Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Agus Sutondo

Aku Tetap Sayang dan Cinta Indonesia

Kematian Ibu dan Anak di Jawa Barat Tertinggi

OPINI | 26 January 2013 | 03:10 Dibaca: 1614   Komentar: 0   1

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), presentase angka kematian ibu dan anak telah menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Hanya saja, dari beberapa kota yang ada di Indonesia, Jawa Barat masih menjadi salah satu daerah dengan angka kematian ibu dan anak yang paling tinggi se Indonesia.

Apalagi tingginya angka kematian ini kebanyakan terjadi akibat pendarahan dan infeksi yang tidak tertolong, Pendarahan ini banyak terjadi pada ibu yang melahirkan di usia muda ditambah minimnya penggunaan alat KB serta layanan medis dalam proses persalinan. Penyebab lain tingginya angka kematian Ibu dan anak di jawa barat tak lepas dari faktor kemiskinan, masalah ekonomi, rendahnya pendidikan dan akses penduduk terhadap pelayanan kesehatan.

Banyaknya angka kematian Ibu dan Anak (AKI) di Jawa Barat, tentunya membuat kita semua bertanda tanya padahal begitu banyak penghargaan yang sudah diperoleh oleh pemerintah jawa barat, lalu apa artinya penghargaan tersebut kalau faktanya dari tahun ke tahun angka kematian ibu dan anak tidak mengalami perubahan yang berarti, hal ini tentunya menjadi indikator bahwa pemerintah jawa barat telah gagal dalam hal memberi pelayanan kesehatan pada perempuan.

Sehingga wajar saja bila ada pertanyaan dari masyarakat yang mempertanyakan adanya kontradiksi, tidak berkorelasi antara prestasi dan sesuatu yang harusnya diraih secara signifikan. ternyata yang namanya penghargaan itu secara riil belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sekedar catatan, bukan hanya sektor pelayanan kesehatan saja yang belum mampu ditangani dengan baik oleh pemerintah Jawa Barat, bidang pendidikan juga sungguh memprihatinkan, lihat saja bagaimana Angka Partispasi Kasar (APK) pendidikan di jawa barat yang masuk nominasi paling rendah se Indonesia, Padahal selama ini orang selalu berpikir bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Wilayah Indonesia Timur sangat rendah, namun sekarang persepsi itu kini sudah berubah, ternyata sekarang ini Jawa Barat menduduki rangking terendah Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan bagi masyarakat untuk mengakses pada semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), sekolah menengah umum (SMU) sampai jenjang strata satu.

Begitu juga masih banyaknya masyarakat jawa barat yang buta aksara alias buta huruf, saat ini berdasarkan informasi dari Pusat Data dan Analisa Pembangunan (Pusdalitbang) Jawa Barat tercatat bahwa jumlah angka buta aksara tahun 2012 untuk usia 15 tahun keatas mencapai 1.072.160 jiwa, jika diakumulasikan dari jumlah penduduk secara keseluruhan yang mencapai 43.053.732 jiwa, maka jumlah buta aksara ini masih sangat tinggi. Padahal tiga tahun sebelumnya tepatnya pada tanggal 8 September 2009, Jawa Barat pernah mendapat penghargaan Anugerah Aksara dan Penghargaan ini diserahkan secara langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo kepada Gubernur Jawa Barat di Cilegon Banten, Atas prestasi dalam memberantas buta aksara di Jawa Barat. Lalu apa artinya penghargaan tersebut kalau faktanya hampir satu juta lebih penduduk jawa barat masih buta aksara alias buta huruf, sehingga secara riil ternyata yang namanya penghargaan itu tidak mampu menekan angka buta aksara di jawa barat.

Lebih memprihatinkan lagi walaupun dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang sangat besar, ternyata anggaran triliunan rupiah tersebut belum mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Barat, terbukti saat ini hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Barat berada di urutan ke 15 secara nasional maka dengan IPM rendah ini membuktikan bahwa tingkat kualitas pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat masih rendah.

Indek Pembangunan Manusia (IPM) adalah salah satu tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan roda pembangunan di wilayahnya, dimana tujuan akhir dalam pembangunan suatu daerah adalah manusia, Karena suatu daerah akan dinilai maju atau berkembang apabila kebijakan ekonominya berpengaruh terhadap kualitas hidup manusia dan dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat menikmati Pendidikan, Kesehatan, dan menjalankan kehidupan yang produktif. Sehingga melalui IPM akhirnya dapat diketahui sampai sejauh mana keberhasilan yang sudah dicapai oleh suatu daerah.

Berita Terkait :

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kuliner: Dari Mesir ke Yordania Bersama …

Andre Jayaprana | | 20 September 2014 | 18:49

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Asian Games 2018, tantangan bagi Presiden …

Muhamad Kamaluddin | | 21 September 2014 | 04:34

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 3 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 6 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: