Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Cay Cay

Belajar tak dibatasi usia.

Sekali Masinis Tetap Masinis

OPINI | 13 April 2013 | 19:23 Dibaca: 791   Komentar: 12   5

13658524021201864487

Arya dan lokomotif (dokumen pribadi)

Hingga hari ini jika ditanya tentang cita-citanya anakku tetap keukeuh ingin jadi masinis. Ya, Arya tetap konsisten dengan cita-cita yang dimilikinya. Sejak ia masih duduk di bangku TK, ia memang sangat senang dengan mainan kereta. Tanpa pernah bosan, ia sering minta dibelikan mainan kereta bahkan juga film tentang kereta. Film animasi tentang kereta berjudul Thomas menjadi koleksi kebanggaannya.

Kegemaran Arya pada kereta tak sebatas berupa mainan, ia bahkan juga maniak dengan stasiun kereta. Hampir setiap hari Minggu ia selalu minta diantar ke stasiun untuk melihat-lihat kereta. Ia hafalkan nama-nama kereta bahkan juga jadwal keberangkatannya. Buku-buku tentang kereta juga ia beli. Ia baca sejarah perkeretaapian, ia pelajari mesin-mesin yang digunakan untuk menggerakkan kereta. Tampaknya ia serius sekali dengan dunia kereta api. Sebagai ibunya kadang aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Biasanya seorang anak jika ditanya tentang cita-citanya, mereka akan menyebut berbagai profesi seperti dokter, pilot, tentara, atau profesi lain yang berkesan hebat. Tapi anakku malah dengan bangga dan enteng akan menyebut masinis jika ditanyai orang tentang cita-citanya. Baginya masinis adalah pekerjaan yang hebat karena bisa menjalankan kereta yang begitu panjang. Bahkan ketika melintas di jalan raya, maka kendaraan lain mesti mengalah pada kereta. Inilah salah satu alasan mengapa anakku bangga menjadi masinis.

Seiring dengan bertambahnya usia, kecintaan Arya pada kereta juga berkembang. Ia yang kini duduk di kelas 6 SD mulai memenuhi facebooknya dengan foto-foto tentang kereta api hasil jepretannya. Ia juga menjalin pertemanan dengan para railfans. Beberapa waktu lalu ia ngotot minta dibuatkan jaket dengan logo PT KAI dan dihiasi tulisan Railfans Tasikmalaya yang dibordir di bagian belakang. Begitulah cara dia mengungkapkan hobinya.

Hari ini Arya mengakhiri Ujian Sekolahnya. Seminggu lagi akan disambung dengan UKK dan bulan Mei nanti akan mengikuti Ujian Nasional. Arya tampaknya mulai jenuh dengan berbagai try out maupun bimbel yang dilakukan di sekolahnya. Baginya sekolah lalu terasa sebagai beban. Sering dia ungkapkan padaku kapan dia tidak harus sekolah lagi, karena dia ingin segera menjadi masinis. Dengan tersenyum aku selalu bilang padanya kalau mau jadi masinis ya harus belajar dulu dan menyelesaikan sekolah. Menjadi masinis tetap butuh ijazah.

1365854302239928653

Arya bermain di stasun (dokumen pribadi)

Seorang anak memang belum paham sesungguhnya tentang kehidupan. Seringkali mereka masih menganggap hidup seperti sebuah permainan. Semua tampak  serba indah dan menyenangkan. Itulah dunia pemikiran anak. Mereka belum mengenal kesusahan hidup, belum merasakan beban kehidupan seperti layaknya orang tua. Tak terkecuali anakku Arya. Ia jarang kelihatan sedih. Keceriaan selalu mewarnai dirinya, dan keceriaan itu pulalah yang menyebar di dalam rumah.

Sebagai orang tua tentu kita tak berhak menghakimi cita-cita anak. Sejauh cita-cita itu merupakan hal positif, biarlah anak tetap memiliki cita-cita itu. Sudah selayaknya orang tua membantu untuk mewujudkannya. Yang dibutuhkan hanyalah dorongan agar anak tetap mau belajar sungguh-sungguh agar bisa meraih keberhasilan. Jika suatu saat anak berubah pikiran, dan ia ingin mengganti cita-citanya biarlah itu terjadi karena hasil pemikirannya sendiri. Mungkin setelah melalui proses belajar yang panjang, seorang anak akan menemukan sesuatu yang baru. Bisa jadi ia pun akan mengubah cita-citanya.

Menjadi orang tua pun tetap harus belajar, dalam arti belajar memahami dunia seorang anak. Belajar menyelami keinginan seorang anak. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tidak semua orang tua mau belajar. Bagi mereka lebih mudah mendiktekan sesuatu pada anak-anaknya daripada mendengarkan suara anak. Proses belajar itulah yang kini juga tengah kujalani. Sebagai seorang ibu, aku berusaha menyelami keinginan anakku termasuk cita-citanya. Ketika kemarin anakku kutanya tentang cita-citanya, dengan tegas ia menjawab “Sekali masinis tetap masinis, Ma!”

“Okelah nak,” sahutku dalam hati. Beri mamamu kesempatan untuk terus belajar menjadi orang tua yang bisa memahami keinginanmu. Mudah-mudahan kelak dirimu bisa menjadi masinis yang baik dan berguna bagi banyak orang. Sesederhana impianmu, sesederhana pula harapan ibumu. Daripada kamu jadi orang besar, atau pejabat tapi korupsi. Lebih baik kamu jadi masinis tapi bisa membawa berkat bagi sesamamu****

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: