Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Mengapa Harus Marah-Marah?

OPINI | 02 March 2011 | 14:32 Dibaca: 675   Komentar: 0   2

Hati-hati bagi mereka yang suka marah-marah, banyak bagian tubuh yang akan berubah fungsi, salah satunya mulut bisa jadi dower atau berbibir tebal dan menonjol ke depan. Tidak percaya coba praktikan pada diri sendiri - marah-marah kepada siapa saja yang ditemui, bukan kehangatan yang didapat justru bogem mentah.

Bagi yang suka marah - apa-apa marah, disenggol sedikit marah, tidak ditegur marah, tidak disanjung marah, sedikit lambat marah. Ayo mulai dipikirkan bahwa marah menyebabkan beberapa bagian  tubuh akan mengalami perubahan. Perubahan menuju kecantikan adalah baik, tapi bagi yang suka marah justru membuat orang sangat jijik melihatnya.

Bagian tubuh yang mengalami perubahan bagi yang suka marah, antara lain, mata terlihat memerah, seakan-akan tidak tidur beberapa hari. Hal ini jika dibiarkan bisa saja individu dimaksud akan mengalami stroke bola mata.

Tangan terlihat membesar sebelah. Saat marah biasanya tangan mudah melayang, mudah memukul baik orang maupun tembok, tetapi kadang-kadang terlihat ada orang marah-marah memukul mobil atau motor dengan tangannya. Individu yang seperti ini mudah cedera tangan.

Kaki terlihat pincang sebelah atau keduanya. Apa bisa? Bisalah, coba lihat kalau orang yang suka marah-marah, apa saja yang di dekat kakinya ia sepak, ia pikir dengan menendang semua bisa terselesaikan.

Muka terlihat masam. Masam menahan ke belakang tidak jadi soal, tetapi yang suka marah, masamnya lain. Kadang orang bilang muka garing. So pasti wajah orang seperti ini suka dijauhi oleh orang.

Kepala pening. Mereka yang suka marah-marah biasanya kepalanya pening, sampai-sampai kepala rasanya ingin pecah atau meledak. Jika kasus seperti ini berlangsung lama, maka berdampak lebih parah bagi si pemarah.

Jantung berdebar tidak beraturan. Jantung rasa mau copot, apalagi orang yang dimarahi balik melawan. Kalau jantungnya bersih tidak jadi masalah, bagaimana kalau si pemarah memiliki catatan kolesterol yang tinggi, bisa vatal - mati mendadak.

Dan yang terakhir dampak marah-marah bagi tubuh adalah bibir menjadi dower. Dower dimaksudkan dapat bermakna ganda - sesungguhnya atau sebaliknya. Yang sebaliknya ini yang agak bermasalah. Mereka yang suka marah dapat dipastikan, jika tangan dan kaki tidak berfungsi untuk menghajar yang dimarahi, maka mulut ini sebagai saluran kata-kata, akan mengeluarkan semua referensi yang ada di Ragunan, Hutan, Laut dan yang serba merendahkan martabat manusia. Inilah dower yang sesungguhnya yang sangat mengkhawatirkan.

Akhir dari segalanya salah satu bukti orang yang suka marah-marah baik yang ditampakkan maupun yang tersimpan dalam hati adalah kemungkinan mereka akan mengalami “Stroke”.

Tips

Marah sesungguhnya, sikap yang ada pada diri manusia yang terendah. Melalui marah sesungguhnya orang ingin memperlihatkan bahwa individu tersebut ingin dihargai, namun orang yang ada di sekitarnya terlalu sibuk untuk mengurus urusannya sendiri, sehingga ia lupa bahwa ada juga orang lain yang perlu dihargai. Bentuk penghargaan, bisa kasih sayang, makanan, minuman, dan lain-lain yang bersifat kebendaan dan pengakuan.

Cara lain untuk menghindari kemarahan - telusuri akar persoalan, mengapa kita harus marah. Bukankah marah adalah perilaku merendahkan martabat sebagai manusia. Tuhan telah melengkapi manusia dengan 99 kebaikan, mengapa harus kalah dengan 3 warisan setan - dengki, tamak, dan sombong.

Upaya yang jitu untuk menghindari kemarahan - menurut literatur yang sahih adalah menahan diri dengan cara mengelola kemarahan menjadi energi positif yang kemudian diwujudkan dalam bentuk kesabaran. Kita Suci untuk Semua Umat menyebutkan, Sang Pencipta sangat sayang bagi mereka yang memiliki kesabaran yaitu mereka yang kalau mendapatkan kesulitan, mereka tidak berkeluh kesah, dan apabila mendapatkan kelebihan, mereka akan berbagi. Itulah tanda-tanda orang yang pandai “Bersyukur”.

Merdekaaaaaaaaaaaaaaaa

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Terapi Cahaya PINK di Rosereve Plaza …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Menanti …

Rizki Fujiyanti | 8 jam lalu

Let’s Do Together …

Ayumulya | 8 jam lalu

Jokowi: Buah Demokrasi atau Kegagalan Total …

Jaka Pujiyono | 8 jam lalu

Banjir Melanda SMP Rehoboth Formasi …

Jurnalis Warga Samb... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: