Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Eddi Kurnianto

orang kecil dengan mimpi besar.

Bunuh Diri dan Media Massa

OPINI | 05 March 2011 | 06:45 Dibaca: 1440   Komentar: 7   1

Eddi Kurnianto

“Pelaku bunuh diri bukan korban, mereka adalah pelaku kejahatan.

Dan sebuah kejahatan yang serius!”

Media Massa dan penyebaran ’virus’ bunuh diri

26 desember 2010.

Wahyu Ningsih (19 tahun), siswi sebuah SMKN di Muaro Jambi tewas menelan racun jamur tanaman. Ia adalah peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam SMS yang dikirim sebelum menelan racun, gadis itu mengaku sangat syok karena amplop berisi keterangan kelulusan menyebutkan bahwa ia harus mengulang tes Matematika pada bulan Mei nanti.

“Kami sebenarnya diingatkan oleh guru supaya membuka amplop setelah sampai rumah saja,” kata Mimi, rekan Ningsih, saat mengenang kejadian Senin siang lalu.

Menurut Mimi, Ningsih menjadi satu satunya murid yang tak lulus di antara siswa kelas III di sekolahnya. Mungkin karena itu pula Ningsih sangat sulit ditenangkan ketika sedang histeris. Saking terpukulnya, Ningsih malah sempat rebah di tanah, membiarkan pakaiannya kotor.
Ia lantas diantar pulang ke rumahnya di Desa Muara Jambi oleh satu rombongan. Para pengantar tersebut terdiri atas lima guru dan tiga siswi teman dekatnya. Selama dalam perahu yang mengantarkan mereka menyeberangi Sungai Batanghari, Ningsih tetap tak henti menangis.

Masih menurut kesaksian Mimi, sekitar pukul 14.30 rombongan tiba di rumah orangtua Ningsih. Para pengantar pun tak langsung pulang. Mereka tetap menemani dan menghibur Ningsih selama sekitar sejam. “Tapi, selepas asar, sekitar pukul empat, dia kirim SMS kepada saya. Ia meminta saya dan kawan kawan supaya datang ke rumahnya nanti malam dan menjelaskan ketidaklulusannya kepada orangtuanya,” kata Salmi (18), sahabat Ningsih yang lain.

Pesan pendek itu lantas disambungkan kepada Mimi. Keduanya sepakat untuk mendatangi rumah Ningsih pada Senin malam. Namun, ketika mereka datang ke rumah Ningsih sekitar pukul 19.30, sahabat mereka itu telah dilarikan ke rumah sakit.

Ternyata Ningsih melakukan upaya bunuh diri. Ia diperkirakan melakukan tindakan meracuni diri sekitar pukul 15.30 atau 16.00. Itu terjadi setelah kakaknya pergi meninggalkan rumah untuk membantu persiapan hajatan di rumah tetangga.

Paman korban, Subrata (29), mengatakan, sebelum menelan serbuk fungisida, Ningsih telah mengeluhkan ketidaklulusannya kepada kakaknya, Haris. Sepengetahuannya, Ningsih bercerita bahwa ia khawatir akan mendapat marah dari orangtuanya. Sang kakak pun sempat menenangkannya.

Selepas itu, Ningsih terlihat tenang. Ia bahkan sempat mencuci pakaian seragamnya yang kotor, juga mengambil air wudu dan shalat. Sayangnya, ketika sang kakak pulang ke rumah sekitar maghrib, Ningsih sudah dalam kondisi lemas di dalam kamarnya. Mulut gadis itu pun berbusa. Gadis malang itu lantas dilarikan ke Rumah Sakit Bratanata, Kota Jambi.

Ketika mobil yang mengangkutnya mampir di Desa Jambi untuk mengisi bensin, denyut nadi Ningsih masih terasa. Namun, nasib berkata lain, nyawanya tetap saja tak tertolong begitu sampai di rumah sakit sekitar pukul 19.00.wib.

Sumber : http://regional.kompas.com

Perhatikan cara penulisan berita tentang bunuh diri diatas.

Sang penulis, menyampaikan berita itu dengan bertutur. Pembaca langsung tertarik dengan awal tulisan yang dibuat kontradiktif; peraih nilai tertinggi ujian nasional Bahasa Indonesia di sekolahnya, melakukan bunuh diri hanya karena ada mata pelajarannya yang harus mengulang. Kalimat itu secara langsung ditujukan untuk memberi landasan logika berpikir paragraf berikutnya, dimana seorang teman memberi kesaksian bahwa Ningsih stress berat karena ada mata pelajarannya yang tidak lulus.

Penulis seolah telah memutuskan bahwa yang harus dijadikan alasan bunuh diri itu adalah karena Ningsih menerima nilai jelek. Seolah-olah, hanya karena sekali menerima nilai jelek, Ningsih memutuskan mengakhiri hidupnya. Tentunya itu penyederhanaan yang salah kaprah. Sulit sekali membayangkan orang memutuskan bunuh diri hanya karena ’satu’ sebab.

Lebih besar kemungkinannya, nilai jelek itu hanyalah pemicu keputusan bunuh diri Ningsih, setelah sebelumnya ada akumulasi depresi atau beban pikiran yang membebaninya. Tentunya sang penulis juga mengerti hal itu, tapi demi kepentingan dramatisasi cerita ia memutuskan memfokuskan ke salah satu penyebab utama, daripada berusaha menggali lebih dalam.

Sebagai seorang jurnalis, saya bisa mengerti alasannya. Berita bunuh diri bukan berita besar, ditambah keterbatasan ruang cetak dan deadline sang penulis, yang juga wartawan memutuskan melakukan reportase sekedarnya untuk kasus ini.

Sang penulis juga membahasakan pelaku bunuh diri sebagai korban. Dengan simpati yang tinggi, ia juga membahasakan Ningsih dengan gadis malang. Ini sepertinya standar perlakuan media massa terhadap pelaku bunuh diri. Korban bunuh diri di citrakan sebagai orang yang menderita. Orang yang mengalami tekanan dunia berlebihan. Padahal kalau dilihat dari cerita di atas, Ningsih bukan gadis malang, ia gadis pintar berprestasi dan punya pergaulan normal.

Lagi-lagi alasannya mungkin demi dramatisasi berita itu. Seorang yang tertekan dan penuh derita, tak tahan dan akhirnya mengambil jalan pintas membunuh diri, memang kelihatan lebih dramatis, daripada jika digambarkan bahwa pelaku bunuh diri sudah mempertimbangkan dengan cermat perilakunya, merancang cara bunuh diri rapi sebelum melakukan niatnya.

Bunuh diri memang sedang kembali tren akhir-akhir ini. Kalau tidak percaya, tonton saja berita-berita pagi di berbagai televisi di Indonesia tercinta ini. Dalam seminggu minimal akan muncul 4 berita bunuh diri. Tidak seperti kasus perampokan atau korupsi yang dianggap sebagai kejahatan besar, bunuh diri seolah-olah hanya kejahatan kecil dengan hanya seorang korban, yaitu orang yang bunuh diri tersebut. Bahkan ada orang yang merasa bunuh diri itu bukan kejahatan, karena tak ada orang lain yang terpengaruh. Tapi sebenarnya tidak begitu.

Pemakaian kata ‘korban’ bagi pelaku bunuh diri, menurut saya, tidak tepat ditujukan kepada orang yang bunuh diri. Mereka (atau ia) melakukan sebuah tindakan atas keputusannya sendiri – yang mengakibatkan kematian ataupun tidak – maka ia seharusnya disebut sebagai pelaku, bukan korban. Media massa selaku pihak yang menyampaikan berita bunuh diri ini seringkali melakukan kesalahan dengan menyebut orang yang bunuh diri sebagai korban.

Menganggap orang yang bunuh diri sebagai korban, tentunya salah kaprah. Mungkin orang itu adalah korban dari sebuah kejahatan lain, korban dari tekanan dunia, atau korban ketidaktanggapan orang-orang sekitarnya, tapi tetap saja, saat dia melakukan bunuh diri, dia adalah pelaku yang nyata dari kejahatan mencabut nyawa seseorang. Bahkan kalau orang yang dibunuh itu adalah dirinya sendiri.

Kebiasaan menganggap pelaku bunuh diri sebagai korban juga memperkuat tekanan sosial yang diterima anggota keluarga yang ditinggalkannya. Apalagi sebenarnya bunuh diri tetaplah kejahatan yang memiliki multiple victim. Dengan menganggap pelakunya sebagai korban, maka seolah-olah menuduh ada orang lain yang menjadikannya korban. Padahal bunuh diri adalah aksi yang ditentukan secara sepihak dan individual.

Ningsih mungkin menyangka, setelah ia bunuh diri maka masalahnya akan selesai. Keluarganya tinggal memakamkannya dan cerita pun berakhir. Tapi dia keliru. Masalah Ningsih memang selesai, tapi masalah keluarga dan orang-orang sekitarnya baru saja dimulai.

Keluarganya harus berurusan dengan polisi, karena Ningsih bunuh diri. Kemudian ada pemakaman dan surat menyurat kematian, yang pastinya jadi lebih rumit karena kematiannya tak wajar. Belum lagi kalau ada masalah kredit dan utang piutang. Semua permasalahan itu akan ditinggalkan untuk yang masih hidup. Tapi bukan itu yang saya anggap sebagai masalah besar.

Kematian yang tidak wajar akan membawa konsekuensi sosiologis yang bisa lebih menekan daripada segala urusan harta dan surat menyurat. Hukuman dari masyarakat sekitar pun bentuknya bermacam-macam, mulai sekedar omongan dibelakang punggung sampai pengucilan.

Ketika seseorang membunuh diri, maka keluarga itu selamanya akan di cap sebagai keluarga yang ada anggotanya bunuh diri. Bahkan sepuluh tahun kemudian ketika anaknya akan menikah, misalnya, maka ia tetap akan menjadi ’anak yang bapaknya bunuh diri’.

Belum lagi kecenderungan manusia (baca: tetangga) untuk ingin tahu[1] dan berusaha merasionalisasikan sebuah kejadian akan membuat mereka berusaha mencari tahu alasan atau penyebab bunuh diri itu. Celakanya, dalam kejahatan bunuh diri, justru alasan atau motif tersebut yang paling sulit diungkap.

Keluarga dan Kerabat, Korban sesungguhnya

3 Januari 2011.

Malam menunjukkan pukul 9. Windi, warga jalan Jembatan Kenari, RT 01 RW 01, Kel. Cilangkap - Depok, merasa haus sekali. Malam itu udara memang terasa panas. Gadis berusia 20 tahun itu menuju ke dapur untuk mengambil air, tapi apa yang ditemukannya disana membuat rasa hausnya sirna.

Windi melihat ayahnya Parno, yang berusia 42 tahun, tergantung di kuda-kuda atap dapur dengan leher terlilit kabel putih. Lidah ayahnya menjulur keluar. Sekali lihat saja Windi tahu nyawa bapak tiga anak tersebut sudah tidak sempat ditolong lagi. “ Saat mau mengambil air minum di dapur, saya melihat Bapak sudah tergantung,” Windi menceritakan penemuan itu dengan wajah berlinang air mata.

Windi pun berteriak keras…

Teriakan itulah yang menghebohkan warga hari Senin tanggal 3 januari lalu. Polisi yang datang kemudian memastikan Parno bunuh diri, karena tak ada tanda-tanda kekerasan atau pemaksaan. Warni, istri Parno ingat bahwa sebelum meninggal, usai salat magrib, Parno sempat minta izin pada keluarganya untuk mencari pekerjaan baru sebagai tambahan biaya hidup keluarga. Tak dinyana, malam yang sama Parno malah mengakhiri hidupnya.

Menurut Hj, Salim Chotimi, Ketua RT disana, tak ada tanda-tanda Parno akan mengakhiri nyawanya sendiri. Parno dikenal warga baik, sopan, dan bisa menghargai orang yang lebih tua. Usaha penjualan air mineral yang sudah ditekuni selama 4 tahun juga cukup sukses, Parno mempunyai banyak pelanggan. Rencananya korban akan dimakamkan di TPU Cilangkap.

—–

Dalam kasus Parno diatas. Para tetangga dan bahkan keluarga akan berusaha menduga-duga alasan bunuh diri itu, dan yang lebih parah lagi, siapa yang bisa dipersalahkan terhadap kejadian yang menimbulkan aib tersebut. Parno sudah meninggal, jadi ia tak mungkin dipersalahkan (walau secara logika sebenarnya dia satu-satunya yang bersalah) apalagi kalau di analogikan bahwa dia adalah ’korban’ dari kejahatan bunuh diri.

Kalau Parno adalah korban, maka ada pelaku lain yang membuatnya menjadi korban. Itu penalaran yang sederhana. Kalau didasarkan dengan pernyataan itu, maka segera saja akan timbul saling menyalahkan dan mencari kambing hitam.

Segera akan kasak kusuk dari luar keluarga yang mempertanyakan, kenapa Parno membunuh diri? Jangan-jangan ada tekanan dari keluarga? Jangan-jangan ada rahasia hitam keluarga? Jangan-jangan… dan seterusnya.

Bunuh diri juga adalah salah satu jenis kejahatan yang motivasi atau alasannya jarang sekali terungkap. Keluarga, teman-teman dan siapapun yang berhubungan dengan pelaku bunuh diri terpaksa menduga-duga alasan kejadian itu.

Diantara keluarganya sendiri pun akan timbul pertanyaan yang sama, kenapa dia melakukan bunuh diri? Apakah ada kata-kata yang salah? Apakah ada kelakuan yang menyinggung pelaku sehingga bunuh diri? Siapa yang harus dipersalahkan dalam kejadian itu? Karena keluarga tak bisa menyalahkan pelaku, mereka bisa-bisa malah saling menyalahkan. Tanpa disadari timbul kecurigaan dan saling menyalahkan. Bagai api dalam sekam, kondisi itu bisa menimbulkan depresi atau stress pada anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saat seorang pelaku bunuh diri melepaskan stress dan depresinya dengan menghilangkan nyawanya sendiri, sebetulnya ia tengah mengalihkan stressnya pada semua orang yang ditinggalkan. Bahkan bukan hanya bebannya, tapi malah berlipat ganda.

Walaupun secara fisik mungkin tidak terlihat, tapi sebuah peristiwa bunuh diri akan meninggalkan goresan luka psikologis bagi banyak sekali orang yang ada di sekitar pelaku. Jadi sekali lagi, orang yang bunuh diri adalah pelaku kejahatan dan bukannya korban.

Repotnya luka psikologis ini justru sangat sulit sembuh. Saya umpamakan seperti trauma yang ditimbulkan peristiwa pemerkosaan pada sang korban. Secara fisik mungkin sang korban bisa sembuh sempurna, tapi secara psikologis peristiwa itu akan sangat sulit dilupakan dan akan selalu menjadi trauma. Begitu juga dengan bunuh diri.

Walaupun pelakunya sudah meninggal, kerepotan yang ditinggalkannya tak begitu saja selesai. Kerabat dan keluarganya akan menderita tekanan, baik dari luar (lingkungannya) maupun dari dalam nuraninya.

Dengan pertimbangan itu, Plato berabad-abad yang lalu, punya pendapat yang keras mengenai pelaku bunuh diri. Menurut Filsuf itu bunuh diri adalah tindakan pengecut atau sejenis kemalasan yang diambil oleh seorang individu yang terlalu rapuh untuk menghadapi kemalangan-kemalangan yang diberikan kehidupan[2]. Kalau ada seseorang melakukan bunu diri untuk melepaskan kerabat atau keluarganya dari masalah yang mengikutinya, itu sudah pasti ’bohong besar’. Pelaku bunuh diri hanya tak berani dan tak ingin menghadapi masalahnya. Mereka egois dan memilih lari dari masalahnya, sambil meninggalkan masalah lebih besar pada orang-orang yang menyayanginya. Plato menganalogikannya dengan sebuah sifat; Pengecut!

Saya cenderung setuju dengan pendapat itu, bunuh diri adalah kejahatan yang sesungguhnya.

Bagaimana Media Memicu Virus Bunuh Diri?

Sebelum mulai membahas tentang kemungkinan media massa menyebarkan virus bunuh diri, ada baiknya melihat dulu penyebab bunuh diri itu sendiri. Secara sederhana ada tiga faktor yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan untuk bunuh diri dan lalu melaksanakannya.

1. Faktor penyebab

Jarang sekali ada faktor penyebab tunggal. Tekanan dunia terhadap seseorang dan pandangan negatifnya terhadap dunia, mempermudah seseorang menderita depressi yang pada gilirannya membuatnya menarik kesimpulan; bahwa bunuh diri merupakan pilihan untuknya. Karena tumpukan beban yang menjadi factor penyebab ini, maka sang pelaku bunuh diri mulai mereka-reka niat melakukan bunuh diri. Memang baru niat, tapi karena niat itu pula mereka (atau otak mereka) akan mengumpulkan informasi penting terkait keinginan bunuh diri itu. Mereka mulai menyusun scenario dan cara yang dianggap paling tepat untuk melakukan bunuh diri.

2. Faktor pendukung

Disini media massa berperan besar. Media membentuk pemahaman pemirsanya terhadap dunia. Dalam buku tipping point, Malcolm Gladwell menyampaikan bahwa walaupun tidak mempengaruhi secara langsung, tapi penayangan bunuh diri di media bisa memberikan pembenaran dan, pada kasus pribadi yang tengah depresi, menjadi petunjuk yang seolah-olah menunjukkan bahwa pola pikir depresif yang dimilikinya adalah pola pikir yang sewajarnya.

Selain itu, yang termasuk faktor pendukung adalah contoh contoh cara melakukan bunuh diri. Media jadi supplier yang tepat untuk itu.

3. Faktor pemicu

Faktor pemicu adalah faktor terpenting yang menyebabkan pelaku bunuh diri menjalankan niatnya. Terkadang faktor pemicu ini sangat sederhana, sekedar tidak lulus sebuah mata pelajaran seperti Ningsih, atau malah hal yang hanya ada di pikiran sang pelaku bunuh diri seperti Parno. Dalam pemberitaan media seringkali faktor pemicu dari bunuh diri ini yang sangat disederhanakan. Pemicu ini sebenarnya sangat personal. Sesuatu yang untuk orang lain hanya dianggap hal kecil, bagi pelaku bunuh diri mungkin adalah sesuatu yang menentukan apakah dia rela meninggalan dunia ini atau tidak.

Faktor penyebab yang paling sering jadi kambing hitam bunuh diri adalah depresi. Kebanyakan tulisan dalam media massa menyalahkan depresi, tapi jarang sekali menjelaskan tentang depresi tersebut. Seringkali depresi disalahartikan sebagai stress yang dialami oleh pelaku bunuh diri, Padahal stress tidaksama dengan depresi.

Apa sih yang dimaksud depresi? Beck (dalam McDowell & Newel, 1996) mendefinisikan depresi sebagai keadaan abnormal suatu organisme yang dimanifestasikan dengan gejala-gejala seperti: menurunnya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap nihilistik, kehilangan spontanitas dan gejala vegetatif (seperti kehilangan berat badan dan gangguan tidur). Depresi juga merupakan kompleks gangguan yang meliputi gangguan afeksi, kognisi, motivasi dan komponen perilaku.  Beck juga mengungkapkan gejala – gejala depresi, antara lain:

  1. Manifestasi emosi. Seperti suasana hati yang pedih dan pilu, tidak menyukai diri sendiri (perasaan negatif pada diri sendiri) hilangnya atau kurangnya respon gembira pada situasi yang menimbulkan kesenangan, hilangnya rasa senang dan menangis.
  2. Manifestasi kognitif. Berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, pikiran – pikiran negatif terhadap masa depan, menyalahkan, mengkritik atau mencela diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan dan gambran yang salah tentang diri sendiri.
  3. Manifestasi motivasional. Hilangnya motivasi untuk melakukan segala aktivitas, keinginan untuk menghindar dan menarik diri, meningkatnya ketergantungan dan yaitu menginginkan bantuan, pegarahan dan bimbingan.
  4. Manifestasi fisik dan vegetatif. Seperti hilangnya nafsu makan, mengalami gangguan tidur, hilangnya nafsu sexual, perasaan lelah yang sangat berat, gangguan berat badan dan kemampuan fisik

Dari penjelasan diatas, terlihat bahwa gejala depresi sebenarnya cukup mudah terdeteksi. Bagi anggota keluarga, beberapa dari gejala tersebut akan dapat terlihat pada kegiatan komunikasi dan aktivitas sehari-hari. Setelah mengetahui ciri-cirinya diharapkan keluarga dapat menjadi filter awal dari kondisi depresi, agar tidak berkembang menujutindakan ekstrim seperti bunuh diri.

Depresi sebetulnya tidak lantas menghasilkan keputusan bunuh diri. Ketua program studi doktoral fakultas psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk[3], menyampaikan bahwa keputusan membunuh diri sangat tergantung pada fleksibilitas individu. Menurutnya, “ada yang memiliki kelenturan pikiran, sehingga meskipun didera masalah bertubi-tubi dan seakan tanpa jalan keluar, pikiran bunuh diri tetap tak pernah terlintas.” Hal itu terkait dengan mekanisme setiap orang yang berbeda-beda , untuk memecahkan masalah.

Jadi sekalipun depresi menyerang, maka keputusan terakhir setiap individu pasti berbeda. Hubungan orang yang mengalami depresi dengan lingkungan sekitar, keluarga dan Tuhan, sangat menentukan bagaimana ia mengambil tindakan untuk menghadapi depresinya tersebut.

Sementara yang dimaksud dengan stress tidak selalu identik dengan depresi. Stress adalah tekanan yang dialami manusia.  Stress adalah sebuah keniscayaan, orang hidup pasti mengalami stress. Dalam lingkungan keluarga, kerja atau bahkan pergaulan, setiap manusia selalu diterpa dengan tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi untuk bisa terus bertahan dalam lingkungannya itu. Tuntutan-tuntutan itu menimbulkan tekanan yang disebut stress. Bila di sikapi dengan baik, stress itu justru akan memacu perkembangan dan prestasi. Jadi tidak bisa disederhanakan bahwa stress adalah penyebab sebuah tindakan ekstrim seperti bunuh diri.

Media massa terutama televisi, adalah salah satu faktor pendukung yang paling sederhana, dan punya jangkauan paling luas pada para penderita depresi. Apalagi menonton TV biasanya menjadi salah satu pilihan kegiatan para penderita depresi akut. Sayangnya justru media ini yang seringkali kurang pertimbangan dalam menayangkan bunuh diri. Gambar-gambar vulgar dan detail dianggap seksi, dan memang, mendorong pemirsa lebih lama menonton beritanya. Padahal gambar-gambar seperti itu yang bisa memicu ‘penularan’ virus bunuh diri.

Menularnya perbuatan bunuh diri ini sebenarnya sudah sejak lama diyakini dan diteliti para ahli sosial. Mereka yakin, bunuh diri, di tempat-tempat tertentu dengan situasi tertentu, dapat menular. Dalam bukunya; Tipping Point, Malcolm Gladwell[4] menceritakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang Sosiolog di University of California, di San Diego. Peneliti itu bernama David Phillips.

David Phillips memimpin sebuah tim yang melakukan sejumlah penelitian tentang bunuh diri. Mereka membuat daftar semua cerita seputar bunuh diri yang ada di halaman depan surat kabar terkemuka selama duapuluh tahun! Mulai dari 1940an sampai 1960an. Mereka kemudian mencocokan data tersebut dengan statistik bunuh diri pada kurun waktu yang sama. Ia ingin melihat apakah ada hubungan antara kedua data tersebut. Hampir dapat dipastikan hubungan tersebut ada.

Tidak lama setelah sebuah cerita mengenai bunuh diri muncul, statistik bunuh diri di daerah pemasaran Koran tersebut ikut melonjak. Apabila kasus bunuh diri itu berskala nasional, maka statistic bunuh diri nasional juga meningkat (saat itu contohnya adalah kematian Marilyn Monroe –yang diduga bunuh diri- diikuti kenaikan statistik bunuh diri nasional sampai 12 persen).

Menurut Gladwell, efek penularan yang dibicarakan Phillips bukan sesuatu yang rasional atau terjadi secara sadar. Penularan atau persebaran ‘virus’ ini tidak bersifat persuasif. Dalam hal ini sifat penularannya jauh lebih samar. Analoginya adalah seperti yang dikatakan oleh Phillips;

“Sewaktu menunggu lampu lalu lintas yang sedang merah padahal jalanan sedang kosong, kadang-kadang saya terpikir untuk menerabas,” katanya. “Ketika tiba-tiba ada orang lain yang melakukannya (menerobos lampu merah), maka saya pun ikut melanggar lampu merah. Ini semacam meniru. Saya seolah-olah mendapat izin dari orang lain untuk melakukan perbuatan menyimpang (deviance). Apakah itu keputusan yang sadar? Saya tidak tahu. Kalau setelah kejadian dibahas lagi saya bisa menyebutkan berbagai alasan, tapi pada saat kejadian kita tidak tahu apakah keputusan itu dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Pengambilan keputusan adalah proses yang rumit yang belum sepenuhnya dimengerti.”

“ Cerita bunuh diri adalah semacam iklan alamiah tentang salah satu cara menuntaskan masalah.” Lanjut Phillips. “ Anda tentu pernah bertemu dengan seseorang yang menderita depresi dan karenanya sulit mengambil keputusan. Mereka hidup menahan penderitaan. Sementara banyak berita yang secara tidak langsung mengiklankan cara mengatasi penderitaan itu…. “berita atau cerita bunuh diri, dengan sendirinya menawarkan salah satu bentuk pemecahan alternatif.”

Sifat media massa sendiri memungkinkannya menjadi faktor paling efektif dalam menularkan keinginan bunuh diri dan mendukung keputusan bunuh diri bagi mereka yang sudah memiliki niat untuk itu. Sebuah reportase berita di televisi akan dipercaya sebagai pemaparan fakta yang sesungguhnya terjadi, apalagi karena dilengkapi dengan bukti-bukti berupa gambar sehingga segala yang diungkapkan akan menjadi fakta dan kebenaran, paling tidak bagi pemirsa awam. Padahal reportase itu sendiri seringkali hanya hasil pencarian data sederhana. Saat penulisan, seringkali ada kelemahan dalam prosesnya yang membuat informasi yang ingin disampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pemirsa.

Misalnya dengan contoh di awal tulisan ini. Ningsih yang pelaku bunuh diri, dibuat seolah-olah korban yang ‘terpaksa’ bunuh diri karena sebuah kisah tragis. Sang reporter penulis naskah dengan pandai menggiring pemirsa untuk bersimpati pada Ningsih, seolah-olah bunuh diri adalah sesuatu yang dipaksakan padanya. Sang pelaku dijadikan korban, dan kejahatan yang dilakukannya (bunuh diri) jadi terkesan agak romantis. Kesan itu akan mengendap dipikiran pemirsa, mungkin bahkan menumbuhkan simpati pada sang pelaku bunuh diri. Akibatnya lambat laun, tindakan bunuh diri yang dilakukan pelaku juga bisa dianggap wajar buat pemirsa.

Tentunya juga tidak bisa diartikan sebaliknya, bahwa siaran mengenai bunuh diri di televisi menyebabkan orang melakukan bunuh diri. Televisi tidak sehebat itu! siaran di televisi, walaupun kuat, hanyalah faktor pendukung, yang hanya mempengaruhi seseorang yang sudah memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Bagi orang yang tidak memiliki faktor penyebab, seperti depresi, kebosanan atau pola pikir yang dipengaruhi tekanan, siaran televisi berupa pemberitaan sebuah peristiwa bunuh diri seperti itu mungkin hanya sekedar informasi. Tapi bagi mereka yang sudah merasa bahwa bunuh diri adalah jawaban dari permasalahannya, maka berita bunuh diri itu bisa dianggap sebagai contoh, pembenaran atau bahkan petunjuk untuknya.

Fenomena bunuh diri yang menular juga dapat dipicu oleh pemberitaan media yang tidak proporsional.  Media yang memuat foto korban secara berlebihan atau yang mengungkap secara detail teknik korban melakukannya. Hal ini akan memunculkan preokupasi (pikiran berulang) tentang bunuh diri yang telah direncanakan, dan tidak mungkin malah memberi ide cara melakukan bunuh diri.

Kita lihat trend bunuh diri dengan melompat dari gedung bertingkat. Pada bulan Desember 2010 saja, di Jakarta, ada 8 peristiwa bunuh diri (dan sebuah percobaan gagal) dengan melompat dari gedung bertingkat, empat diantaranya dari pusat perbelanjaan.

Menurut Psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Univeritas Indonesia, Dra Yati Utoyo Lubis MA. PhD, Pelaku bunuh diri selalu memikirkan terlebih dahulu aksinya. “Mereka yang ingin melakukan bunuh diri akan mencari cara yang paling gampang. Memotong pembuluh darah mungkin akan terasa sakit dan belum tentu akan selesai. Mungkin yang paling gampang adalah melompat dari ketinggian. Mereka mencari tempat yang pasti akan berhasil, jadi dicarilah gedung- gedung bertingkat.[5]” Dan darimana lagi mereka memperoleh referensi tentang lokasi bunuh diri paling ideal dan pasti berhasil, kalau bukan dari contoh-contoh di media massa.

Saat sebuah peristiwa (atau beberapa peristiwa yang mirip) tayang di berita televisi, pemirsa yang sudah memiliki kecenderungan untuk membunuh diri bisa merasa bahwa bunuh diri seperti yang muncul di televisi adalah cara yang tepat untuknya. Dengan kemajuan televisi, dan pemberitaan yang semakin detail melukiskan sebuah kejadian, orang bisa merasa seolah olah menyaksikan langsung kejadian itu. Apalagi media televisi dilengkapi gambar bergerak untuk menambah kuat kesan yang diterima penonton.

Melompat dari gedung bertingkat, apalagi gedung publik seperti mall dan perkantoran, akan diberitakan di televisi dan lebih menghebohkan masyarakat. Bagi seseorang yang merasa tidak diperdulikan dan merasa tak berarti, yang seringkali menjadi akar depresi, cara bunuh diri yang mendapat banyak sorotan dan menghebohkan itu bisa jadi sangat menarik. Apalagi pemberitaan berlebihan di televisi, dapat membuat si pelaku pembunuhan menjadi “bintang” walau hanya untuk beberapa saat.

Menurut dr Surjo Dharmono, dokter spesialis kesehatan jiwa dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), banyaknya kasus bunuh diri di mal merupakan aksi peniruan dari orang-orang yang sedang putus asa[6]. Peniruan itu tentunya tidak selalu dilakukan oleh orang yang melihat langsung peritiwa bunuh diri itu.

Bunuh diri, seperti sudah disampaikan sebelumnya, memang membutuhkan banyak pemikiran. Seseorang yang mungkin berniat membunuh diri bisa saja menyimpan alasannya tetap tersembunyi dan menyegelnya jauh dalam dalam pikiran mereka, ”Namun, ketika orang yang sedang putus asa ini membaca berita mengenai kasus bunuh diri di mal, mereka jadi punya ide,” jelas dr. Surjo Dharmono, Koordinator Psikiatri Komunitas dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)[7]. “Untuk melaksanakan bunuh diri sebenarnya tidak mudah. Orang harus memikirkan bagaimana caranya, apa yang terjadi sesudah mati dan sebagainya,” Dan seringkali media lah yang menjadi penolong memberi ide dan penegasan pada mereka.

Saat bunuh diri diberitakan di media massa, terutama ditelevisi, akan di wawancara sejumlah orang yang terkait dengan pelaku bunuh diri. Dalam wawancara tersebut biasanya kerabat atau temannya itu akan berkomentar simpatik bahkan positif mengenai pelaku bunuh diri. Semua berusaha tampil bijak di televisi dan karenanya hanya mengeluarkan komentar yang baik-baik. Bagi penonton akan menegaskan bahwa si pelaku adalah orang baik-baik yang karena sesuatu hal terpaksa bunuh diri. Jika si penonton adalah orang yang berpotensi membunuh diri, kesan positif yang muncul dari pemberitaan bisa membuatnya membulatkan tekat untuk bunuh diri. ”Melepaskan diri dari permasalahannya di dunia, dengan membunuh diri, toh nanti setelah mati hanya yang baik baik dari saya yang akan dikenang,” begitu mungkin pikiran yang akan muncul dikepala mereka…

Dari penjelasan diatas, ada beberapa poin yang membuat media massa terutama televisi mampu mendukung penyebaran virus bunuh diri menjadi lebih cepat, diantaranya:

  1. Media massa, terutama televisi, menjadikan seseorang seolah-olah menjadi public figure hanya dalam satu kali tayangan, apalagi jika sifat tayangan tersebut adalah personalisasi. Perlu dilihat kata seolah-olah. Dalam kasus bunuh diri, fokus pemberitaan pada sang pelaku bunuh diri membuat ia seolah-olah menjadi pusat pemberitaan, apalagi juk bunuh diri dilakukan dengan cara tidak biasa yang menyedot perhatian massa sehingga sang pelaku identitasnya muncul berkali-kali, di berbagai acara dan di berbagai stasiun televise.
  2. Terkait dengan poin pertama, pemberitaan bunuh diri yang berlebihan itu akan mengubah bunuh diri dari sekedar kegiatan menghilangkan nyawa seseorang menjadi sebuah perilaku yang merupakan pernyataan sikap. Misalnya; saat seorang pelajar membunuh diri hanya karena diputuskan oleh sang kekasih. Sebelum bunuh diri, ia meninggalkan surat pernyataan bahwa ia frustasi dan sangat sedih sekali.. Saat peristiwa itu di liput dan ditayangkan secara berlebihan, mungkin orang-orang yang satu kelompok usia dengan anak itu tidak akan menganggap bunuh diri itu sebagai kesia-siaan. Mereka akan menganggapnya sebuah pernyataan sikap dan cinta berlebihan. Mereka bisa mengerti karena mengalami. Perasaan itu bisa seketika berubah menjadi menyetujui, terutama dalam pola pikir remaja yang masih ekstrim. Dinegara yang acara yang paling disukai adalah sinetron yang serba lebay dan full emosional, pola pikir seperti itu dengan mudah tumbuh subur.
  3. Pemberitaan bunuh diri yang ekstrim, seperti deviance act lainnya cenderung diminati anak muda. Mereka yang hatinya masih penuh pemberontakan seringkali menganggap segala hal yang melawan kemapanan atau defiance act sebagai sesuatu yang cool dan keren.
  4. Siaran yang berulang-ulang tetang sesuatu tindakan membuat masyarakat menjadi lebih toleran, dan pada gilirannya menghilangkan tabu tindakan tersebut. Kalau masih diteruskan maka seolah-olah siaran tersebut memberi izin, memaklumkan, suatu tindakan diambil saat menghadapi kejadian berlatarbelakang serupa dengan perilaku itu. Contoh sederhananya peristiwa kawin cerai di kalangan artis yang sangat sering diberitakan media, lambat laun dianggap wajar, dan bukan lagi sebuah aib bagi seorang artis untuk kawin cerai. Kalau duu bercerai konsekuensinya sangat berat dalam masyarakat, kini kawin cerai hanya sekedar peristiwa biasa. Televisi jelas mengubah norma dan nili dalam masyarakat.
  5. Media Massa termasuk televisi adalah media informasi yang paling dipercaya masyarakat. Berita di media massa sekaligus memberikan bahan pertimbangan, keterangan lebih detail dan informasi yang dibutuhkan pemirsa, bahkan kalau informasi yang dicari adalah cara membunuh diri sendiri. Pemberitaan bunuh diri yang terlalu detil mungkin akan memberikan data yang dibutuhkan bagi seseorang yang ingin bunuh diri.
  6. Media massa yang dipercaya masyarakat adalah penanggungjawab terbesar atas terbentuknya gambaran dunia di kepala pemirsa nya. Jika berita yang disampaikan muram dan cenderung negative, maka gambaran dunia juga akan mereka rasakan negatif. Pada gilirannya cara pandang seperti itu akan mempermudah munculnya depresi, yang menjadi penyebab utama bunuh diri di Indonesia selama ini.

Setelah mengetahui bahwa media bisa mendukung persebaran virus bunuh diri, tentunya pengelola media harus juga mengerti cara mengurangi efek negatif seperti itu. Di setiap Negara pasti alasannya berbeda, karena ada latar belakang budaya, lingkungan dan kehidupan yang berbeda. Seperti dikatakan sebelumnya, bunuh diri bisa menular di tempat-tempat tertentu dengan situasi tertentu juga. Untuk menambah kepekaan, sebaiknya pewarta media Indonesia mengetahui perilaku bunuh diri di Negara tercinta ini.

Bunuh Diri di Indonesia.

Kalau ada kabupaten yang dianugerahi gelar sebagai kabupaten bunuh diri tahun 2010, mungkin Kabupaten Bojonegoro adalah juaranya. Selama kurun waktu Januari sampai menjelang akhir Desember 2010 saja, ada 30 warga yang tewas bunuh diri dengan jeratan tali di leher. Itupun hanya data yang dilaporkan ke kepolisian setempat.
Data yang dihimpun dari beritajatim.com menyebutkan, jika kasus bunuh diri itu termasuk kejadian nonkriminal yang tertinggi di Bojonegoro. Menurut kesimpulan media yang meliput[8], tindakan nekat itu kebanyakan dilatarbelakangi oleh penyakit yang tak kunjung sembuh, derita kemiskinan, dan sebagian kecil juga masalah keluarga.

Rata-rata, aksi bunuh diri itu berlangsung di wilayah daerah pedesaan. Kondisi ekonomi yang serba sulit dan tidak adanya bimbingan untuk memecahkan persoalan, membuat warga mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup. Cara bunuh diri sejauh ini yang banyak dilakukan warga dengan modus menggantung diri. Adrianus Meliala seorang kriminolog dari FISIP Universitas Indonesia, juga menyebutkan bahwa tekanan kemiskinan, kesedihan dan kemalangan berkepanjangan memang membuka potensi membunuh diri.

Tekanan kehidupan memang semakin besar saat ini, tapi tentunya bukan hanya itu yang kemudian menyebabkan orang memilih bunuh diri. Kalau dikatakan bahwa faktor ekonomi yang menjadi pemicu perilaku bunuh diri, sebenarnya jadi menggampangkan masalah.

Ketika media massa Indonesia memberitakan sebuah bunuh diri, seringkali mereka menggunakan ’mahzab simplifikasi berlebihan’ untuk menjelaskan atau menalarkan alasan bunuh diri mereka.. Kalau orang miskin yang bunuh diri maka pasti penyebabnya adalah himpitan ekonomi atau kelemahan pelaku menghadai kemiskinan. Kesimpulan itu biasanya disampaikan melalui seorang kenalan korban, baik tetangga maupun teman dekat.

Misalnya dalam tulisan-tulisan berikut ini;

Metrotvnews.com, Purwokerto: Alangkah terkejutnya sebuah keluarga di Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka histeris begitu mendapati sang buah hati tewas tergantung di kamarnya sendiri, Selasa (22/2).
Seorang siswi SMP nekat bunuh diri hanya karena putus cinta. Gadis bernama Marisa itu menggantungkan dirinya dengan seutas dasi sekolah yang menjerat lehernya. Aksi nekat remaja berusia 16 tahun itu membuat keluarganya terkejut. Sebab sebelum ditemukan tewas, Marisa sempat makan bersama keluarganya.
Popo, kerabat korban, menduga Marisa bunuh diri akibat putus cinta. Popo pernah mendengar curahan hati Marisa yang jalinan kasihnya diputuskan sang pacar. Marisa bersedih. Tapi Popo tak menyangka Marisa nekat menghabisi nyawanya sendiri.
Suasana haru berlanjut saat teman-reman sekolah melayat ke rumah duka. Sejumlah pelajar SMP tak mampu menahan tangis di depan jenazah. Rasa haru itu semakin menambah kesedihan orang tua Marisa. Sementara polisi masih menangani kasus tersebut.[9]

Jombang (beritajatim.com) – Karena tidak punya uang untuk berobat, Samin (70), kakek asal Desa Ngumpul, Kecamatan  Jogoroto, Jombang mengakiri hidupnya dengan cara gantung diri d isebuah pohon, Sabtu (19/2/2011).
Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Jogoroto, Iptu Rimbo mengatakan, saat ditemukan korban sudah tergantung disebuah pohon. Selanjutnya, jenazah itu dievakuasi ke Puskesmas setempat. Hal itu untuk mengetahui secara pasti kematian korban.
Dari hasil pemeriksaan, di bagian leher korban terdapat luka bekas jeratan tali yang digunakannya untuk mengakhiri hidupnya. “Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jenazah korban. Jadi korban meninggal akibat gantung diri,” kata Rimbo di lokasi kejadian.
Dia menduga, motif di balik tewasnya korban karena terbelit biaya ekonomi tak bisa berobat untuk mengatasi sakit menahun yang dideritanya. Dengan begitu, korban yang merasa putus asa nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.
Sejumlah barang bukti berupa seikat tali dan sebuah sarung diamankan oleh petugas guna dijadikan barang bukti. “Selama ini korban memang sakit-sakitan. Bahkan ia tinggal di rumah sendiri disebuah gubuk,” kata Sutarno, saksi mata.[10]

Kalau melihat penulisan berita bunuh diri di dua media diatas, kesannya jadi terlalu menyederhanakan masalah.

Dalam kasus pertama, penyebab bunuh dirinya dituliskan (seolah-olah) karena putus cinta. Kesimpulan itu diambil seenaknya hanya berdasar ucapan kerabat korban. Tidak ada bukti-bukti lain yang mengarah kesana. Bahkan kerabatnya itu, Popo, tidak yakin kalau Marissa bunuh diri karena sekedar putus cinta. Diceritakan dalam berita itu ada sejumlah teman SMP yang mengunjungi pemakamannya, entah karena apa sang wartawan tidak berusaha mengambil keterangan dari mereka. Atau mungkin sudah diambil, tapi tak ada yang sekuat alasan putus cinta itu.

Kasus kedua adalah contoh dimana bunuh diri diberikan pendekatan standard. Saat seorang desa yang relatif miskin membunuh diri, langsung saja tekanan ekonomi dan kemiskinan dianggap sebagai alasan bunuh diri. Kalau kemiskinan bisa menjadi satu satunya pendorong perilaku bunuh diri, niscaya bukan Jepang yang jadi negara dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di dunia. Mungkin Indonesia yang jadi salah satu negara tertinggi bunuh dirinya.

Salah satu pemicu memang kemiskinan dan tekanan hidup, tapi itu hanya salah satu dari berbagai penyebab bunuh diri. Dan bahkan bukan yang utama. Buktinya, dari daftar lima belas negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia (data WHO[11]) terdapat 4 negara maju yang relatif penduduknya hidup berkecukupan; Jepang, Belgia, Finlandia dan Swiss. Kalau daftar itu dikembangkan sampai 20 negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi, maka Austria, Korea selatan, dan Prancis, juga akan masuk dalam daftar itu.

Selain kemiskinan yang menjadi penyebab depresi, ada hal hal di Indonesia yang membuat bunuh diri akan tetap menjadi kejahatan yang sulit dicegah, terutama beberapa nilai dan budaya di Indonesia yang mendukung terciptanya depresi, diantaraya:

- kurang ekspresif

Masyarakat di beberapa bagian Asia banyak yang tidak ekspresif, atau menganggap mengekspresikan perasaan dan keinginan sebagai tindakan yang menunjukkan kelemahan. Di Indonesia, sebagian masyarakat Jawa Tengah memiliki prinsip yang srupa. Karena setelah masakolonialisme kebanyakan pemimpin Indonesia lahir dan dibesarkan dengan budaya itu, maka pengaruhnya terhadap masyarakat –terutama diperkotaan yang tipis keterikatan budayanya dengan komunitas kedaerahan- sangat terasa.

Akibat anggapan bahwa menunjukkan ekspresi adalah kelemahan, seringkali mengakibatkan warga masyarakat tersebut berusaha sedapat mungkin menyembunyikan dan memendam beban yang dialaminya. Tekanan untuk terus menyimpan beban dan emosi itu bisa menjadi sedemikian besar sehingga menimbulkan depresi. Tentunya Depresi juga bisa muncul di kalangan orang-orang yang ekspresif, tapi lebih mudah lagi muncul dikelompok orang yang mengalami kendala mencurahkan emosi dan ekspresinya.

- rasa malu berlebihan

Sedikit mirip kebudayaan Jepang, Dalam budaya beberapa daerah di Indonesia, rasa malu berlebihan sering menjadi pemicu kejahatan. Baik kejahatan kekerasan maupun bunuh diri. Dalam beberapa budaya, rasa malu lebih kuat mempengaruhi perilaku daripada takut. Kalau budaya malu ini diterapkan secara tidak benar maka bisa sangat memilukan hasilnya.


Januari 2010, Seorang gadis berinsial Am (14 tahun) asal Tulungagung mencoba bunuh diri menenggak racun serangga, gara-gara malu videonya yang tengah bermesraan tersebar di Internet.

Akhir April 2010, Wahyuningsih di Jambi, tewas setelah menelan racun jamur tanaman. Dalam pesan pendek (SMS) yang dikirim sebelum menelan racun, gadis itu mengaku sangat malu karena harus mengulang tes matematika. Padahal Wahyu Ningsih peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Februari 2011, Darmi mencoba bunuh diri dengan menenggak cairan pembersih lantai di Lembaga Pemasyarakatan Jember, Jawa Timur. Narapidana kasus penipuan itu mengalami luka serius di saluran pencernaan dan ginjal. Berdasarkan pemeriksaan psikis, Darmi nekat melakukan percobaan bunuh diri karena merasa malu harus mendekam di penjara

Mei 2010, Diduga stres karena tidak lulus Ujian Nasional, Adek, siswa SMP Lancang Kuning di Dumai, Riau, nekat berusaha mengakhiri hidup dengan gantung diri.

Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa budaya malu yang menyebabkan bunuh diri, tak cuma ada di Jepang. Di Negara kita ini juga banyak individu yang merasa bahwa malu lebih sulit ditanggung daripada kelaparan. Kebanyakan yang melakukan bunuh diri karena malu biasanya adalah remaja, yang kehidupannya sedang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan. Di masa remaja ini, teman dan lingkungan adalah faktor yang paling kuat mempengaruhi perilaku mereka.

- adanya budaya bunuh diri

Bunuh diri bukan hal yang asing bagi kebudayaan di Indonesia. Beberapa kepercayaan malah menjelaskan peristiwa bunuh diri dengan perangkat budaya khas mereka. Misalnya daerah Gunung kidul, Yogyakarta, yang sangat terkenal dengan mitos pulung gantungnya. Sebagian masyarakat Gunung Kidul percaya akan sebuah sasmita atau pertanda gaib yang berbentuk bola  api merah yang beterbangan diatas sebuah lokasi. Mereka menamakannya Pulung gantung. Kalau ada pulung macam ini terlihat di suatu wilayah, maka mereka percaya beberapa hari kemudian akan ada orang yang terkait dengan lokasi itu yang membunuh diri, biasanya dengan menggantung diri.

Pulung Gantung mungkin cuma mitos, tapi pada kenyataannya tingkat bunuh diri memang sangat tinggi di daerah itu. Lihat saja data-data tahun 2001- 2009. Dalam kurun waktu itu tercatat 269 kasus bunuh diri di kabupaten di tenggara Yogyakarta itu.  Kecendrungan bunuh diri itu terus meningkat. [12] Sepanjang 2009 saja, tercatat 34 orang memilih menyudahi hidupnya sendiri. Bisa dipastikan, angka yang tak tercatat lebih tinggi lagi, karena bunuh diri selalu dianggap sebagai aib bagi keluarga.

Penamaan Pulung Gantung mungkin berkaitan dengan pilihan cara bunuh diri tradisional di wilayah itu (dan sebagian besar wilayah Indonesia), yaitu dengan menggantung diri.

Sesuai kepercayaan di daerah itu, biasanya segala hal yang berkaitan dengan peristiwa bunuh diri akan dimusnahkan. Baik dibakar atau dihancurkan. Jadi kalau gantung diri di pohon, maka pohon itu akan ditebang atau dibakar. Kalau menggantung diri di kusen rumah, bagian kusen itu mungkin dipotong dan dibakar.

Masyarakat percaya, kalau tidak dimusnahkan maka sang Pulung Gantung akan kembali mengambil korban di desa atau bahkan dalam keluarga tersebut. Untuk memperkuat ’pengusiran’ terhadap Pulung Gantung tersebut, warga biasa melakukan ronda malam dan membunyikan tetabuhan yang berisik selama minimal 3 hari setelah terjadi peristiwa gantung diri.

Kasus bunuh yang cukup mengejutkan juga terjadi di Propinsi Bali.  Lihatlah hasil penelitian Direktur Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, I Ketut Widnya[13], berikut ini..

Satu diantara 41 ribu orang Bali, begitu hasil penelitian itu, adalah pelaku bunuh diri. Tinggikah jumlah itu? Tidak, jika Anda membandingkannya dengan bilangan 41 ribu yang memilih tidak bunuh diri itu. Tapi  jumlah itu sangat tinggi  bila dibandingkan dengan kecenderungan di daerah lain.

Data yang dilansir World Health Organization, kata Widnya,  cuma menemukan bahwa  satu di antara  2,5 juta orang di dunia  melakukan bunuh diri. “Jadi, angka bunuh diri Bali sangat fantastis dilihat dari faktor jumlah penduduk,” kata Widnya.

Kasus –kasus itu menunjukkan bahwa di Indonesia pun ’budaya’ bunuh diri sudah ada sejak lama. Kasus bunuh yang cukup mengejutkan juga terjadi di Propinsi Bali.  I Ketut Widnya melakukan penelitian  2003-2007.  Dibukukan dengan judul:  Bunuh Diri di Bali: Perspektif Budaya dan Lingkungan Hidup.

Mengelirukan Agama dengan Ritual dan Atribut

Tanggal 3 Desember 2010, Agus Wartono terlihat di lantai 6 Blok M Square. Ia sempat bertanya-tanya letak mushola untuk bersembahyang. Beberapa jam kemudian ia melompat dari lantai 6. Sementara itu sebelum bunuh diri, Wahyuningsih (19) menyempatkan diri untuk mengambil wudhu dan shalat. Parno juga terkenal sebagai orang yang cukup saleh, nyatanya ketiga orang itu melakukan bunuh diri. Jadi apakah benar agama sangat berpengaruh menangkal bunuh diri?

Banyak ulama dan para pemimpin agama yang dengan sedikit melecehkan, menuding pelaku bunuh diri sebagai kurang rasa keagamaannya. Padahal kalau keyakinan yang kuat terhadap suatu agama yang dijadikan ukuran, kemungkinan tak ada yang lebih kuat keyakinannya terhadap religi nya daripada seorang teroris pelaku bom bunuh diri.

Jadi keyakinan agama seperti apa yang membuat seseorang berniat bunuh diri atau malah menghindari bunuh diri. Secara kasat mata, rasa keagamaan yang kuat ternyata tidak lantas membuat seorang individu kebal dari keinginan membunuh diri.

Saya sendiri bukan ahli agama, tapi percaya, agama bisa menjadi penghalang yang kuat sekali dari niatan membunuh diri. Tentunya dengan catatan, agama yang diyakini adalah agama yang diyakini menghargai nyawa manusia, kemudian agama tersebut juga harus menjadi sebuah keyakinan (faith) sebenarnya dan bukan sekedar kepercayaan terhadap sebuah ritual atau atribut.

Saat ini, banyak kelompok yang menyamakan agama dengan sekedar ritual bahkan atribut fisik. Sekedar pakai peci putih dan baju komprang putih-putih lalu mengaku sebagai pembela agama. Berjubah panjang, dan berjenggot lantas mengkafirkan orang lain. Terus menerus menggulirkan tasbih, ia langsung didaulat menjadi ahli spiritual. Kalau sekedar agama yang seperti ini (yang tandanya bukan pada keyakinan dan perilaku tapi pada atribut yang melekat) pastinya tidak bisa mengubah sikap dan pertimbangan manusia. Sayangnya sekali lagi, budaya Indonesia yang masih kental nuansa animism dan dinamisme, seringkali menempatkan kesempurnaan ritual dan atribut di atas penempaan jiwa dan keimanan. Tentunya tidak semua orang pada tataran yang sama, tapi sebagian besar masyarakat terpengaruh budaya tersebut. Yang begini tetap saja rentan membunuh diri saat diterpa depresi.

Agama yang benar seharusnya diyakini sepenuh hati. Dengan rasa syukur dan pasrah, manusia akan terhindar dari depresi, karena yakin itu adalah kehendak Tuhan yang maha kuasa. Bukan sekedar shalat jungkir balik, tapi juga membangun hati agar sungguh-sungguh hanya menganggap Tuhan sebagaiyang terpenting. Bukan uang, prestasi ataupun karir. Dengan begitu saat tertimpa kemalangan atau penderitaan, sang pemeluk agama bisa meyakini bahwa segala sesuatu adalah kehendak Tuhan yang pasti akan bermanfaat untuk perkembangan keimanannya. Dengan kepasrahan dan kekuatan menghadapi penderitaan yang didukung keyakinan, separuh penyebab depresi pada masyarakat modern dapat dieliminasi. Kesehatan jiwa juga jadi lebih terjaga.

Bunuh Diri sebagai Pernyataan

INDOSIAR.COM seorang ibu muda yang bekerja sebagai penjaga rumah kost nekat mengakhiri hidup dengan cara bakar diri. Dalam aksi tersebut, ia juga mengajak dua anaknya yang masih balita. Sang ibu langsung tewas di lokasi kejadian, sedangkan kedua anaknya sempat menjalani perawatan, namun akhirnya juga meninggal dunia. Muhammad Dwi Arya Saputra, bocah balita korban bakar diri ibu kandungnya Khoir Umi Latifah akhirnya menghembuskan napas terakhir sekitar jam 9 Rabu (11/08/10) malam. Hampir seluruh tubuh bocah mungil itu mengalami luka bakar, hingga membuat Dwi yang berusia 2,5 tahun itu tak sanggup bertahan. Beberapa jam kemudian, kakak Dwi, Muhammad Lindu Aji yang berusia 4 tahun, akhirnya menyusul sang adik. Lindu Aji meninggal sekitar jam 2 pagi.

Metrotvnews.com, Rokan Hulu: Seorang anak bersama ibu serta adiknya di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, nekat membakar diri. Aksi nekat diduga dipicu perselisihan keluarga.

Menurut seorang saksi mata, aksi bakar diri itu terjadi sekitar jam 8.30 WIB Rabu pagi. Ia mendengar suara ledakan dan kemudian melihat kamar mandi didalam rumah kost terbakar. Begitu mendobrak pintu kamar mandi, tubuh korban sudah terbakar, bersama dengan dua anaknya. Umi yang bekerja sebagai penjaga rumah kost dikawasan Papringan Depok, Sleman, Yogyakarta, ditemukan tewas secara mengenaskan ditempat kerjanya tersebut. Berdasarkan surat yang ditinggalkanya, diduga Umi bertindak nekad karena masalah hutang sebesar 20 ribu rupiah.[14]

Dua kasus diatas nyaris serupa. Satu keluarga, Ibu, dan anaknya, membakar diri sampai mati. Walaupun sama-sama kasus bunuh diri, tapi tentunya tidak bisa disamakan begitu saja dengan kasus bunuh diri Parno di awal tulisan ini. Dalam berita diatas, kedua ibu yang tewas membakar diri mengajak anaknya serta.

Sekali lagi perlu diingat, bahwa bunuh diri tidak termasuk kejahatan spontan yang dilaksanakan tiba-tiba dan tanpa pemikiran. Bunuh diri selalu direncanakan atau dipikirkan jauh sebelum kejadian itu, atau paling tidak niat dan rencananya sudah dimatangkan walau pelaksanaannya tergantung pada sebuah kejadian atau penyebab yang memicu perbuatan itu. Bayangkan kalau anda merancang sebuah bunuh diri, yang melibatkan anak atau orang tercinta anda, tentunya yang dipilih adalah cara yang langsung meninggal dan (kesannya) tidak melibatkan rasa sakit dalam waktu lama. Menggantung diri, terjun dari rumah susun atau minum racun mungkin sesuai dengan profil itu, tapi membakar diri… rasanya tidak.

Dalam dua kasus diatas, Bunuh diri digunakan sebagai alat untuk membuat sebuah pernyataan. Bunuh diri di kasus ini bukan pelarian. Pelakunya tidak sekedar berusaha lari dari penderitaannya, tapi juga mengajak anaknya ikut. Ini bukan hal mudah dan butuh kekuatan mental yang dibangun dalam waktu lama. Membakar anak sendiri (yang pastinya tidak serta merta sukarela ikut membakar diri) butuh suatu ketegaan yang luar biasa. Pemilihan sarana bunuh diri dengan membakar diri, menunjukkan bukan hanya kematian yang cepat yang diinginkan, tapi juga perhatian terhadap kematiannya.

Karena itu saya menduga, bunuh diri ini tidak sekedar pelaku yang putus asa, tapi sang pelaku juga mencoba mengkomunikasikan sesuatu. Hal itu diperkuat, mereka meninggalkan catatan atau surat wasiat. Dengan adanya surat, mereka mencoba menjelaskan sesuatu, dan dengan itu mencoba membuat sebuah pernyataan.

Sebenarnya penggunaan bunuh diri sebagai sebuah sarana menyampaikan pernyataan sekaligus ruang ekspresi bukan hal yang asing lagi. Banyak orang-orang terkenal dan artis yang menggunakan bunuh diri sebagai ‘one final act’ alias pencapaian puncak keseniannya. Kematian sering dianggap secara romantis sebagai sebuah akhir alias kesempurnaan seorang manusia. Salah satu contohnya adalah bunuh diri Yukio Mishima, salah satu penulis Jepang paling besar pengaruhnya. Saya akan menggunakan ceritanya sebagai akhir dari tulisan ini, karena merupakan salah satu contoh sempurna bahwa bunuh diri adalah tindakan yang sangat personal.

Yukio Mishima adalah nama pena dari penulis sekaligus penyair dan dramawan Jepang bernama Kimitake Hiraoka lahir di Shinjuku, Tokyo, 14 Januari 1925 – meninggal di Tokyo, 25 November 1970 pada umur 45 tahun). Ayahnya seorang pejabat pemerintah bernama Azusa Hiraoka; ibunya bernama Shizue, anak seorang kepala sekolah di Tokyo.

Masa kecilnya didominasi oleh neneknya yang bernama Natsu. Ia diambil dan dipisahkan dari kedua orang tuanya selama beberapa tahun. Natsu diketahui memiliki masalah kejiwaan yang membuatnya mudah melakukan tindakan kekerasan dan ledakan emosi yang tidak wajar. Hal-hal tersebut kadang-kadang disinggung dalam karya-karya Mishima. Masalah kejiwaan yang diderita Natsu diperkirakan oleh sejumlah penulis biografi sebagai asal usul ketertarikan Mishima kepada kematian.

Pada usia 6 tahun, Mishima masuk sekolah elite Gakushuin. Pada usia 12 tahun, Mishima mulai menulis cerita pertamanya. Ia dengan rakus membaca karya-karya Oscar Wilde, Rainer Maria Rilke, dan sejumlah pengarang klasik Jepang. Setelah 6 tahun bersekolah, ia diterima sebagai anggota termuda dewan redaktur di perkumpulan sastra di sekolah.

Ia diundang untuk menulis sebuah cerita pendek prosa untuk majalah sastra Peers’ School, dan mengirimkan cerita berjudul Hanazakari no Mori (The Forest in Full Bloom). Dalam cerita tersebut, narator menjelaskan bahwa dirinya merasa bahwa para leluhurnya entah bagaimana masih hidup di dalam dirinya. Guru-guru Mishima begitu terkesan dengan cerita tersebut yang disarankan oleh mereka untuk dikirim ke majalah sastra prestisius Bungei-Bunka. Cerita yang ditulisnya dengan memakai metafora dan aforisme—nantinya menjadi ciri khas Yukio Mishima—diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1944. Meskipun demikian, buku tersebut hanya diterbitkan dalam jumlah terbatas (4.000 kopi) akibat kekurangan kertas semasa Perang Dunia II. Penerbitan karya Mishima dikhawatirkan menyebabkan reaksi yang tidak baik dari teman-teman sekelasnya. Oleh karena itu, para guru menciptakan nama pena untuk dirinya, dan sejak itu ia dikenal sebagai Yukio Mishima. Ia menulis novel Confessions of a Mask, The Sailor Who Fell From the Grace With the Sea, dan the Sea of Fertility sebagai puncak karyanya.

Sebagian besar biography tentangnya, menyoroti kecenderungan Mishima pada fantasi mashocist nya. Perhatiannya yang berlebihan pada kemampuan tubuh, keindahannya dan ketakutan akan degenerasi (ketuaan ) tampakjelas dalam sebagian besar novel-novelnya. Mishima selalu berharap dan berusaha keras untuk memiliki tubuh sempurna untuk dirinya yang tidak bisa menjadi buruk dan menua. Karena itu ia memulai bodybuilding secara serius tahun 1955, dan menjadi master dalam beladiri karate dan kendo. Mishima membayangkan dirinya sebagai samurai terakhir.

Tanggal 25 November 1970, Mishima menyerahkan naskah lengkap dari tetralogy sekaligus karya terakhirnya, Kemudian bersama 4 orang pengikutnya, Mishima menuju markas besar pasukan ilmu beladiri Jepang, dimana ia membaca sebuah ‘manifesto’ dan kemudian melakukan bunuh diri. Bunuh diri Mishima dilakukan dengan cara ekstrim. Pertama ia melakukan seppuku (bunuh diri ritual) dengan menusukkan katana/pedang pendek kedalam perutnya. Setelah itu salah satu pengikutnya memenggal kepalanya dengan pedang panjang. Mishima menganggap kematiannya sebagai symbol kesempurnaan. Bunuh dirinya adalah pernyataan personal terakhir buatnya.



[1] Rasa ingin tahu (Curiosity) didefinisikan sebagai kebutuhan, rasa kehausan dan keinginan untuk sebuah pengetahuan. Konsep rasa ingin tahu itu sangat penting sebagai motivasi seorang manusia. Susan Edelman (1997), dalam tulisannya: Curiosity and Exploration, di California State Northridge University, dikutip melalui situs http://www.csun.edu/~vcpsy00h/students/explore.htm

William James (1890) Telah menggarisbawahi bahwa salah satu fungsi rasa ingin tahu manusia adalah fungsi biologis, yaitu tingkah laku yang dikendalikan oleh insting sebagai mekanisme manusia mendekati atau mencari penjelasan tentang suatu hal baru.

[2] Plato menyinggung bunuh diri secara khusus dalam dua buah karyanya. Pertama dalam Phaedo. Plato menyampaikan bahwa bunuh diri selalu salah karena kelakuan itu adalah representasi dari pelepasan pribadi (self) kita (atau lebih sederhananya; jiwa) dari penjaga yang pengendali yang membatasi kita (maksudnya; tubuh kita) yang ditempatkan Tuhan sebagai hukuman (Phaedo 61b-62c). Kemudian dalam Laws, Plato menyebutkan bahwa bunuh diri itu memalukan (disgraceful) dan pelaksananya seharusnya dikuburkan tanpa penanda apapun.

[3] (kompas, kamis 6 Januari 2011)

[4] Malcolm Gladwell; Tipping Point. Cetakan ketujuh Juli 2010. PT. Gramedia. Hal 276 – 277.

[5] http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/04/14584957/bunuh.diri.di.mal.pilihan.ideal.

[6] Pernyataan ini disampaikan dalam menanggapi pertanyaan reporter, dan dimuat dalam Rubrik kesehatan KOMPAS.com http://health.kompas.com/index.php/read/2011/01/06/15355458/Media.Ikut.Berperan.Picu.Bunuh.Diri-12

[7] Pernyataan ini disampaikan dimuat dalam Rubrik kesehatan KOMPAS.com http://health.kompas.com/index.php/read/2011/01/06/15355458/Media.Ikut.Berperan.Picu.Bunuh.Diri-12

[8] Artikel Beritajatim.com, hari Rabu (29/12/2010)

[10] http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2011-02-19/93361/Kakek_Ini_Bunuh_Diri_karena_Miskin

[11] dirilis WHO tahun 2005

[12] Dari ViVAnews.com. dalam artikel sorotanmereka mengenai bunuh diri di kalangan anak dan remaja. http://sorot.vivanews.com/news/read/114847-pulung_gantung_gunung_kidul

[13] I Ketut Widnya, melakukan penelitian tahun 2003-2007.  Dibukukan dengan judul:  Bunuh Diri di Bali: Perspektif Budaya dan Lingkungan Hidup.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 19 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: