Back to Kompasiana
Artikel

Kejiwaan

Koalisi Masyarakat Anti Korupsi

” Lembaga Pemantau Korupsi di Bekasi ” ( KOMAK - BEKASI ) Alamat : www.komak-bekasi.blogspot.com email selengkapnya

Menangis = Obat Para Koruptor

OPINI | 27 August 2010 | 08:09 Dibaca: 74   Komentar: 2   0

Tangisan yang indah adalah tangisan yang selalu mengingat tuhan, karena dengan tangisan kita bisa merenung dan melakukan instropeksi diri. Persoalan tangisan tak semudah apa yg kita bayangkan seperti melihat anak kecil, kapan dan dimanapun ketika anak tersebut ingin menangis, pasti anak itu dapat menangis dan tidak ada rasa malu sedikitpun . Namun lain  halnya dengan kita yang sudah dewasa dan memiliki segudang aktifitas, rasa tangis terasa berat dan bahkan sukar untuk dikeluarkan dari kelopak mata ini. Hal itu disebabkan, bekunya hati ini terhadap sesama, dan hati ini sudah ditutupi perasaan waswas akan kehilangan duniawi semata. Sehingga munculnya tangisan type orang tersebut, merupakan tangisan tipu daya dan kepura-puraan saja. Namun sebaliknya, hatinya tertawa dan selalu ingin menang sendiri dan tidak mau terkalahkan oleh siapapun, maka jarang sekali rasa tangis itu keluar dari kelopak mata yang kecil ini.

Bila kita renungkan, ternyata banyak sekali makna yang terkandung dari tetesan air mata yang keluar dari rasa bersalah dalam kehidupan sehari-hari, padahal ketika rasa tangis itu muncul akan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan dan tarian para penguasa duniawi. Belajar dari pengalaman yang ada, bila kita menengok jauh mata memandang kearah bangsa ini, betapa persoalan hidup silih berganti tanpa henti, yang pada akhirnya membekukan tangisan air mata ini. Apakah rasa tangis para pemimpin bangsa ini sudah tidak bisa dikeluarkan dari kelopak matanya……???, sehingga bangsa ini menjadi korban masalah dari keserakahan para pemimpinnya. Persoalan tersebut disebabkan tidak adanya tetesan air mata yang keluar….hanya tuhanlah yang maha tau.

Koruptor Tak Punya air Mata.

Banyaknya  para koruptor dinegeri ini karena rasa tangis dan keinginan menangis sudah tidak dimiliki, yang ada hanyalah geliat mata yang selalu terbuka dan berfikir untuk mengumpulkan harta, dan jabatan duniawi saja dengan berbagai cara dan tipu muslihat.

Kalau kita cermati dengan baik, ternyata rasa tangsi yang keluar merupakan pil yang sangat mujarab bagi penyelesaian masalah korupsi di Indonesia. Hal itu bisa diaplikasikan bila para terapis dan hypnotis mengelaborasikan terapsinya dengan cara menterapis para pejabat dan petinggi negara ini, agar sadar mengenai makna kehidupan yang sebenarnya.

Maka dari itu harapan kami, banyak-banyaklah menangis, selain menangis sebagai obat bagi kesehatan terhadap tubuh kita, namun menangis dapat pula membantu menghilangkan sedikit hubbu dunya ( cinta dunia ), lebih-lebih terhadap para koruptor yang terkena komplikasi penyakit korupsi dinegeri ini, semoga tangisan dapat menyelesaikan masalah bangsa yangs edang diuji dengan berbagai cobaan kehidupan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 11 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 13 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: