Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Ayiek Imaya Kiswandari

hidup bagai berlian, adapun warnanya tergantung dari mana kita melihatnya

Jangan Selalu Mengikuti Kata Hati, Lho Kok??

OPINI | 11 April 2012 | 13:57 Dibaca: 212   Komentar: 1   0

Selama ini ,mungkin dalam kehidupan kita sebenarnya,percaya atau ngk percaya,banyak hal-hal yang telah kita lakukan selalu mengikuti kata hati. Seakan sudah tertera spanduk berbunyi ”ikutlah kata hatimu” dalam batin kita yang seolah-olah menjadikan sebuah dasar,awal kesadaran dan keharusan kita dalam menentukan sebuah sikap.Sebenarnya,apakah salah mengikuti kata hati?
Hati adalah suara yang berasal dari keinginan/kemauan.keinginan ada dua macamnya,dari keinginan yang baik (berasal dari sanubari manusia)dan keinginan yang mungkin merupakan keburukan(berasal dari syaitan).bila tidak ada yang menjadi filter bagi suara berupa keinginan-keinginan tersebut,Ibarat membuat jus buah,bila tidak disaring sebelum diminum maka ampas buahnya akan ikut terbawa dan tercampur dengan sari-sari buahnya.oleh karena itu suara hati pun harus disaring terlebih dahulu oleh akal pikiran.sehingga nanti yang tersisa hanya “sari-sari”nya saja(yang baiknya),tidak ada lagi ampasnya(yang buruknya/kelirunya).
Berikut kisah jenaka yang dapat menjadi contoh renungan suara hati ;
Boy : “ Don,cabut yok,ah!! Lagi ngk mood gw ngampus hari ini…”
Doni: ” Ayo deh,gw laper nih !!kantin aja yok!! Kita cobain Soto ayam yang baru buka tuh!! Slow-slow ajalah kita dikantin!!”
Boy : “WUiiihhh….Boleh tuh!! Kayaknya MAknYuZZ!!”
Doni: ”Ya udah!!! Langsung tancaplah kita!! Grecep Boy!!’’
Boy : (diam sejenak..)
Doni : “Hey..hey..ayolah.. kok diem aja? knapa lo ??
Boy : “Hmm…Apa lw ngk takut ketinggalan materi kuliah? Lw lupa yak,hari ini kan kita ada test tutorial..”
Doni: “Iya sih…” (kemudian diam sejenak..)
Boy : “ Kalo kita ngk ikut,pastinya kita ngk dapet nilai!! Hancur deh ntar nilai kita!”
Doni: “ bener juga sih..okelah!! lain kali aja kita makan sotonya!!”
Boy : “Sip bro!! ya udah,kita masuk kelas lah sekarang..”
Doni: “ Yuk Mari!!”
Dari contoh percakapan diatas,dapat disimpulkan bahwasanya kata hati beragam dan memang tidak selalu baik,sehingga harus dicerna melalui akal pikiran.
Maka ,ikutlah kata “akal pikiran”.
Semoga dapat bermanfaat..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 10 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 11 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 11 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 12 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: