Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Arimbi Bimoseno

Author: Karma Cepat Datangnya | LOVE FOR LIFE - Menulis dengan Bahasa Kalbu untuk Relaksasi selengkapnya

Melatih Diri Menata Hati #33

OPINI | 14 September 2011 | 17:10 Dibaca: 339   Komentar: 11   5

“Tuhan, kurasakan hatiku sedang melemah, kuatkan hatiku. Ketidaktahuanku akan sesuatu yang mengganggu pikiranku, jadikan prasangka baikku akan sesuatu itu. Kebimbanganku, jadikan keteguhanku. Tuhan, bantu aku dalam memandang segala sesuatu. Aku tak mau menghabiskan waktu dan pikiran untuk hal-hal yang tidak berguna.”

“Ketika ada sesuatu yang merisaukanmu, apakah kamu merasa terancam, merasa akan kehilangan sesuatu. Bisakah kamu melepaskan diri dari pikiran yang membelenggu itu. Ada banyak hal yang layak disyukuri, ada banyak cinta, mengapa satu dua hal yang tidak berkenan di hati, demikian hebat menguasai pikiranmu. Alihkan perhatianmu pada hal-hal yang baik. Hal-hal yang bikin tidak nyaman itu, lupakan, buang, anggap tak pernah ada. Kalau sesuatu itu, yang semakin kamu pikirkan semakin merusak pikiranmu, buat apa, buang-buang waktu, tidak produktif. Fokus saja pada hal-hal yang produktif. Lakukan yang terbaik yang kamu bisa lakukan. Selebihnya, alam semesta akan mengaturnya.”

“Kalau kamu ingin menyenangkan semua orang, itu sesuatu yang tidak mungkin. Kalau kamu masih memaksakan diri untuk menyenangkan semua orang, kamu akan kehilangan jati diri, terombang-ambing dalam lautan lepas, kamu bisa hanyut dan tewas. Teguhlah dengan prinsip yang kamu yakini dan bersikap luwes dalam pergaulan dimanapun dan kapanpun.”

“Tuhan tak pernah bilang hidup itu mudah. Tapi kamu bisa mempola pikiranmu untuk menghadapi segala sesuatu dengan cara mudah. Mudah bukan berarti tidak susah. Kamu tetap menghadapi hal-hal yang susah itu dengan perasaan mudah, positif, optimis, ringan berpikir, ringan melangkah.”

“Jangan terpaku pada gambaran kecilnya, perhatikan gambaran besarnya. Hidup ini bergerak. Gerakan ini pastikan akan mengantarkanmu ke tempat-tempat yang jauh lebih baik.”

“Setelah kamu memulainya, setelah sekian banyak langkah kamu ayunkan, haruskah kamu berhenti dan mundur ke belakang. Hai lihat, betapa banyak hal hebat telah kamu lakukan. Banyak hal sulit bisa kamu terjang. Semestinya kamu jauh lebih kuat kini. Kenapa hal kecil saja bisa mematahkanmu. Ada apa denganmu. Jangan mudah patah. Jangan izinkan hal-hal di luar dirimu mematahkanmu. Teruslah melangkah.”

“Bicara pada Tuhanmu, ‘Tuhan, setelah Engkau jadikan aku baik, jagalah aku, jangan lagi Engkau belokkan hatiku. Tuhan, jadikan aku cahaya bagi sekelilingku. Tuhan, gerakkan aku selaras doa-doaku’.”

Tags: cermin diri

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 7 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 11 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: