuk turut mengikiuti caranya. Ibarat “setali tiga uang!”

Banyak orang yang membayangkan dirinya sebagai perfeksionis ternyata adalah pemimpi yang presrtasinya kurang atau bahkan tidak berprestasi sama sekali!

7. Penggemar Hal-Hal Sepele

Mereka yang selalu mengerjakan hal-hal yang sepele biasanya senantiasa sibuk dan menyibukan orang lain. Pada kenyataannya, satu-satunya tujuan adalah menyibukan orang lain itu sendiri dan membuat sibuk dirinya sendiri. Mereka adalah korban klasik dari teori-teori usang yang mengatakan “aktivitas itu sama dengan produktivitas”.

Semua orang pada akhirnya akan merasa jemu, muak dan ilfil memberitahukan kepadanya bahwa sesorang yang tengah melompat dan memercik-mercik air tidak berarti mereka sedang berenang.

8. Si Pembual

Satu-satuunya hal yang dilakukan oleh para pembual tidak lain adalah meyakinkan orang bahwa mulut mereka adalah lelebih besar, citra diri mereka lebih kecil dan kehadirannya selalu memuakkan. Wilson Mizner pernah mengingatkan kita,” Jangan berbicara mengenai diri sendiri, karena sifat-sifat Anda yang asli akan muncul dengan  sendirinya setelah Anda masuk ke liang kubur.”

9. Orang-Orang yang Berlaku Sinis

HL Mencken suatu ketika mengatakan,” bangkai.” Orang yang bersikap sinis biasanya adalah orang yang apabila mencium bau wangi bung, malah mencari bau busuk.”

Inilah sifat orang yang selalu mencari-cari sisi negatif. Mereka selalu berusaha mengganggu kesenangan orang lain. Sebagian besar orang yang bersikap sinis ternyata adalah kaum idealis yang kecewa. Harry Emerson Fosdick memberi saran yang mujarab umtuk menghadapi orang-orang semcam itu yaitu,” Perhatikan orang yang selalu bersikap sinis, maka Anda akan segera mengetahui kelemahan mereka.”

10. Seniman yang Meremehkan Orang Lain

Sebagaimana halnya dengan pembual, maka orang yang selalu meremehkan orang lain dengan cara merendahkan diri sendiri biasanya merasa lebih hebat dari orang lain. Tetapi tindakannya itu itu dilandasi oleh asumsi yang keliru bahwa dengan meremehkan orang lain lewat merendahkan diri sendiri akan menjadikan dirinya serba  lebih baik.

Orang yang selalu meremehkan orang lain kadang-kadang melakukan pendekatan yang agak halus sehingga apabila Anda tidak berhati-hati, Anda pun akan terjebak ditengah-tengah permainan mereka. Misalnya; Orang akan meminta saran Anda, tetapi kemudian menolak samua usulan pemecahan masalah yang Anda kemukakan. Disamping itu orang yang merendahan diri acapkali sengaja bertujuan mempermainkan Anda dan orang lain. Apabila Anda tidak segera mengambil tindakan yang tepat untuk menyingkirkan mereka, akibatnya waktu dan tenaga akan banyak terbuang begitu saja hanya untuk terlibat didalam pertengkaran sengit yang sebenarnya sama sekali tidak perlu terjadi.

Demikianlah segala yang saya uraikan tentang tipe-tipe kepribadian seseorang dari karakter, sikap dan sifatnya. Jadi saya berpesan kepada Anda semua, khususnya diri saya sendiri semoga kita jangan mempunyai sikap dan sifat seperti yang saya uraikan dan menghindari sifat yang (berkepribadian) yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Semoga.[]

Revisi, Uray, 14/ September 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 2 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 3 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 8 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 9 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 9 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: