Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Little Salsa

Just wanna share.

Hati Saya, Hati yang Lemah.

OPINI | 03 November 2010 | 17:14 Dibaca: 286   Komentar: 2   0

Ahh… Lagi-lagi saya harus menelan rasa kecewa. Menyisipkan perih di hati saya. Selalu seperti ini.

Bukannya saya tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada saya, tetapi saya juga merasa sumpek jika harus memiliki perasaan seperti ini akibat dari hati yang terlalu sensitif.

Ya… Tuhan menciptakan segumpal darah yang amat sangat sensitif terhadap keadaan diluar tubuh saya. Segumpal darah itu bernama HATI.

Sebenarnya apa maksud Tuhan menyisipkan hati ini untuk saya?

Duh Gustiii…. kulo nyuwun pangapunten ingkang kathah…

Memiliki hati yang sensitif itu kelebihan atau kelemahan?

Saking sensitifnya menjadikan saya sering pesimistis memandang diri saya.

Kelebihan saya adalah paling bisa memahami perasaan orang lain. Saya akan berusaha memberikan suasana yang nyaman bagi orang lain. Tapi apa hasilnya untuk saya? Lebih sering saya disakiti dengan kata-kata dan perbuatan, yang bagi saya, sangatlah menyakitkan.

Hasilnya? Hasilnya saya menjadi mudah sedih, mudah menyalahkan diri sendiri, dan mudah minder.

Inikah yang Tuhan inginkan dari saya?

Sebuah keterpurukan karena saya mampum memahami orang lain sedangkan orang lain belum tentu bisa memahami saya.-

Duhh Gustiii… Saya merasa tersiksa ketika perasaan menyedihkan itu muncul.

Saya tak suka menjadi orang yang lemah. Tetapi apa daya saya? semakin kuat saya menolak untuk bersedih maka semakin kuat perasaan untuk bersedih. Ujung-ujungnya, saya meneteskan puluhan mililiter air mata hanya untuk sekedar menenangkan batin saya dan kemudian terlelap setelah puas menguras air mata.

Tapi untungnya setiap setelah saya puas berderai air mata dan merasa lega, saya akan kembali membentuk semangat saya, membentuk pola pikir untuk bangkit dari keterpurukan.

Demikian bergiliran hampir setiap saat.

Kira-kira apa ada yang tahu ya bagaimana menghadapi kepemilikan hati yang seperti ini?

Sungguh saya benci ketika harus memiliki rasa minder akibat perlakuan orang lain yang semena-mena terhadap perasaan saya.

Ingin sekali rasanya menjadi seperti mereka yang cuek terhadap perasaan orang lain, yang tidak peduli akan keberadaan dan perasaan orang lain. Ingin punya pemikiran seperti ini “Ngapain juga ngurusin orang lain yang tidak ada kaitannya dengan saya? suka-suka saya dong.”

Aaaarrrrgggghhhhhh!!!!!!!!! Saya tidak tega melihat orang lain menderita karena saya tahu bagaimana rasanya tersiksa!!!!!!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Dalang Politik Kotor “Tedjo” …

Daniel H.t. | | 01 February 2015 | 16:23

“Konflik” KPK-Polri dan Tapal Batas …

Andi Muhammad Jafar | | 01 February 2015 | 15:49

“Musik Tradisional Pengamen vs Peraturan …

Alifiano Rezka Adi | | 01 February 2015 | 16:20

(TAC) Koperasi: Tempat Aman Menitip Uang …

Fidelis Harefa | | 01 February 2015 | 14:52


TRENDING ARTICLES

Sayonara Mega Selamat Tinggal Paloh, Relakan …

Wisnu Aj | 6 jam lalu

Mantan Penyidik KPK Akan Ungkap Borok …

Sang Pujangga | 10 jam lalu

Seperti BG, AS pun Menolak Panggilan …

Taryadi Sum | 10 jam lalu

Jokowi Lompat Pagar “Rumah Gelap Mega” …

Imam Kodri | 11 jam lalu

CNN: Siapa Jokowi Sesungguhnya? …

Jimmy Haryanto | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: