Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

IQ Hanif 143 (Very Superior) : Apakah Berpengaruh terhadap Prestasinya ?

OPINI | 23 March 2011 | 22:25 Dibaca: 2014   Komentar: 10   2

Kapasitas intelegensi dapat  ketahui melalui tes / pengukuran potensi kecerdasan berdasarkan skala CFIT. Intelegensi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk belajar, berpikir abstrak, dan penyesuaian diri terhadap situasi baru. Skala CFIT (Culture Fair Intelegence Test) yang digunakan dalam pemeriksaan ini lebih pada mengukur kemampuan nonverbal, antara lain kemampuan daya abstraksi, kemampuan berpikir secara sistematis dan logis, kemampuan konsentrasi serta kecepatan dan ketelitian.

Tes CFIT bisa digunakan untuk memprediksi kemampuan umum, namun akan lebih lengkap apabila disertai pula dengan penggunaan tes-tes intelegensi lainnya atau tes-tes kemampuan umum lainnya. Pada dasarnya tes untuk mengukur kemampuan kognitif yang bersifat herediter, namun kemampuan ini bisa berkembang seiring dengan bertambahnya pengalaman / interaksi dengan lingkungan.

Ternyata IQ juga bisa naik / turun loh! Masa sih … Iya! Hanif sudah tiga kali mengikuti tes IQ pertama saat TK A dengan skor IQ 101 (Average), lalu kelas 1 SD dengan skor 143 (Very Superior), dan ketika duduk di kelas 3 SD mendapatkan skor IQ 130 (Superior). Bagi ku sebagai orangtua merasa memperoleh manfaat bukan hanya dari skor IQ Hanif, namun dari konsultasi dengan Psikolog.

Aspek-aspek kepribadian yang dinilai diantaranya adalah : (1) Kemampuan daya tanggap /mencerna dan memahami instruksi-instruksi yang besifat komplek dan diberikan secara lisan; (2) Kemampuan beradaptasi / menyesuaikan diri dengan membawa dirinya kepada lingkungan yang baru atau pernah dialaminya; (3) Kemampuan berimajinasi / daya khayal, ide-ide yang berhubungan dengan daya cipta berupa seni atau arsitektur; (4) Kemampuan logika dan penalaran kritis / memahami persoalan praktis, menyesuaikan diri pada keadaan sekitar dan rasional; (5) Kemampuan konsentrasi dan ketelitian / ketahanan untuk memusatkan perhatian pada suatu tugas selama jangka waktu tertentu dan tidak mudah dialihkan; (6) Kemampuan analisa sintesa / mengamati masalah, menyimpulkan dan memecahkan masalah; (7) Kemampuan motorik dan kreatifitas / mengkoordinasikan mata, tangan, gerak motorik syaraf dan otot secara terkendali dan terarah, diikuti dengan kreatifitas.

Poin 1,2,4,dan6 Hanif mendapat nilai baik sekali, sedangkan poin 2,5,dan 7 mendapat nilai baik. Aku memahami mengapa Hanif memang masih harus dibantu dan diberi motivasi agar bisa konsentrasi dan teliti. Lucunya … Ia seringkali merasa dan memang terbukti sudah bisa / menguasai materi, namun karena kurang teliti … salah jawab deh! Ya … aku jadi maklum …

Sekali lagi, setiap anak adalah individu unik. Perlu pemahaman mendalam  tentang kelebihan ataupun kelemahan anak sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya dengan optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, menilai kemampuan anak tidak cukup hanya berdasarkan skor IQ. Pemberian label tertentu bisa menyebabkan orangtua ataupun anak menjadi putus asa. Karena seringkali usaha keras, ketekunan, dukungan orangtua, akan lebih mendukung prestasi belajar daripada sekadar ukuran kecerdasan.

Minat, gaya belajar, stimulasi lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan anak. Selain faktor-faktor bawaan. Dengan demikian, apabila di dapatkan bahwa skor IQ tergolong kurang, perlu melihat kelebihan anak selain hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, misalnya bakat anak di bidang seni, olahraga, ataupun dalam hubungan interpesonal. dimana bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes intelegensi. IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan termasuk bakat-minatnya.

Apa pengaruhnya penggolongan tingkat kecerdasan dalam pencapaian prestasi anak / murid di seklah maupun kehidupan pada umumnya ? Anak yang cerdas akan lebih mudah dan lebih cepat dalam menyerap pelajaran, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga perlakuan orangtua / guru terhadap anak  / murid dapat disesuaikan dengan kemampuannya.Dengan demikian dalam upaya mengembangkan potensi anak / murid, peran orangtua dan guru sangat diperlukan, dengan cara antara lain : mengembangkan komunikasi positif dengan anak / murid, memberikan penghargaan, dan menghindari kritik yang berlebihan, memberi kesempatan kepada mereaka dalam mengekspresikan kemampuannya,s erta mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk belajar.

Bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung kaitan antara intelegensi ddan keratifitas. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kratifitas yang rendah pula. Namun, semakin tinggi skor IQ tidak selalu diikuti tingkat kratifitas yang tinggi pula. Apabila prestasi yang dicapai anak selama ini sudah sesuai dengan potensinya maka orangtua tidak boleh memporsir serta selalu merasa kruang. Namun, apabila prestasi anak jauh di bawah potensinya, orangtua seharusnya mencari penyebabnya, apakah disebabkan oleh faktor anak, orangtua, guru, lingkungan sekolah, lingkungan rumah, penyakit atau hal lainnya. Karena untuk berprestasi tidak hanya faktor kecerdasan saja yang berperan, tapi masih banyak faktor lain misalnya : motivasi belajar, kondisi keluarga, cara guru mengajar, disipllin, bimbingan, dan sebagainya.

13342137811555118522

Kecerdasan naturalis cukup menonjol dalam diri Muhammad Hanifz Haidar Hanif : dia senang memelihara hewan dan tumbuhan. Hobinya di waktu libur sekolah berpetualang di alam bebas (ketimbang di mal). Begini gaya asyiknya ‘nangkring’ di pohon besar Kebun Raya Bogor.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Belum Dapat Konfirmasi e-Ticket …

Kompasiana | | 16 November 2014 | 00:48


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 9 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Rindu Sua Denganmu …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Siapa yang Peduli Pada Anak Perempuan yang …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Pentingnya Guru Menulis …

Maria | 7 jam lalu

Grüezie !! Pesona Musim Gugur di Danau …

Cahayahati (acjp) | 7 jam lalu

Hari Televisi Sedunia, Menjaga Idealisme dan …

Khairunisa Maslichu... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: