Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Wikan Sunindyo

Wikan Danar Sunindyo, seorang pembelajar, saat ini tinggal di Wina, Austria.

Bersih-bersih

OPINI | 20 August 2011 | 14:46 Dibaca: 95   Komentar: 1   0

Kapan terakhir bersih-bersih?

Kegiatan bersih-bersih sebenarnya sudah kita lakukan tiap hari. Selain karena perintah Allah, juga karena kebutuhan kita akan kebersihan, kerapian, kewangian.

Setiap hari kita mandi, berwudhu, membersihkan hati dan pikiran dari pikiran dan niat-niat yang jahat. Sholat yang bisa membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran dan dosa yang melekat di hati kita. Semua itu bikin kita merasa lebih enteng dalam menghadapi hidup. Lho, Tuhan kan bikin agama untuk mempermudah jalan hidup manusia, bukan untuk mempersulit manusia. Makanya kita perlu bersih diri, bersih hati, bersih pikiran.

Selain karena tuntunan agama, bersih-bersih juga bisa kita lakukan di kantor dalam menyelesaikan pekerjaan. Berapa kali Anda membersihkan urusan kantor Anda? Setiap hari? Seminggu sekali? Sebulan sekali? Setahun sekali? Bersih-bersih ternyata penting juga supaya beban pekerjaan bisa lebih ringan. Bersih-bersih di sini mencakup kebersihan arsip-arsip, pekerjaan-pekerjaan lama yang menumpuk yang sudah tidak kita butuhkan.

Kita bukan lagi buat museum kan? Di mana kita mengumpulkan bukti-bukti kejayaan masa lalu buat kita kumpulkan dan tumpuk tak berguna sambil sekali-sekali dilirik. Biarlah pekerjaan kurator, orang musem yang mengurusnya, tapi saat ini kita tidak melakukannya, dan kita tidak ingin melakukannya.

Maka yang kita lakukan adalah bersih-bersih. Kita pilah berkas-berkas mana yang sudah usang dan tidak terpakai, berkas referensi yang perlu digunakan suatu saat, dan berkas yang masih dibutuhkan atau sedang dikerjakan. Untuk berkas yang sudah tidak terpakai ya buang saja segera agar tidak memenuh-menuhi meja Anda. Mungkin kadang-kadang ada rasa sayang saat menatap apa yang ingin Anda buang itu, sambil berharap bahwa suatu saat itu bakal berguna buat kenang-kenangan Anda. Tapi saran saya, Anda harus lebih ikhlas dan membuang hal yang sudah tak berguna supaya Anda bisa merasa lebih enteng.

Ibarat hard-disk, kepala dan otak kita tidak mampu menyimpan data yang terlalu banyak. Pada satu saat tertentu kita harus bersedia membuang memori yang tidak perlu untuk siap mengerjakan hal lain yang lebih baru dengan semangat yang lebih baik. Bersih-bersih ini baik buat kesehatan fisik ataupun mental kita.

Bagaimana dengan urusan negara?

Sama saja. Kita juga perlu membersihkan kekotoran-kekotoran yang terjadi di negera ini. Tentunya dengan sapu yang bersih juga. Sapu yang kotor tidak bisa membersihkan kotoran, justru akan menimbulkan kotoran yang baru lagi. Maka orang perlu membersihkan institusinya dari kotoran-kotoran yang tidak perlu yang masih melekat. Orang yang bersalah harus dihukum dengan adil tidak peduli dengan jasa atau kedekatannya dengan orang penting. Dengan demikian, bangsa ini bisa terbebas dari masalah-masalah di masa lalu yang tidak penting dan bisa dengan enteng melesat menuju masa depan yang lebih baik dan lebih mencerahkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 13 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 15 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 16 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: