Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Erlin Karlina

Bunda dengan 3 Balita Berbagi Cerita dan Pengalaman www.erlinkarlina.com

Proses Melahirkan Lancar? Positive Thingking!

REP | 25 March 2013 | 22:32 Dibaca: 2090   Komentar: 0   0

Pekan ini tepat 2,5 bulan usia anak ketiga kami. Sekitar 3 bulan sudah saya off tidak mengisi blog. Dan sudah sepekan saya kembali memulai kembali menjalani rutinitas pekerjaan di kantor. Alhamdulillah tanggal 6 Januari 2013 lalu telah lahir putra ketiga kami, Salman Haniya. Lahir pada hari minggu, pukul 15.25 WIB dengan BB/PB 3,8 kg/51 cm melalui proses kelahiran normal. Walau lahir telat 4 hari dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), Salman lahir dalam kondisi sehat (Note : Fathan si sulung, lahir H+5 dari HPL, Hanan anak kedua, lahir H-3 dari HPL). Sempat deg-degan juga setelah HPL terlewati, karena sebulan sebelum HPL, saat kontrol ke dokter kandungan, perkiraan berat janin sudah mencapai 3,5 kg. Saya sempat khawatir Salman akan lahir dengan berat badan yang tidak memungkinkan menjalani proses kelahiran normal. Syukurlah semua proses kelahirannya justru berjalan jauh lebih lancar dan lebih cepat ketimbang kakak-kakaknya.

Seperti menjelang kelahiran kakak-kakaknya, saya ambil cuti dari pekerjaan kantor saat 2 minggu menjelang HPL, dengan harapan saya masih punya waktu untuk berlama-lama dengan bayi kami pasca persalinan nanti. Sejak cuti dimulai, segala cara yang dikatakan dapat mempermudah proses kelahiran pun saya lakukan sebagai rutinitas. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, suami selalu setia mendampingi dan membantu saya dalam melewati semua proses ini. Memperbanyak jalan kaki, menambah asupan suplemen dan vitamin (termasuk sari kurma dan madu), banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga (terutama yang memaksa untuk melakukan gerakan berjongkok), dan kegiatan lainnya yang banyak disarankan untuk memperlancar kelahiran normal saya usahakan terus lakukan dengan konsisten. Yang terberat justru adalah melakukan diet makanan manis, karena dokter wanti-wanti benar saat berat janin sudah mencapai 3,5 kg.

Sehari sebelum hari kelahiran Salman, kami berempat (Abi, Bunda, Fathan dan Hanan) masih sempat olahraga bersama ke GOR Bekasi, saat itu kami sempatkan menyaksikan beberapa klub bola basket dan bola volley yang sedang berlatih. Bahkan sempat pula menonton latihan sanggar tari anak-anak dibagian belakang GOR. Masa-masa seperti ini benar-benar menyenangkan buat saya. Ikatan keluarga kecil kami terasa amat kuat. Menikmati bermain bersama anak-anak yang sedang tumbuh melewati masa balitanya, sungguh sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Meski terkadang selalu ada saja keisengan-keisengan kecil mereka yang menguji kami sebagai orangtua untuk dapat berlaku bijak.

Malam harinya sepulang dari GOR Bekasi muncul flek darah, pertanda waktu persalinan sudah amat dekat. Rasa mulas sudah mulai datang menghampiri, hanya saja intervalnya masih berjauhan. Ketika pagi, interval rasa mulas sudah semakin dekat dan flek yang keluar pun semakin banyak, saya dan  suami pun memutuskan untuk bersegera ke RS. Alhamdulillah hari itu Dr. Yeni ada praktik pukul 09.00-12.00 WIB. Kami datang ke RS dan sempatkan terus untuk perbanyak jalan kaki guna memberi kelancaran dalam proses persalinan nanti sambil menunggu nomor antrian tiba. Dari lantai 1 sampai lantai 4 selasar RSIA Anna Pekayon kami kelilingi. Berharap terus agar pembukaan terus meningkat. Saya teringat suami sempat “memaksa” untuk menaiki tangga saja ketika berkeliling dari lantai ke lantai. Alhamdulillah meski berat sekali tetap saya jalankan, karena memang banyak yang mengatakan hal tersebut memang membantu proses persalinan nanti.

Tepat pukul setengah 12 siang saya mendapat giliran memasuki ruang periksa dokter. Dr. Yeni pun langsung mengecek pembukaan yang sudah ada, Alhamdulillah beliau langsung memberi tahu bahwa sudah pembukaan 5. Beliau pun meminta suami untuk langsung mengurus administrasi persalinan. Dari ruang periksa dokter saya langsung diantar keruang observasi pra-persalinan. Detik demi detik rasa mulas semakin hebat, beberapa kali pemeriksaan pembukaan yang dilakukan suster tidak menunjukkan perkembangan. Tetap pembukaan 5. Hingga akhirnya pada pukul 14.00, suster mengabarkan bahwa pembukaan tidak bergerak maju, dan Dr. Yeni menyarankan untuk melakukan induksi. Saya memang sering mendengar jika pembukaan sudah mencapai pembukaan 5, maka pergerakan pembukaan akan berjalan sangat cepat. Tapi nampaknya tidak pada saya. Suster pun akhirnya pun menguatkan, jika induksi dilakukan maka proses persalinan akan lebih cepat berlangsung, yang berarti saya juga tidak perlu berlama-lama menahan sakit dan dapat segera beristirahat pula. Ada satu sebenarnya alasan suster yang sangat mudah saya cerna. Induksi dilakukan agar saya masih punya tenaga (untuk mengejan) ketika persalinan berlangsung. Jika tertunda justru tenaga telah habis oleh karena menahan rasa sakit. Sangat masuk akal bagi saya, karena pada dua anak sebelumnya saya merasa kurang berdaya menghadapi persalinan ditambah kelahiran berlangsung dimalam hari disaat tubuh meminta beristirahat.

Meski dengan berat hati dan dihati kecil ada penolakan pada tindakan induksi yang akan dilakukan, akhirnya saya kuatkan diri, terlebih melihat suami yang terus menguatkan saya. Pengalaman induksi belasan jam pada anak pertama rasa-rasanya masih terngiang-ngiang rasa sakitnya…Tapi bismillah… dengan menyebut nama Allah, saya kuatkan diri. Pukul 14.30 induksi dilakukan melalui infus. Spontan efeknya langsung terasa, subhanallah… Maha suci Allah yang memberi kekuatan dan ketegaran pada seluruh ibu di dunia untuk berjihad melahirkan anak-anak mereka agar dapat taat kepada-Nya.

Alhamdulillah induksi kali ini memperoleh hasil yang cukup cepat, kurang lebih 1 jam setelah induksi dilakukan, Salman lahir dengan lancar, dua kali mengejan ia pun menghirup udara dunia. Yang mengejutkan lagi, Salman lahir dengan bobot yang cukup besar. Tapi justru dalam mengejan saya merasa lebih mudah kali ini. Mungkin benar orang bilang, perbanyak gerak dan jalan kaki akan sangat membantu. Ditambah lagi prosesnya bukan dimalam hari, mungkin itu menambah kekuatan tersendiri bagi saya.

Pada persalinan kali ini, akhirnya saya bisa langsung memegang bayi saya. Salman bisa kami rawat gabung dengan ruang rawat saya. Salman bisa memperoleh “IMD” (Inisiasi Menyusui Dini), sementara kedua kakaknya dulu pasca persalinan langsung dilarikan ke ruang perina. Masalah IMD di RSIA Anna Pekayon ini agak berbeda dengan yang saya pahami. Jika dalam teori yang saya baca, bayi diletakkan pasca persalinan langsung diatas dada sang ibu untuk menunggu reflek bayi mencari puting ibu. Tapi saat itu yang terjadi suster sempat membersihkan tubuh bayi terlebih dahulu, baru setelah itu diletakkan diatas dada, langsung diarahkan menuju puting (bukan membiarkan bayi mencari secara alami). Tapi lepas dari itu, saya tidak mau mempersalahkannya. Semua anugrah yang terjadi saat itu, sudah amat sangat membuat saya dan suami bersyukur. Alhamdulillahirabbil ‘alamin….

Kelahiran anak ketiga disebut Dr. Yeni sering mengalami proses lebih sulit dibanding anak pertama dan kedua. Ternyata itu tidak terbukti pada saya. Positive thinking memang hal yang utama dalam menghadapi apapun. Bersyukur kali ini semua dapat kami lalui dengan baik. Meski sempat ada kejutan kecil, bahwa ternyata ditemukan miom berdiameter lebih kurang 4 cm pada rahim saya di hari ketiga perawatan. Namun kami kembali bersyukur, karena pada minggu kedua pasca persalinan untuk melakukan kontrol kembali, miom tersebut telah mengecil dan dianggap tidak membahayakan. Alhamdulillah…

Semoga pengalaman yang kami bagi kali ini dapat diambil manfaatnya. Minimal bagi saya pribadi ini adalah dokumentasi keluarga. Setiap akan melahirkan kembali, saya selalu membuka kembali tulisan saya sendiri tentang pengalaman melahirkan sebelumnya. Termasuk membaca pengalaman bunda-bunda lainnya. Pengalaman saya melahirkan Fathan anak pertama kami, dapat dibaca DISINI. Pengalaman saya melahirkan Hanan Zaidan anak kedua kami, saya tuliskan DISINI. Semoga bermanfaat dan terkhusus buat para bunda yang akan segera melahirkan, mantapkan hati dan yakinkan diri bahwa bunda bisa, niatkan sebagai ibadah, insyaallah lancaaar…

Semangat ya bunda!  ^_^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 4 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 6 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Citilink Kok Nggak Ngaret Lagi Sih…? …

Sony Hartono | 8 jam lalu

Mahasiswa Swasta Itu 90% Berbakat Menjadi …

Jejen Al Cireboni | 8 jam lalu

Perjalanan tanpa Tujuan adalah Tujuan …

Mochamad Syafei | 8 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Belajar Bahasa Inggris: Buat Pendengar …

Arbi Syah Sabi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: