Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Muktar Helmi

humoris, gemuk,

Anak tak Punya Karakter Buah Perilaku Orang Tua

REP | 13 April 2011 | 17:22 Dibaca: 501   Komentar: 0   0

Merebaknya perilaku menyimpang di kalangan remaja, merupakan satu bukti kemerosotan akhlak masyarakat. Mereka sudah tidak lagi terikat dengan agamanya. Banyaknya kemaksiatan seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, durhaka kepada kedua orang tua, adalah segelintir contoh dan bukti betapa generasi muslim semakin jauh dari sentuhan nilai-nilai islami.
Dekadensi moral di kalangan generasi muda menyebabkan kurang harmonisnya hubungan antara anak dan orangtua. Sehingga tidak jarang si anak melakukan perbuatan yang kurang baik, sikap dan tindakannya pun sering kali mengecewakan orangtuanya. Yang pada akhirnya akan membuat si anak merasa tidak diperhatikan dan disayangi orangtua, sebaliknya orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya pun merasa tidak dihargai dan dihormati oleh anak anaknya.
Anak anak yang kurang perhatian dan bimbingan dalam keluarga cenderung menjadi nakal dan tidak bertanggung-jawab. Hal ini bisa membuat si anak terjerumus kepada pemakaian narkoba, dia tidak lagi memikirkan masa depannya. Setelah dia dewasa dia tidak begitu peduli dan sayang kepada orangtuanya, sebab dalam pandangannya orangtuanya yang memiliki peranan besar membuatnya tidak berhasil. Seandainya anak berhasil pun kasih sayang dan peduli sama orangtua akan sangat tipis, karena dalam pikirannya yang membuat berhasil adalah dirinya sendiri tampa ada upaya dari orangtuanya.
Tidak bisa dipungkiri kemerosotan moral yang menimpa generasi muda saat ini juga merupakan imbas perilaku orangtuanya sendiri, hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Dra Rustinah bahwa orangtua tampa sadar banyak melakukan kekhilafan, kesalahan atau bahkan kenakalan terhadap anaknya, antaralain sebagai berikut :
1. Kita melarang anak kita berbicara kasar, padahal kita sering berkata-kata kasar pada anak kita.
2. Kita melarang anak kita tawuran atau ringan tangan, padahal kita sering menganiaya mereka anak-anak kita secara fisik, kita suka berkelahi di depan anak-anak kita, suka adu jotos di forum terhormat gedung lembaga legislatif ketika bersidang karena merasa tidak sepaham, yang di saksikan anak-anak kita langsung lewat televisi.
3. Kita melarang anak kita berbohong atau jujur, padahal sudah berapa kebohongan yang kita ciptakan kepada anak-anak kita.
4. Kita melarang anak kita mengkonsumsi narkoba, padahal kita sendiri adalah pemakai dan bandar narkoba itu sendiri.
5. Kita melarang anak kita bergaul bebas atau pacaran, padahal kita sendiri juga melakukan hal yang sama bergaul bebas baik dilingkungan masyarakat, maupun lingkungan kantor yang terkenal dengan nama selingkuh.
6. Kita melarang anak-anak kita minum-minuman keras dan berjudi, padahal kita adalah bandar judi dan pemilik pabrik menuman keras serta peminum dan penjudi.
7. Kita melarang anak kita merokok, padahal dirikita sudah sering membakar uang, dengan merokok di depan mata mereka, dan kita juga menjual rokok dan pemilik pabrik rokok.
8. Kita marah ketika anak kita tidak sholat, atau beribadah, padahal kita suka melalaikan bahkan tidak menunaikan kewajiban sholat.
9. Kita menghimbau agar anak-anak kita jangan mengkonsumsi tayangan yang pornografi, padahal diri kita sering menonton tayangan, membaca, mengakses situs-situs porno tersebut, bahkan kitalah yang memiliki media cetak, penulis naskah, membeli media-media pornografi tersebut.
10. Kita melarang anak-anak kita untuk menonton televisi terus menerus, padahal kita pengkonsumsi paling utama siaran televisi sampai tidak tidur.
11. Kita sering menasehati anak-anak kita untuk tidak berghibah atau memfitnah oranglain, padahal dirikitalah yang suka berghibah dan memfitnah itu.
12. Kita marah ketika tahu anak-anak kita sering nongkrong dan keluar malam, padahal kita juga melakukan hal yang sama, terkadang waktu shubuh baru pulang ke rumah.
13. Kita menasehati anak kita agar rajin sekolah, tetapi kita juga malas bekerja, bahkan sering mangkir dari kantor.
14. Kita mengeluhkan mengapa anak kita malas membaca, padahal kita juga sangat jarang memiliki kebiasaan membaca.
15. Kita sering mengajari mereka anak-anak kita untuk tidak melawan kepada orangtuanya, padahal kita dulunya juga suka melawan orangtua kita.
16. Kita marah ketika tahu anak kita suka mencuri, padahal kita sering mencuri uang negara, atau sering mendapatkan rejeki yang tidak halal.

Maka jangan terlalu berharap kepada anak akan menjadi anak yang patut kita banggakan sebagai orangtuanya, sebab kita sendiri tampa sadar telah membentuk karakter anak tidak sesuai harapan kita. Untuk itu, orangtua harus memberikan perlakuan yang adil serta dibiasakan pula untuk berbuat adil sehingga rasa keadilan dapat tertanam dalam jiwanya, juga dengan nilai-nilai agama dan kaidah-kaidah negara lainnya yang menjadi dasar untuk pembinaan mental dan kepribadian anak itu sendiri.
Kemudian orangtua harus menjadikan dirinya panutan dan teladan bagi anak anak dengan memposisikan diri sebagai orang yang pantas untuk dicontoh. Komunikasi dan interaksi yang harmonis dalam keluarga sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak, maka orangtua harus memberikan nama yang baik kepada anak, pendidikan yang layak dan menempatkannya pada lingkungan yang mendukung untuk keberhasilan anak di masa depan.
Dengan demikian si anak pun akan menyadari betapa kedua orangtuanya sangat menyayangi dan mengharapkan dia untuk berhasil, sehingga bisa menjadi tumpuan keluarga berguna bagi masyarakat bangsa, negara dan agama. Akhirnya sikap dan perilaku mereka pun sesuai denga firman Allah SWT :

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al Isra’ : 23-24)
Sejak kecil harusnya seorang anak tidak dibiarkan berkeliaran di luar kontrol orang tuanya. Orang tua terkadang sibuk mencari nafkah, dengan dalih demi kelangsungan hidup keluarga. Mereka lupa, hakekatnya pendidikan akhlak dan kasih sayang kepada anak adalah lebih penting dari sekedar menimbun uang.
Kita tak perlu heran terhadap mereka yang telah menyia-nyiakan perintah Allah SWT di dalam hak anak dan keluarga mereka. Seandainya api dunia mengenai anaknya atau nyaris menyentuhnya, pasti ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindarkan anaknya dari api tersebut, dan buru-buru pergi kedokter untuk segera mengobati luka-lukanya. Adapun api akhirat, maka ia tidak mau mencoba untuk membebaskan anak-anak dan keluarganya darinya. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam Q.S at-Tahrim :6
artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada meraka dan selalu mengerajakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim:6).
Oleh sebab itu, kedua orang tua harus bangkit melaksanakan kewajibannya terhadap anak, berupa perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang baik, agar kelak menjadi generasi yang dapat memberi manfaat bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Orangtua, terutama ibu, memiliki peranan terbesar dalam pendidikan anak-anaknya. Akan tetapi seringkali mereka tidak mengetahui dari mana mereka harus mulai menanamkan akidah Islam pada buah hatinya, bagaimana mengajarkannya dan bagaimana menancapkannya pada hati mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 5 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: