Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Ellen Maringka

Mother, Wife, Friend. ~ Accept no one's definition of your life ! ... Define yourself.~

Ketika Ada Pria Lain Berbagi Cinta

REP | 30 May 2013 | 07:41 Dibaca: 2273   Komentar: 104   26

Ini bukan artikel tentang “selingkuh” dan segala lika likunya. Ini  kisah cinta  para ibu dengan anak laki lakinya.   Sosok “pria” lain selain suaminya yang mampu membuatnya memberikan nyawa sekalipun tanpa berpikir panjang.

It’s about moms and sons.

Ketika si sulung Russell lahir, segenap klan keluarga besar suami saya bersorak gembira.  Seperti sudah menjadi tradisi dan kebudayaan warga keturunan Cina, dan juga beberapa suku di Indonesia, kelahiran anak sulung  diharapkan berjenis kelamin laki laki.

Suami dan saya justru tidak pernah berpikir membedakan anak karena jenis kelaminnya. Anak ya sama saja. Orang tua harus adil dalam memberi kasih sayang dan perhatian.

Penulis hanya ingin mengungkapkan sisi kedekatan emosional seorang ibu yang sungguh special dengan anak laki lakinya.   Sama seperti umumnya para ayah dengan anak gadisnya. Para ayah akan sangat melindungi dan menyayangi anak perempuan lebih ekstra hati hati dan penuh kelembutan, bukan karena mereka kurang menyayangi anak laki laki, tapi karena merasa bahwa yang perempuan lebih membutuhkan kehadiran dan perlindungan mereka.

Dalam hubungan ibu-anak laki laki, maka faktor kebanggaan lebih banyak bicara daripada sekedar melindungi dan menyayangi.

Barangkali ini dipengaruhi oleh kebudayaan dan tradisi yang turun temurun mengasosiasikan kehadiran anak laki laki sebegai penerus nama keluarga, untuk kemudian menjadi pemimpin keluarga.  Mampu melahirkan anak laki laki sering dianggap sebagai pemenuhan atas harapan keluarga besar suami.

Padahal justru  yang menentukan jenis kelamin sang anak adalah si ayah.  Bagaimanapun juga kedekatan emosional ini menarik untuk dibahas dan rasanya bukan hanya saya sendiri yang mengalami, tapi pada umumya para ibu yang memiliki anak laki laki akan mengatakan hal yang sama.

13698795561939935670

Tidak ada wanita yang cukup pantas bagi anak laki laki saya.

Terserah saya mau dikatakan apa, tapi jujur inilah perasaan saya ketika menimang bayi laki laki mungil sempurna di dalam dekapan saya untuk pertama kalinya. Ada satu kebanggaan yang luar biasa bercampur keharuan dan mimpi besar seorang ibu ketika menggendong anak laki lakinya.

Ini kejadian nyata sekaligus memberi pelajaran mendalam dan lucu bagi penulis. Ketika Russell lahir, dan mertua perempuan  masuk ke kamar bersalin, saya sementara menggendong bayi montok seberat empat kilo yang di mata saya merupakan laki laki terhebat di dunia. Jelas saya  tidak mampu menyembunyikan kebahagiaan dan rasa bangga yang luar biasa.

Mertua saya tidak kalah bangganya karena seperti ada flash back puluhan tahun lalu ketika menggendong suami saya, yang juga merupakan anak sulung dan satu satunya laki laki.  Mertua saya bersikeras meyakinkan bahwa  Russell seribu persen mirip ayahnya. Tidak ada bagian saya disitu, mulai dari rambut sampai kuku kaki.

Begitulah kalau para oma sudah mulai bicara tentang cucunya. Padahal Ibu saya juga mengatakan hal yang sama bahwa Russell seribu persen mirip saya. Sudahlah, yang penting tidak mirip tetangga sebelah rumah. Jangan membantah para oma ketika mereka sedang membicarakan betapa ganteng dan pintar cucu mereka. Bisa terjadi debat lokal yang tidak kalah panas dengan perdebatan Pilkada berbuntut kerusuhan. Iyakan saja, agar dunia aman dan tenang.

Tanpa berpikir panjang saya mengatakan,” Mam, aduh montoknya anak ini, dan lihat, betapa sempurna bentuk kepalanya. Pasti pintar nantinya.” Pernyataan yang tanpa harus menungggu jeda waktu langsung diaminkan sejuta persen oleh mertua saya.

Masih dalam keadaan berbunga bunga diliputi kebanggaan, saya mengatakan lagi,  “Rasanya tidak akan ada seorangpun wanita yang pantas buat Russell kelak.” Oot banget khan…

Mertua saya tanpa berkedip langsung menimpali,” Oh benar sekali. Itu juga persis yang mami rasakan ketika menimang papanya!.”  ** hampir pingsan …. !! (makanya lain kali walaupun dilanda kebanggaan, mikir dulu sebelum bicara dengan mertua). I learned my lesson well.

Begitulah waktu berlalu, saya memiliki tiga anak yang super sekali (minjam kata kata MT), dan betul betul saya mensyukuri ini sebagai pemberian Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya.

Ada rasa bahagia dan bangga luar biasa ketika mendengar pujian dari anak laki laki. Kebetulan dalam pengalaman saya, si sulung Russell bukan tipe romantis yang banyak berkata kata, tapi lebih kepada melakukan saja. Russell akan selalu sangat memperhatikan mobil yang saya kendarai dan memastikan ibunya tidak harus antri di SPBU. Mobil selalu siap pakai dalam keadaan kinclong dan terawat meskipun ada sopir. Urusan kendaraan di rumah entah bagaimana berhasil diambil alih olehnya tanpa kudeta. Dan sungguh membuat saya sangat terharu ketika harus mengendarai mobil tanpa sopir, dan mendengarnya menasehati saya untuk jangan main injak gas di tikungan dan hati hati jalan licin.. bla bla bla.. ah.. serasa mendengar konser terindah di dunia. Kadang ketika sudah di jalan saya baru ingat satu hal, lho saya khan ibunya….

Lain anak lain gaya.  Yang nomor dua memang bibit romantisnya merupakan gabungan  dari seluruh klan keluarga ayahnya, ditambah urat romantis ibunya yang di copas seribu persen plus “Gen” khusus pemberian Tuhan. Tidak usah heran anak ini tidak pernah kehabisan pulsa. Saya juga baru menyadari ketika diberitahu si bungsu Krsytle bahwa puluhan sahabat perempuannya rajin mentranser pulsa tanpa diminta.

Kata kata seperti , “I love you Mum” atau “Mum you’re the best”,  ” I miss you Mum”  rutin sehari bisa lima - enam kali masuk ke HP saya. Kalau ada maunya, bisa puluhan kali sampai sampai memory  penuh.  Kalah kalah orang pacaran.

Ketika ulang tahun kemarin, handphone saya berbunyi.  Ketika saya buka terbaca … “Mom, God must have loved me very much because He chose you to be my Mum. If I have to chose it myself,  there would also be no other but You.”

Pingsan….

*Foto : Milik Pribadi Penulis )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 17 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 18 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 18 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: