Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Widodo Judarwanto

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. www.growupclinic.com www.allergycliniconline.com www.pickyeatersclinic.com www.dokteranakonline.com "We are guilty of many errors and selengkapnya

Tindakan Berlebihan CT Scan Anak, Waspadai Dampaknya

HL | 13 April 2013 | 01:49 Dibaca: 5085   Komentar: 9   5

13658111601720292170

Ilustrasi/ Admin (Kompas.com)

Dalam menghadapi permasalahan kesehatan pada anak, bukan hanya orangtua kadangkala dokter juga sering melakukan tindakan pengobatan dan pemeriksaan berlebihan. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan juga terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat. Sekitar 25 organisasi profesi medis yang beranggotakan sekitar 725.000 dokter di AS menyusun daftar prosedur yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, tapi masih sering diberikan. Ada lebih dari 130 prosedur yang berhasil dihimpun. Pemeriksaan CT Scan pada anak termasuk salah satu tindakan berlebihan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Demikian juga di Indonesia, meskipun belum ada data yang pasti tetapi seringkali ditemui pemeriksaan CT Scan yang berlebihan dan tidak perlu yang dilakukan orangtua atau bahkan oleh dokter sekalipun. Seringkali orangtua sudah merasa panik ketika anaknya jatuh dari tempat tidur. Bahkan saat anaknya terjatuh terpeleset lantai dengan kepala terbentur langsung menuntut dokter untuk memeriksa CT Scan. Seringkali dokter meluluskan permintaan orangtua tanpa memberi penjelasan perlu tidaknya pemeriksaan dan dampak pemeriksaan CT Scan. Kekwatiran orangtua tidak bisa disalahkan apalagi saat mendengar mitos bahwa saat anaknya jatuh sekarang tanpa gejala tetapi dampaknya akan terjadi saat besar. Mitos yang tidak benar ini menghantui para orangtua sehingga melakukan tindakan yang berlebihan tanpa memahami permasalahan yang terjadi.

Bahkan suatu studi review diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menetapkan bahwa sebanyak sepertiga dari semua CT scan dilakukan di Amerika Serikat sebenarnya  tidak diperlukan. Sekitar 50 persen anak-anak yang mengunjungi unit gawat darurat di rumah sakit karena mengalami cedera kepala menjalani pemeriksaan CT scan. Pemeriksaan ini akan membuat anak terpapar radiasi yang dapat meningkatkan risikonya terserang kanker di masa depan. American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk melakukan pengamatan klinis terlebih dahulu sebelum memutuskan melakukan pemeriksaan CT scan.

CT (Computed Tomography) Scan merupakan alat diagnostik radiologi menggunakan komputer untuk melakukan rekonstruksi data dari daya serap suatu jaringan atau organ tubuh tertentu yang telah ditembus oleh sinar X sehingga terbentuk gambar. CT Scan menggabungkan antar sinar-X khusus  dengan peralatan komputer canggih untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh. Gambar akan memperlihatkan penampang dari daerah yang sedang dipelajari dan selanjutnya dapat diperiksa pada monitor komputer atau dicetak. Hasil gambar dari CT Scan untuk organ dalam, tulang, jaringan lunak dan pembuluh darah terlihat lebih jelas dan lebih detail serta menyediakan informasi yang lebih rinci mengenai cedera kepala, stroke, tumor otak dan penyakit otak lainnya dibandingkan radiografi sinar-X biasa.

Pemeriksaan CT scan selain mahal juga bisa berdampak meski sangat ringan. Namun aturan tentang kapan mereka harus dan tidak boleh dilakukan tidak selalu jelas. Di Amerika Serikat, sebuah organisasi yang didanai pemerintah federal yang dikenal sebagai the Pediatric Emergency Care Applied Research Network memainkan peran utama dalam mengembangkan protokol penetapan indikasi dan penggunaan CT Scan pada anak.

Penggunaan CT Scan sering digunakan untuk alat diagnosis pada permasalahan kesehatan anak. Pada umumnya indikasi klinis pemeriksaan CT Scan sangat ketat kecuali kasus trauma kepala atau anak yang jatuh dengan trauma kepala. Sebenarnya tidak semua anak jatuh atau terbentur kepala harus dilakukan CT Scan kepala. Saat ini sebagian besar orang tua bahkan dokter telah melakukan pemeriksaan berlebihan pada anak dengan trauma kepala pada anak. Orangtua seringkali mudah panik saat anak jatuh dari tempat tidur atau jatuh terbentur terkena kepala. Padahal pada umumnya trauma kepala yang ringan tidak perlu pemeriksaan penunjjang seperti CT Scan atau rontgen kepala. Pemeriksaan CT Scan kepala sangat dianjurkan bila dijumpai: kelainan neurologis fokal, fraktur atau retak tulang kepala, adanya kejang, status mental menurun atau hilangnya kesadaran yang lama. Dalam beberapa kasus lainnya, CT scan mutlak diperlukan - misalnya, untuk mendiagnosis trauma kepala berat atau luka, untuk sakit perut akut, atau untuk mendiagnosis kanker yang ada.

Dampak CT Scan

Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi karena mereka memiliki harapan hidup lebih lama dan karena sel-sel mereka membelah lebih cepat, membuat DNA mereka lebih rentan terhadap kerusakan. Risiko anak terkena kanker fatal dari satu CT scan setinggi 1 dalam 500. Meskipun mesin baru dapat disesuaikan untuk memberikan hingga 50% lebih sedikit radiasi untuk anak-anak dan orang dewasa kecil, studi tahun 2001 yang diterbitkan dalam American Journal of Radiasi menunjukkan bahwa teknologi radiologis (RT) jarang membuat penyesuaian yang diharapkan. Jenis radiasi yang ditemukan di sinar X dapat menyebabkan sel dalam tubuh bermutasi dan menyebabkan kanker.

Sebenarnya telah lama timbul kekhawatiran pada masyarakat akan efek negatif radiasi elektromagnetik terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan CT Scan yang memancarkan radiasi khususnya pada anak-anak ternyata berpotensi menimbulkan dampak cukup serus.  Anak-anak yang terpapar CT scan bisa sampai tiga kali lebih besar risikonya mengidap kanker darah, otak atau tulang di kemudian hari. Demikian hasil temuan terbaru tim peneliti dari Kanada, Inggris dan Amerika Serikat yang  dipublikasikan dalam The Lancet Medical Journal.  Para peneliti menegaskan, risiko kanker secara absolut tampaknya sangat kecil. Meski begitu, mereka merekomendasikan supaya dosis radiasi dari CT scan yang diberikan pada anak sebaiknya seminimum mungkin.

Para peneliti mengklaim studi mereka adalah yang pertama untuk memberikan bukti langsung tentang hubungan antara paparan radiasi dari CT scan di masa kanak-kanak dan risiko kanker di kemudian hari. Sebagai teknik diagnostik yang penting, penggunaan CT scan telah meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir, terutama di Amerika Serikat, kata para peneliti. Risiko kanker potensial ada karena radiasi ionisasi yang digunakan dalam CT scan, terutama pada anak yang lebih sensitif terhadap radiasi daripada orang dewasa,” katanya.

Dalam kajiannya, peneliti melibatkan hampir 180.000 pasien yang menjalani CT scan saat anak-anak atau dewasa muda di bawah 22 tahun di Inggris antara tahun 1985 dan 2002. Dari jumlah tersebut, 74 orang di antaranya kemudian didiagnosis dengan leukemia dan 135 dengan kanker otak, menurut data selama periode 1985 sampai 2008.

Peneliti menghitung, dibandingkan dengan pasien yang menerima dosis radiasi kurang dari lima mili-grays (mgy), mereka yang diberi dosis kumulatif 30 mgy memiliki risiko tiga kali lipat mengembangkan leukemia (kanker darah atau sumsum) di kemudian hari. Sedangkan partisipan yang menerima 50-74 mgy memiliki risiko tiga kali lebih besar mengidap tumor otak. Studi ini tidak membandingkan antara anak yang telah dipindai (scan) dengan mereka yang belum dipindai. Dapat disimpulkan bahwa di antara setiap 10.000 pasien yang melakukan sekali CT scan sebelum usia 10 tahun, akan ada satu tambahan kasus leukemia dan tumor otak dari setiap 10 mgy radiasi dalam 10 tahun setelah paparan.  Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa CT scan “hampir pasti menghasilkan risiko kanker, walaupun kecil”.

Namun tidak dianjurkan agar anak-anak menghindari sama sekali paparan sinar X. Karena alat diagnosis ini penting untuk pengobatan penyakit lain, seperti radang paru (pneumonia) dan patah tulang. Mereka juga tidak membuktikan secara definitif bahwa sinar X langsung meningkatkan risiko leukemia. Para ilmuwan itu hanya menyarankan agar dokter tidak merekomendasikan penggunaan sinar X jika tidak benar-benar diperlukan atau malah melakukan tindakan pencegahan khusus melalui penggunaan CT scan. Karena alat diagnostik ini lebih berpotensi memberikan paparan radiasi berbahaya untuk tubuh. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien seharusnya dapat memenangkan keinginan berlebihan orangtua untuk melakukan pemeriksaan CT Scan pada anaknya padahal tidak diperlukan. Bukan sebaliknya dokter terbawa emosi dan kepanikan orangtuanya sehingga tetap meluluskan permintaan orangtua yang sebenarnya tidak perlu. Padahal CT Scan tidak murah dan bisa berdampak buruk meski sangat jarang.

Kumpulan Artikel dr Widodo Judarwanto, pediatrician Lainnya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: