Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

Fenomena Anak Kandung vs Anak Tiri

OPINI | 03 May 2013 | 19:22 Dibaca: 893   Komentar: 61   5

1367591809516277658Membaca artikel rekan kompasianer Nessma Zweina Al Majd berjudul ‘Repotnya menjadi anak tiri di kompasiana (terkait dihapusnya artikel saya yang berjudul kontradiksi) yang dipublish tanggal 30 April 2013 jam 05:53 WIB, artikel rekan Arke berjudul ‘Repotnya Menjadi Anak Bukan Tiri di Kompasiana (Terkait Tidak Dihapusnya Tulisan Saya yang Berjudul yang Patut Ditiru dari Orang Arab)’ yang dipublish tanggal 30 April 2013 jam 22:58 WIB, dan artikel rekan Elde berjudul ‘Kasihan Anak Tiri itu….’ yang dipublish tanggal 01 May 2013 jam 14:02 WIB, saya jadi ingin membahas fenomena dan plus minus menjadi anak tiri.

Pada hakikatnya setiap anak yang dilahirkan di dunia adalah anak kandung, yang dikandung dalam rahim seorang wanita selama sekitar 9 bulan 10 hari, dan lahir ke dunia dengan selamat. Kalo anak gajah dikandungan ibu gajah bisa sampai 22 bulan, anak onta dikandungan ibu onta bisa sampai 15 bulan.

Tidak ada seorang anakpun di dunia yang berkeinginan menjadi anak tiri, kecuali jika ibu kandungnya meninggal dunia atau meninggalkan bayi yang tidak diharapkan tersebut, maka sejak saat itu anak tersebut di rawat oleh orang tua yang bukan orang tua kandung. Sebutan anak tiripun tidak terhindarkan.

Biasanya seorang ibu akan menyayangi anak-anaknya, baik kandung maupun tiri dengan baik. Karena anak adalah titipan Tuhan YME, namun dalam praktiknya sering kali terjadi anak tiri mendapat perlakuan yang berbeda dari anak kandung. Anak tiri lebih terpinggirkan sehari-hari. Bahkan sampai ada cerita rakyat tentang beda perlakuan anak kandung dan anak tiri, yaitu bawang merah dan bawang putih, juga ada film yang sangat terkenal dan box office sekitar tahun 1973 yang berjudul ‘Ratapan Anak Tiri’ dan tahun 1985 berjudul ‘Ari Anggara’.

Berikut adalah perbedaan perlakuan yang sering diterima anak tiri dibanding anak kandung, sehingga muncul istilah ‘dianaktirikan’. Untuk lebih lengkapnya, cek it out ;

1. Anak kandung makan nasi dengan lauk ikan tongkol, bandeng, dan tuna, anak tiri makan nasi dengan lauk ikan teri, Sehingga anak kandung badannya gemuk dan montok, sementara anak tiri kurus kering kerontang.

2. Anak kandung pergi ke sekolah, anak tiri pergi ke musolah.
Anak kandung belajar disekolah menempuh pendidikan formal (bayar) dari guru di sekolah, anak tiri menempuh pendidikan informal (gratis) dari ustad di musholah

3. Anak kandung berobat ke dokter, anak tiri hanya di plester.
Anak kandung jika sakit, misal terjatuh dan terluka saat bermain, orang tua akan panik dan segera membawa ke dokter, takut ada apa-apa, misal luka dalam atau patah tulang, anak tiri jika terjatuh dan terluka, orang tua tidak panik dan cukup di beri plester.

4. Anak kandung dibelikan baju baru, anak tiri dibelikan sapu baru.
Anak kandung mendapat baju baru untuk dipakai sehari-hari supaya badan terlihat bersih dan rapih, anak tiri diberikan sapu baru untuk dipakai sehari-hari supaya rumah terlihat bersih dan rapih.

5. Anak kandung jika tulisan dihapus admin di kompasiana gak komentar apa-apa, tapi berusaha memperbaiki dengan menulis lebih baik lagi dan diusahakan tidak melanggar TOC, anak tiri jika tulisan dihapus admin kompasiana banyak komentar, bahkan curhat melalui tulisan khusus terkait kenapa di hapus, merasa tertekan dan tapi tidak berusaha menulis lebih baik lagi dengan tidak melanggar TOC sehingga tulisan bebas dari sensor admin dan akun bebas dari banned atau suspended.

Demikian fenomena yang kerap di alami oleh anak kandung dan anak tiri berdasarkan pengamatan dan peneropongan Eyang Aswong, yang di email ke pakde kartono, sehingga saya tuliskan di sini untuk menambah khasanah pengetahuan kita, dan menjadikan kita semua lebih bijaksana. Satu hal yang pasti, anak tiri tak perlu sedih berkepanjangan, karena ada yang lebih kejam dari ibu tiri, yaitu ibukota.

Selamat malam Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 7 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 11 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: