Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Agustin Erna

be a smart people...

“Eksistensi Generasi Digital (Gen-Y)”

OPINI | 24 March 2013 | 21:29 Dibaca: 313   Komentar: 0   0

Perubahan keadaban dunia ini melahirkan istilah nama untuk setiap generasi yaitu baby boomer, generasi, x, generasi y, serta kemunculan generasi z. Setiap zaman mempunyai generasinya sendiri dan setiap generasi menggerakkan zamannya sendiri sebagai akibat dari perubahan demi perubahan kehidupan dan kebudayaan ini. Keberadaan paling menonjol dalam kurun 50 tahun ini adalah bagaimana kita menyaksikan generasi X dan generasi digital/generasi y (Gen-Y). Generasi X dalam beberapa kajian adalah kelompok usia yang lahir antara tahun 1965 sampai 1976. Ciri besarnya adalah generasi X skeptis terhadap otoritas dan kemerdekaan. Generasi x ingin berwirausaha, hidup damai, stabil, serta mempunyai keluarga sebagai tujuan hidup. Gen-Y sendiri adalah populasi terbesar zaman ini, yang lahir antara 1982-1992. Gen-Y atau milenium adalah generasi yang tumbuh seiring dengan berkembangnya komunikasi massa dan internet. Generasi ini menggunakan internet sebagai sumber utama dari informasi dan pertemanan sosial. Mereka juga dibesarkan saat kondisi ekonomi tumbuh pesat, memungkinkan mereka untuk memiliki pendapatan yang signifikan, dan banyak kesempatan untuk membelanjakan uang yang dimiliki.

Karakteristik pertama Gen-Y yaitu tidak sabaran, tak mau rugi, dan banyak menuntut. Gen-Y terbiasa dengan segala hal yang sifatnya instan, cenderung tidak sabaran, jika memiliki keinginan harus segera terlaksana. Kedua, Percaya diri dan optimis. Gen-Y cenderung lebih mudah menerima perubahan, karena lebih open minded dan berkeinginan tinggi untuk belajar segala hal baru. Gen-Y juga lebih percaya diri untuk tampil di depan forum dan mengemukakan pendapatnya. Ketiga, Family centric. Meski Gen-Y mandiri, tetapi cenderung dekat, bahkan masih manja dengan orang tua. Keempat, suka berinovasi dan memunculkan ide baru. Gen-Y selalu mengikuti trend terbaru dan tak sabar untuk menciptakan trendnya sendiri. Kelima, memiliki semangat yang luar biasa. Gen-Y mengerjakan tugas dengan lebih bersemangat dan cepat karena kebanyakan lebih melek teknologi. Mereka cenderung mudah beradaptasi dengan teknologi baru. Keenam, tidak menyukai jadwal yang detail. Gen-Y adalah koordinator, bertemu dengan klien atau teman misalnya, tanpa perlu perjanjian yang rumit dan direncanakan, bertemu di tempat yang disetujui secara mendadak pun dilakukan, seperti kapal mengikuti radar. Ketujuh, anytime-anywhere. Gen-Y kurang memperdulikan aturan baku. Bagi mereka, bekerja dari cafe atau toko merupakan hal lumrah. Namun, Gen-Y dianggap kurang baik dalam menjalin komunikasi dengan sesama.

Gen-Y sering berhubungan dengan orang tua mereka dan menggunakan teknologi pada tingkat lebih tinggi dari orang-orang dari generasi lain. Mayoritas Gen-Y menggunakan komputer, memiliki ponsel, menggunakan pesan instan untuk berkomunikasi, televisi untuk mendapatkan berita, dan internet untuk mendapatkan berbagai informasi. Di Asia, karakteristik Gen-Y secara umum ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan alat komunikasi, media, dan teknologi digital. Ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa kecanduan terhadap teknologi (game, jejaring sosial) membuat komunikasi yang tidak baik dalam keluarga. Anak cenderung tertutup terhadap orangtuanya, menyendiri dan asyik dalam “dunia”nya.

Anak Gen-Y yang dilahirkan saat teknologi sudah menjadi bagian dari hidup dan akan bermasalah saat dihadapkan dengan orang tua yang berasal dari generasi X. Orangtua seringkali akan menuntut anaknya untuk berperilaku sesuai dengan sikap dan nilai orang tua dari generasi X.

Sistem keluarga menjadi terganggu, misalnya komunikasi memburuk serta adanya penolakan-penolakan dari anak terhadap orang tua, atau sebaliknya. Perbedaan teknologi, pendidikan, pergaulan, perkembangan bahasa dari kedua generasi ini dapat memunculkan komunikasi yang paradoks sehingga sering terjadi kesalahpahaman ketika membicarakan sesuatu. Sebagai contoh, orang tua menyuruh anaknya untuk memakai pakaian yang sopan “jangan memakai celana sempit”. Gen-Y lebih mengutamakan spesifikasi dalam menarik kesimpulan dari sebuah informasi, kerena telah terbiasa dengan cara pikir short-cut. Anak akan menangkap informasi bahwa jangan memakai celana sempit tapi rok mini boleh.

Upaya menjembatani komunikasi generasi x dengan Gen-Y dalam konteks keluarga perlu dibangun. Kunci komunikasi adalah kepercayaan, dan kunci kepercayaan adalah layak dipercaya. Sebaik apapun materi komunikasi, bila tidak dilandasi kepercayaan, maka akan tidak efektif. Nah, di sini integritas diri memainkan peranan penting. Integritas diri menggambarkan kesesuaian antara tindakan dengan apa yang dikatakan dan di dalamnya terkandung pula unsur kejujuran sebagai fondasi utama untuk membangun komunikasi efektif. Komunikasi akan sukses apabila orangtua memiliki kredibilitas di mata anaknya.

Komunikasi yang efektif harus diawali dengan sikap saling menghargai (respectfull attitude). Adanya penghargaan akan menimbulkan kesan serupa (timbal balik) dari lawan diskusi. Orangtua yang berkomunikasi dengan penuh respek, maka anak pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan orangtua atau orang di sekitarnya. Pentingnya empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti orang lain. Mendengarkan di sini tidak hanya melibatkan indra saja, tapi melibatkan pula mata hati dan perasaan. Cara seperti ini dapat memunculkan rasa saling percaya dan keterbukaan dalam keluarga. Sebuah pesan juga harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke dalam komunikasi audibel. Tentu saja, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya dan tidak menimbulkan banyak pemahaman yaitu berbicara sesuai bahasa yang dipahami Gen-Y (melihat tingkatan usia). Dalam membahas suatu masalah pun hendaknya proporsi yang diberikan tepat baik waktu, tema, maupun sasarannya. Waktu yang tepat untuk membicarakan masalah anak misalnya saat suasana sedang santai sehingga pesan lebih mudah diterima. Selain itu, perlunya sikap rendah hati yaitu melalui perlakuan yang ramah, saling menghargai, tidak memandang diri sendiri lebih unggul ataupun lebih tahu, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri. Dengan sikap rendah hati maka lawan diskusi menjadi lebih terbuka, sehingga banyak hal yang dapat diungkapkan dari diskusi tersebut.

Salam.

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

Penerima Bakrie Graduate Fellowship 2012

Tags: y anak generasi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: