Tips Menghadapi Wanita Lesbi
OPINI | 25 January 2012 | 09:48
Dibaca: 562
Komentar: 20
4 dari 5 Kompasianer menilai bermanfaat
ilustrasi. pasangan lesbi smu. (by. google/koranbaru).
Sejak Postingan “Akhirnya Saya Tahu Kenapa Wanita bisa Jadi Lesbi” terpublish di Kompasiana, saya menerima banyak pertanyaan via email terkait masalah lesbi ini. Salah satu surat tersebut menanyakan bagaimana menghadapi temannya yang menunjukkan gejala – gejala lesbi, bahkan ada yang mengeluhkan keluarganya yang sudah berpacaran sesamanya (pasangan lesbi) selama setahun. Bagaimana cara mengatasinya agar sang lesbi ini kembali normal ?
Seseorang dapat menjadi lesbi karena beberapa faktor. Yang paling banyak saya dapati karena keterasingan dari keluarga. Wanita yang terasing dari keluarganya cenderung akan melarikan masalahnya ke teman – temannya. Lebih memilih curhat ke teman yang disukainya dibanding dengan ibu, ayah atau saudaranya. Keterasingan dari keluarga juga cenderung membuat seseorang melakukan kegiatan yang bisa menyenangkan pikiran dan perasaannya. Jika seseorang dalam masa labil dan puberitas, ia cenderung melarikan kegiatannya tersebut ke hal – hal yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya tentang sesuatu. Salah satunya tentang lawan jenis dan pertemanannya dengan sesamanya.
Pasangan lesbi, Kim dan Pai dalam Film Thailand, "Yes or No". (google).
Wanita yang seringkali curhat dan lebih percaya kepada teman wanitanya untuk memecahkan masalahnya punya potensi untuk menjadi lesbi, apalagi jika teman wanitanya tersebut agak kelaki-lakian. Pasangan lesbi terjadi kalau ada salah satunya yang agak kelaki-lakian, jadi sama saja di perasaannya teman wanitanya tersebut layaknya laki – laki, yang dianggapnya dapat menyenangkan perasaannya, melindunginya, dan memuaskan libidonya. Jadi, lebih kepada faktor psikologi. Seorang wanita juga terdorong jadi lesbi karena sakit hati atau pernah tersakiti laki – laki, termasuk rendahnya kepercayaannya terhadap laki – laki yang dianggapnya hanya suka menggombal.
Penyimpangan orientasi seksual secara dini akan semakin parah jika ternyata seorang wanita banyak menikmati film – film bertema lesbi, seperti film Thailand, “Yes or No” yang banyak digemari remaja puteri saat ini. Karena keseringan nonton film lesbi, seorang wanita berpotensi untuk mencoba – coba atau merasakan sesuatu yang berbeda lebih dari sekedar pertemanan, apalagi jika teman wanitanya tersebut dianggapnya memiliki kecocokan secara verbal dan emosional.
ilustrasi by. google.
Seorang teman yang concern terhadap masalah penyimpangan seksual ini ternyata mendapati banyak film triple x (remaja dan anak muda lebih senang menyebutnya dengan istilah “film bokep” di internet didominasi pula percintaan sesama jenis (lesbi) dan biseksual, bahkan baru – baru ini diluncurkan primier film Indonesia bertema lesbi dan biseksual “Dilema” yang diproduseri dan dibintangi Wulan Guritno.
Ini artinya, Lesbi telah menggejala sedemikian rupa dan ada begitu banyak orang dan lingkungan yang turut berusaha menciptakan terciptanya “symptoms of lesbian” (gejala lesbi). Perkembangan gaya berpakaian (fashion) dan model rambut turut menciptakan tampilan “kelaki-lakian (tomboy) dari seorang wanita. Banyak yang kemudian wanita tampil layaknya laki – laki, menempatkan diri berbeda dari kodratnya sebagai seorang perempuan, bukan hanya soal penampilan tetapi juga gaya bicara dan kelakuan yang seperti laki – laki. Percayalah, tidak ada pasangan lesbi yang keduanya feminim, pasti ada salah satunya yang sedikit tomboy sedang pasangannya lebih tampil modis.
Saran saya, seorang remaja puteri harus didekatkan dengan keluarganya. Ayah, ibu atau saudaranya harus sering – sering mengajaknya untuk berdiskusi atau curhat, melibatkannya dalam kegiatan – kegiatan positif. Orang tua juga harus mengetahui benar dengan siapa anaknya bergaul, bukan untuk membatasi pergaulannya tapi untuk memantau dan mengetahui ciri pergaulannya. Jika sang anak sudah menunjukkan gejala lesbi, segera pisahkan dari teman wanitanya dan meminta pihak sekolah untuk mengawasinya secara khusus.
Penyimpangan orientasi seksual bukanlah kondisi permanen, ia dapat segera diobati dengan pendekatan kasih sayang dan perhatian keluarga. Waspadalah, pasangan lesbi bisa bertambah parah kalau keduanya menemukan jalan untuk mengonsumsi alkohol dan narkoba. Jika yang terjadi demikian, pasangan lesbi yang tercipta bukan hanya “pasangan kasih sayang” tapi bisa menjurus ke “pasangan percintaan”. Kita sangat tidak boleh menutup mata karena pengaruh lingkungan yang sangat luar biasa saat ini, Internet dan media audio visual lainnya telah mendidik anak – anak berperilaku negatif, lebih dari yang diketahui oleh orang tuanya, termasuk gejala lesbi bisa lahir dari akibat nonton film bokep di kamar.
Tulisan Terkait :
Buat Apa Keren, Kalau Lesbi jadi Trend ?
Waspadai, Lahirnya Lesbian di Lingkungan Sekolah.