Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Perempuan Bercerita: Istri Korban KDRT Bangkitlah!

REP | 29 November 2012 | 10:18 Dibaca: 797   Komentar: 0   7

Semalam aku membaca sebuah fiksi karangan Dian Yasmina Fajri  berjudul Bunga Untuk Wise. Cerita yang membuat emosiku terpancing … Bagaimana tidak ? Kisah itu mengangkat tema yang sensitif untuk hatiku ini. Entah mengapa ? Aku selalu merasa miris, sedih, bahkan marah bila membaca atau mendengar kisah tentang kekerasan terhadap perempuan. Apakah teman-teman kompasiana pun demikian ?

Aku bukan korban KDRT. Namun aktivitasku bersama teman-teman di Fahmina Institute juga sebagai dosen di Institut Studi Islam Fahmina memberi pengalaman berharga terkait dengan isu kekerasan terhadap perempuan. Kisah fiksi yang kubaca semalam membuatku  menuliskan komentar di http://www.facebook.com/dian.yasminafajri.9. Inilah komentarku dan komentar beberapa teman yang makin menyemangati aku untuk berusaha membantu perempuan korban KDRT.

Dewi :

fakultas matematika itb ? (mungkin maksudnya fakultas mipa ya Dian Yasmina Fajri) jadi penasaran … jurusan apa ? ada matematika, fisika, biologi ? duh … aku kuliah di itb juga di arsitektur dan punya sahabat yang kuliah di matematika itb, tapi pasti bukan temanku. waktu baca cerita ini jadi ingat juga ada tetangga komplek sebelah waktu tinggal di cirebon meninggal karena kdrt di pukul suaminya padahal baru beberapa minggu melahirkan. nah … keluarga perempuan meminta otopsi dan diajukan ke polisi untuk menyeret lelaki dzalim itu ke penjara. he3 … tadinya aku berharap ending ceritanya adalah perjuangan keluarga perempuan dibantu wisnu dan mus (kalau perlu fatma sebagai ustazah turun tangan) menyeret hilmi ke penjara : sebagai bentuk keberpihakan kepada korban kdrt terutama istri. he3 … maaf terbawa arus emosi … karena ternyata kita yang berpendidikan tinggipun (di ceritakan di sini lulusan itb loh ! dulunya aktivis dakwah juga bukan ? mungkin di masjid salman atau di komunitas kajian lainnya) kadang tak paham bagaimana menolak bentuk kedzaliman terhadap diri kita sendiri apalagi terhadap orang lain terutama sesama perempuan … hiiiksssss …

Lygia :
Dulu, aku pernah ngalami KDRT juga. Awalnya tiap kali aku dipukuli di depan anak2 aku gak melawan karena aku hapal sesudahnya pasti mantan akan mencium kakiku memohon maaf dan merengek supaya aku tidak meminta cerai. Sampai kemudian seorang sahabat yang tahu cerita ini (beliau seorang petinggi di media cetak waktu itu) menuliskan kisahku di korannya sebanyak 5 edisi. Kemudian dia menyentakku dengan bilang, “Kamu sakit jiwa ya Neng? Akang lihat, kamu yang sakit. bukan dia.” Tentu saya meradang dibilang seperti itu. tapi lanjutnya lagi, “Karena kamu diam saja ketika dipukuli. Karena kamu yang seorang sarjana hukum, lulusan UI pula, membiarkan dirimu diperlakukan semena2 oleh orang lain yang gak punya hak untuk itu. jangan2 kamu yang sakit karena menikmati setiap pukulan. gak kasian anak2 ngeliat terus prilaku begitu?”

Deg, disitulah turning pointnya. Aku bukan orang sakit jiwa, dan aku gak ingin anak2ku melihat tontonan buruk seperti itu. Akhirnya aku bangkit dan melawan, berpisahlah kami kemudian.

Masalahnya, terkadang bukan orang enggan untuk menolak kedzaliman, tapi dia belum terbuka matanya. butuh seseorang pihak lain yang mau dan mampu membukakan matanya, kalau perlu melindunginya agar tidak diperlakukan seperti itu lalu. Namun, terkadang pula orang lain/pihak ketiga enggan melakukan itu, karena masih ada komentar seprti, “Ah, itu kan urusan rumah tangga orang lain. Kamu jangan ikut campur deh. ngapain sih?”

Dewi :

big hug Lygia Pecanduhujan terharu sangat dengan perjuangannya melepaskan diri dari lingkaran kdrt … subhanallah … semoga Allah memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada mba dan anak-anak : aku dan teman-teman di Fahmina-institute dan kampus Institut Studi Islam Fahmina sangat perhatian dan berjuang untuk membantu teman-teman perempuan yang mengalami hal seperti ini, namun … perjuangan ini tidak mudah : karena ternyata senyatanya justru kadang mendapat penolakan dari lingkungan terdekat mereka sendiri atau bahkan dirinya sendiri yang belum ‘ngeh’ kalau kdrt adalah kedzaliman / kejahatan yang seharusnya dapat diancam dengan pidana.

Lygia :

pernah, hehehehe. waktu itu sahabatku itu bilang, “kamu mau nunggu sampai kapan? sampai kamu mati karena dia? kamu mau nunggu anak2mu nangis liat ibunya meninggal?” aku merindiing banget, dan ya begitulah. akhirnya aku milih untuk berpisah. meski katanya wanita tak akan mencium wangi surga kalau meminta cerai dari suami (seperti yang banyak didengung2kan oleh para lelaki), tapi aku sangat yakin, Allah pasti lebih gak suka rumah tangga yang lebih banyak mudharatnya

betul mbak. sulit. aku sering kesal kalau ada teman yang dipukuli suaminya tapi selalu memaklumi dan bilang, “gpp,emang saya yang salah.”. TIDAK, semua orang berhak bahagia dan dibahagiakan terutama oleh pendampingnya. dan SALAH bukan berarti harus menerima hukuman fisik dari orang yang seharusnya melindungi dan mengayomi. Hiks

betul juga. kecerdasan emosi yang harus dipelajari juga. karena dalam pernikahan, tidak hanya dijalani oleh suami dan istri. tapi juga dirasakan akibatnya oleh anak2 yang gak berdosa. Kalau kita mau berkorban apapun demi pasangan meski ia terus menyiksa kita, harap kita ingat : anak2 kita punya HAK untuk hidup dalam keluarga yang harmonis. Anak2 punya hak untuk melihat orangtuanya saling mencintai, bersikap penuh kasih sayang satu sama lain. karena, dari orangtuanyalah mereka akan belajar tentang arti CINTA.

Dewi :

betul sekali loh … sering kalimat tak akan mencium bau surga itu di dakwahkan … padahal konteksnya bukan untuk istri yang dipukuli, dicaci maki, di tendang, disiram air panas, atau diperkosa oleh suaminya sendiri bahkan diancam pembunuhan. kalau suami baik hati, sabar, penyayang, lembut, menghormati, dan menghargai istri serta mencukupi kebutuhan rumahtangganya … baru deh dipertanyakan bila istri meminta cerai ? cerai itu bisa jadi justru pilhan terbaik untuk rumah tangga dalam hal ini istri dan anak-anak untuk menjalani hidup yang lebih bahagia karena tentu tak ada pembenaran untuk kedzaliman fisik dan psikis dari suami kepada istri dan keluarganya atas nama pendidikan atau kesalahan. ayo mba tulis cerita tentang perjuangan hebat mu … ^_^ : oya satu lagi beberapa teman yang mengalami kdrt lalu bercerai, sekarang alhamdulillah mendapat suami yang baik … dan ayah yang penyayang bagi anak-anaknya. dan surga itu luas … pintunya juga tak terbatas jumlahnya … Allah Yang Maha Kuasa menentukan darimana kita dapat memasukinya … bukan satu-satunya jalan dengan patuh pada seorang suami dzalim … (ha3 … duh … jadi semangat begini ya …)

Lygia :

tapi ada lho, seorang kiai yang katanya aktifis hak2 perempuan utk urusan KDRT ini yang ternyata justru di rumahnya dia suka menyiksa istrinya kalau lagi marah. nah lho .. gimana tuh?

Dewi :

wah … hayu di demo (kita buat tulisannya dan dimuat di berbagai media ^_^ : kebawa ide temannya mba lygia yang menulis kisah sampai 5 edisi) tapi kalau fiksi aku nyerah deh !

Lygia :

mau mendemo dari dulu, tapi takuuut mbak. soalnya dia itu namanya harum di mana2, meski aslinya wuiih … aku tau gimana aslinya dia karena Alhamdulillah pernah berinteraksi langsung dengan beliau selama berbulan2, dan orang terdekatku dulu adalah asistennya dia sampe sekarang

dulu aku sempat kepikiran buat bikin kumpulan kisah-kisah inspiratif para korban KDRT. bagaimana mereka melewati hari2 yang kelam dan bagaimana akhirnya mereka bisa bangkit kembali atau malah terpuruk

Oh iya, satu hal lagi. banyak perempuan yang cerdas secara intelektual tapi mereka gak sadar bahwa KDRT itu bukan hanya secara fisik tapi bisa juga secara emosional. makian, cacian, penghinaan dari suami yang bilang, “kamu gak becus. kamu gak akan bisa dapet yang lebih baik dari aku. kamu pasti bakal gak mampu kalau bukan aku yang jadi suamimu. dll dll.. semua itu termasuk dalam KDRT psikis.”

Dewi :

duh … memang rasa takut sering menyergap kita ketika berhadapan dengan lelaki berkuasa, berjabatan, berduit, atau orang yang menurut kacamata umum itu tampak sangat shalih … : paling tidak aku bantu doa dan semangat … agar kumpulan kisah-kisah inspiratif yang di gagas itu bisa terwujud

Begitulah percakapan lewat komentar di jejaring sosial yang pagi ini begitu hangatnya. Ku buka buku karangan KH. Husein Muhammad berjudul Spiritualitas Kemanusiaan halaman 262 tertulis ‘Orang yang terhormat adalah dia yang menghormati perempuan, dan orang yang berhati rendah adalah dia yang merendahkan perempuan’ (hadis Nabi saw). Satu lagi hadis Nabi saw yang patut diteladani ‘Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik memperlakukan istrinya dan aku adalah orang yang terbaik terhadap istriku.’ Nabi saw tidak pernah memukul istrinya pun pembantu rumahnya, dan Beliau mengecam orang yang ringan tangannya dengan mengatakan ‘Latadhribu innaAllah’ (jangan pukul hamba-hamba Allah yang perempuan).

1354544602314254048



 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 18 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 19 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Kartu Kuning M Taufik dan Hukuman Mati bagi …

Hsu | 9 jam lalu

Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo …

Teguh Sunaryo | 9 jam lalu

Keluarga Pembaca …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

KMP Mengincar posisi Menteri …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: