Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Wsitorus

Mahasiswa Farmasi Sedang dalam menyusun Skripsi yang Berkaitan dengan Antikanker. KUNJUNGI BLOG KU : http://citodiarymuslim.wordpress.com/ selengkapnya

Bahaya Ngisap Lem Kambing

REP | 30 October 2011 | 00:08 Dibaca: 1667   Komentar: 5   0

Jangan Ngelem Lagi Bro!

Suatu pemandangan yang sangat memprihatinkan akan terlihat saat melalui beberapa persimpangan jalan di kota medan. Ada pengamen, ada peminta-minta, ku rasa itu sudah hal biasa. Ada yang menurutku luar biasa, yang belum pernah ku temukan dulu waktu di desa.

Suatu ketika saat pulang kuliah, di tengah teriknya matahari, dalam suasana sesaknya angkot 63 mitra, yang memuat penumpang delapan enam, terlihat oleh ku beberapa orang remaja dan ada mungkin yang masih anak-anak. Mereka memegang-megang plastik yang biasanya dipakai kalau misal beli gula putih atau beli minyak goreng kiloan. Aku mengamati salah seorang dari mereka. Sambil menutup matanya, dia sesekali menarik nafas panjang sambil menghirup sesuatu yang ada di dalam plastik tadi.

Astaghfirullah fikir ku. Lem kambing, lem kambing yang wadahnya dari kaleng dan sekarang ada yang bentuk seperti wadah tempat pasta gigi itu ternyata di dalamnya. Kalau di kampung, lem ini ku pakai buat nempel ban sepeda motor yang bocor nih. Kok aneh ya, di Medan kok dihirup-hirup?? :/ Gimana rasanya bro?? Mau nyoba??

Aku sangat penasaran dengan penomena ini. Apa sih alasan mereka ngisap-ngisap lem kambing ini. Karena penasaran tersebut, aku coba browsing di internet apa sih kandungan lem kambing ini kok dihirup-hirup gitu sampai nutup-nutup mata gitu. Apa karena harumnya bisa membuat hipnotik sedatif gitu kali ya. Hahha, dasar anak farmasi. Sulit juga nemuin apa yang ada dalam lem kambing ini, akhirnya setelah sekian lama mencari, dapat juga, itu pun cara membuat lem. Hahhaha…. Tapi, dari sini akhirnya ku dapat cari literatur, dan dapatlah dari teksbuk, apa-apa saja yang terlibat dalam pembuatan lem ini.

Lem kambing disebut juga dengan lem kuning, mungkin karena warnanya yang kuning itu. Lem ini dibuat dari karet dengan mencampurkan karet tersebut dengan Zink oksida atau Magnesium oksida menggunakan alat khusus, sehingga terbentuklah karet yang bentuk lembaran tipis. Lem kambing gak tipis-tipis tapi bro?? Sabar dung, kan belum siap prosesnya! Hehehe…, Selanjutnya lapisan tipis tadi dibuat menjadi pasta menggunakan pelarut. Dengan penambahan panas pada proses ini akan menjadi lebih mudah dan lebih efisien. Setelah itu baru dicampur dengan resin, dan diaduk hingga menjadi lem yang sesuai dengan yang diinginkan yang memproduksinya dung. Apa-apaan neh, ni mau bahas proses produksi lem atau apa??

Hmmm…, sabar bro. Kamu lihat kan yang tulisan warna merah. PELARUT. J.. Emang kenapa dengan pelarut? Iya bro, biasanya industri lem itu menggunakan pelarut organik untuk melarutkan bahan-bahan lem seperti pigmen maupun bahan adhesive nya. Dalam buku Adhesives Technology Handbook dikatan bahwa pelarut yang umum digunakan industry lem adalah sebagai berikut : Toluene, xylene, methyl ethyl ketone (MEK), hexane, meyhylene chloride, trichloroethylene, chloroflourcarbons.

Praktikum kimia organik. Hahai.. Teringat jadinya. Aku masih ingat aroma toluene itu. Aroma lem kambing itu juga jadi teringat waktu nempel ban kereta di kampung, maklumlah, dulu kalau pulang kampung kerjaannya jadi tukang temple ban. Itu dulu, sekarang dah nggak… hahhahha… Memang aroma lem kambing itu gak jauh beda dengan bau toluene, jadi aku bisa menduga memang di lem kambing pake pelarut toluene. Selain itu, lem kambing tu kalau terkena ke kulit rasanya dingin, hampir sama seperti terkena etanol.

Di sini ku cuma bahas pelarut toluene saja dulu ya bro. Nanti, mudah-mudahan akan membahas pelarut-pelarut yang lainnya di lain waktu juga. Okeh..????

Toluena, dikenal juga sebagai metilbenzena, fenilmetana, atau toluol. Rumus kimianya yaitu hampir sama dengan benzene, tetapi ditambah gugus metil pada salah satu atom karbonnya makanya salah satu namanya metilbenzena. Kalau, rumus kimia benzene C6H5, maka rumus kimia toluene jadi C6H5 + CH3 jadi C7H8, gampangkan. Hahhahha.. bilang-bilang gampang, sadar lae, dodol do kimor mu. J

Dalam dunia farmasi toluene digunakan dalam pembuatan pemanis non gula sakarin, anastesi lokal benzokain, dan juga dalam pembuatan asam benzoate. Waw, kalau nggak disalah gunakan memang toluene ini cukup bermanfaat juga untuk kita.

Bagaimana efek paparan toluene terhadap tubuh kita? Dalam tesisnya yang berjudul Analisis Pajanan Toluena Terhadap Profil Darah Pada Pekerja Sektor Industri Penyulingan Minyak Bumi, Agus Warsito (2007) mengatakan, Pemajanan toluena ke dalam tubuh dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan, juga menyebabkan keracunan sistemik dengan efek pada susunan saraf pusat.

Toluena mengiritasi kulit, mata, dan saluran pernafasan. Dapat menyebabkan keracunan sistemik melalui penelanan atau penghirupan dan diserap pelan-pelan melalui kulit. Cara yang paling umum biasanya melalui penghirupan/inhalasi. Gejala keracunan toluena adalah efek pada susunan saraf pusat, seperti sakit kepala, pusing, ataksia, mengantuk, euphoria, halusinasi, gemetar, serangan jantung, dan koma, ventricular arrythmias, pneumonitis kimia, depresi pernafasan, mual, muntah, dan ketidakseimbangan elektrolit.

Mekanisme dimana toluena menghasilkan keracunan sistemik tidak diketahui. Keracunan susunan saraf pusat bisa karena kelarutan toluene dalam lemak dalam membran neoronal. Telah dikatakan bahwa toluene mengganggu fungsi normal dari protein neuronal. Juga telah dikatakan

bahwa keracunan toluena bisa terjadi karena intermediasi metabolis. Keracunan pada susunan saraf pusat umumnya dapat dilihat dalam jangka waktu dekat setelah eksposur, namun efek pulmonari mungkin tidak muncul hingga enam jam setelah eksposur.

Eksposur/ pajanan kronis pada kurang dari 200 ppm toluene telah dihubungkan dengan sakit kepala, kelelahan dan mual. Pekerja yang terus menerus terekspos pada 200-500 ppm telah dilaporkan mengalami hilangnya konsentrasi, daya ingat dan menurunnya nafsu makan. Beberapa pekerja telah mengalami gangguan yang meningkat pada saraf optis setelah eksposur kronis di tempat kerja. Eksposur kronis karena penyalahgunaan pelarut toluena dapat berakibat pada efek neuropsikiatris permanen. Gangguan otot, efek kardiovaskular, kerusakan renal tubular, dan kematian yang tiba-tiba juga dilaporkan terjadi pada penyalahguna

Beberapa penelitian telah meneliti tentang efek neuropsikiatris dari eksposur akut gas toluena. Disfungsi integrasi cerebellar dan susunan saraf pusat mendominasi. Selain itu, disfungsi saraf periferal telah dilaporkan, tapi neuropathies peripheral kemungkinan karena ketidakmurnian komposisi, seperti n-hexane dalam toluena. Penyalahgunaan toluena jangka panjang berakibat pada gangguan neuropsikiatris dan neurobehavioral, yang dalam banyak kasus, tapi tidak semuanya, mengalami kemunduran/ kerusakan. Beberapa penyalahguna toluena kronis telah mengalami kerusakan susunan saraf pusat struktural. MRI dan brainstem auditory yang menampilkan evaluasi respons dari otak penyalahguna toluena kronis menunjukkan perubahan permanen dalam struktur otak yang berkorelasi dengan tingkat disfungsi otak. Hasil MRI memperlihatkan hilangnya kekontrasan area abu-abu-putih, mendifusi supratentorial luka sinyal-tinggi area putih, dan sinyal rendah pada ganglia basal dan otak tengah pada otak penyalahguna toluena yang tidak sehat secara neurofisiologis.

Hmmm…. Bahaya juga ya, bisa sampe menyebabkan kerusakan struktur otak yang permanen, kalau struktur otak nya dah berubah, bisa kita pastikan deh, sifat-sifat orang ini juga kan berubah dung. Demikianlah paparan singkat mengenai toluene si pelarut yang sering dignakan dalam industri lem. Mudah-mudahan bermanfaat… :)

by:wsitorus, 2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: