Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Andi_asri@ymail.com

Sebagai dosen pada FKM UVRI Makassar dan juga peneliti pada lembaga swadaya kesehatan masyarakat. Tercatat selengkapnya

Air Susu Ibu

OPINI | 01 November 2012 | 09:04 Dibaca: 1266   Komentar: 0   0

Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. Menyusui merupakan proses alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini dari yang semestinya. Oleh karena itu ibu-ibu memerlukan bantuan agar proses menyusui berhasil.

Kurangnya pengertian dan keterampilan petugas kesehatan tetang keunggulan ASI dan manfaat menyusui menyebabkan mereka mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu (pasi), sehingga dewasa ini semakin banyak ibu memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kebiasaan yang kurang baik, seperti pemberian makanan praklakteal yaitu pemberian makanan/minuman untuk menggantikan ASI apabila ASI belum keluar pada har-hari pertama setela kelahiran. Jenis makanan tersebut antara lain tajin, air kelapa, madu yang dapat membahayakan kesehatan bayi dan menyebabkan berkurangnya kesempatan merangsang produksi ASI sedini mungkin melalui isapan bayi pada .payudara ibu. Disamping masih banyak ibu-ibu tidak memmanfaatkan kolostrum (Asi yang keluar pada hari-hari pertama), karena dianggap tidak baik untuk makanan bayi, susu basi, dan lain.lain. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) diberikan tidak tepat waktu (terlalu dini atau terlalu lambat) serta tidak mencukupi baik kualitas maupun kuantitas (Depkes RI, 2005).

Hasil penelitian di bogor tahun 2001 menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI Eksklusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang mederita gizi buruk ketika mereka berusi 5 bulan. Bayi yang diberikan susu selain ASI, mempunyai resiko 17 kali lebih besar mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali lebih besar memungkinkan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendap ASI, (WHO 2000).

Menyusui merupakan salah satu ekspresi cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada bayinya yang sekaligus memperkuat ikatan batin antara keduanya.Dalam dekapan ibu ketika menyusui,bayi akan merasa hangat,aman,dilindungi,dicintai dan disayangi,ini semua merupakan stimulus dini untuk meletakkan dasar perkembangan emosi dan kepribadian anak yang baik (Depkes,2000).

Banyak hal ini mesti dipersiapkan oleh ibu untuk menyambut sikecil agar ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas.Salah satunya adalah mempersiapkan diri agar ibu berhasil menyusui bayi secara ekslusif sampai bayi berumur 4 - 6 bulan.Persiapan ini perlu dilakukan oleh setiap ibu karena air susu ibu (ASI) merupakan gizi paling sempurna yang mengandung zat kekebalan serta mudah dicerna oleh bayi.Selain hal tersebut,ASI juga mempunyai nilai ekonomis dan sangat praktis dalam pemberiannya (Depkes 2005).

Selain itu gangguan pertumbuhan pada balita disebabkan karena: kekurangan gizi sejak bayidalam kandungan,tidak taat dengan pemberian ASI ekslusif,terlalu dini memberikan makanan pemdamping ASI dan MP-ASI tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama besi dan seng.

Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi yang baru lahir,maka ibu harus degera mungkin menyusui bayinya,karena air susu ibu (ASI) memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi.Oleh sebab itu bayi yang berumur 0 - 6 bulan dianjurkan hanya diberi ASI tanpa pengganti ASI ataupun makanan pendamping(Depkes,2005).

Meskipun menyusui merupakan proses alamiah,namun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ibu yaitu cara menyusui yang baik dan benar,pemenuhan kebutuhan gizi ibu,istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang,ada upaya yang dilakukan supaya ASI tetap cukup berkualitas,upaya yang dilakukan apabila kondisi ibu/bayi tidak memungkinkan untuk menyusui serta upaya yang dilakukan sebelum ASI keluar.

Seorang calon ibu harus sehat secara biologik, psikologik dan sosial untuk mengalami proses mammogenesis kemudian lactogenesis, galactopoiesis kemudian transfer ASI. Lactogenesis dipengaruhi oleh proses persalinan dan stimulasi dini dari payudara ibu. Untuk melalui proses galactopoiesis yang baik seorang ibu harus memiliki kondisi lactogenesis yang baik serta, stimulasi dan drainase payudara yang baik. Agar galactopoiesis yang sudah baik ini bisa memberi pertumbuhan optimum, transfer ASI harus terjamin.

Jaminan tersebut bisa diperoleh dengan breast-feeding technique dan milk ejection reflex yang baik pula. Mammogenesis terjadi sejak calon ibu masih dalam kandungan sampai remaja dan dewasa. Suksesnya proses ini ditandai dengan payudara yang membesar, sensitivitas meningkat dan mengeluarkan kolostrum dini pada akhir kehamilan. Lactogenesis atau inisiasi laktasi berlangsung setelah selesai partus, dan perlangsungannya secara klinis dinyatakan baik bila payudara ibu penuh dan memproduksi kolostrum serta ASI. Galactopoiesis adalah berkelanjutannya produksi ASI. Galactopoiesis bisa terhalang akibat drainase yang tidak komplit, kurang frekuennya isapan bayi, teknik breastfeeding yang tak efektif, dan lebih dininya pemberian makanan selain ASI. Agar ASI berpengaruh pada pertumbuhan, harus ada transfer ASI yang memadai dari ibu ke anak (Livingstone, 1995 dalam Bahar Burhanuddin, 2002 ).

Studi Kennel tentang close contact serta studi yang lain tentang skin to skin contact saat awal kelahiran anak dihubungkan dengan tingginya prevalensi dan durasi breastfeeding. Kontak fisik antara ibu dan anak bukan hanya memberi efek positip pada masa neonatal tetapi kontak fisik sesudah masa itu memberi efek serupa. Kontak ketika anak dipeluk, kontak saat anak diberi ciuman, saat menyusu di mana mulutnya, mukanya yang terletak di dada ibu, tak bisa digantikan oleh hubungan dengan susu botol (de Andraca dan Uauy, 1995, dalam Bahar Burhanuddin, 2002 )).

Dari praktek ibu, aspek menyusui meliputi perawatan payudara, dan masalah yang mungkin timbul pada payudara serta masalah dalam pemberian ASI.

a) Merawat payudara sebagai sumber ASI.

Sabun, alkohol, atau bahan kimia lainnya karena dapat mengganggu payudara. Mandi pagi dan sore serta berpakaian bersih (baik pakaian luar maupun pakaian dalam) sudah cukup dalam merawat payudara, dan cuci tangan sebelum ibu memberi ASI pada anak. Masase payudara pada bulan-bulan terakhir kehamilan membantu pembentukan puting agar lebih menonjol (Suryabudhi, 1994; King,1993 dan Pryor, 1973 dalam Bahar , 2002 ).

b) Masalah yang mungkin timbul.

Masalah yang dapat timbul pada ibu dapat berupa payudara terasa nyeri karena bendungan ASI, dapat diatasi dengan memberi kesempatan anak mengisap dengan posisi mulut yang betul sesering mungkin. Dapat juga dilakukan pemompaan payudara, atau payudara dikompres air hangat. Cara lain adalah dengan usapan kulit payudara terutama sekitar puting. Bendungan ASI bisa berlanjut, dan mungkin terjadi infeksi pada payudara (mastitis). Infeksi bisa berkembang menjadi abses payudara. Baik pada mastitis maupun abses, anak tetap disusui. Bila kondisi payudara membaik, anak disusui segera pada payudara yang pernah meradang agar pasokan ASI kembali seperti semula (Ebrahim,1994 serta Stanfield dan Jelliffe,1994, dalam Bahar , 2002 ).

Masalah lain yang mungkin timbul adalah kulit puting pecah. Hal ini dapat dirawat dengan memperbaiki posisi isap anak. Cara yang lain dalam merawat puting pecah ini adalah dengan meninggalkan setetes susu akhir pada permukaan puting yang bisa membantu penyembuhan (Akre, 1994 dan King,1993, dalam Bahar , 2002).

Dapat pula ditemukan kelenturan puting yang rendah. Merawatnya dengan meletakkan kedua telunjuk pada sisi berlawanan di luar area puting kemudian regang keluar beberapa kali, lakukan 2 kali 5 menit setiap hari (King,1993). Gangguan proses menyusui dapat disebabkan oleh puting yang tertarik ke dalam. Hal ini bisa diatasi dengan penarikan manual atau menggunakan pompa (Suryabudhi, 1994 dan Barness,1992).

Problem yang ibu dapat temukan bisa berupa anak yang tidak mau menyusu. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh candidiasis, hidung tersumbat akibat ISPA, tetanus, kehilangan nafsu makan akibat adanya penyakit tertentu. Cacat jantung (kendati jarang), bayi berat badan lahir rendah juga menjadi penyebab anak tak mau menyusu (Ebrahim, 1994, Jelliffe, 1994, Bahar , 2002). Saat menyusui bayi, ibu bisa dalam posisi duduk atau baring santai. Lambung bayi menempel pada ibu, ibu memegang belakang bahu bayi dengan leher bayi sedikit teregang. Ibu menyentuh pipi atau sisi mulut bayi dengan puting. Tanda posisi menyusui telah tepat bila anak terlihat santai dan senang saat menyusu. Bila posisi mengisap tak benar, puting bisa nyeri, dan bayi jadi gelisah (IDAI Jatim,1996, Suryabudhi, 1994; King, 1993; Barness,1992, Bahar , 2002).

Bayi perlu menyusu sesegera mungkin. Pemberian kesempatan isap pada anak akan merangsang proses lactogenesis dan selanjutnya galactopoiesis. Frekuensi menyusui sesuai permintaan bayi dan tiap kali diberikan 5-10 menit per payudara. Yang lain menganjurkan pemberian ASI pada anak dilakukan satu sisi payudara ibu sampai selesai kemudian berpindah pada sisi lainnya. Produksi ASI bisa maksimum bila anak diberi menyusu kedua payudara saat minggu-minggu pertama. Praktek yang baik bila ibu hanya memberi ASI semata sampai usia anak 4-6 bulan. Pemberian ASI selanjutnya sampai usia anak 2 tahun amat menunjang pertumbuhan yang baik (IDAI Jatim,1996, Livingstone, 1995, King,1993,Barness, 1992, Bahar , 2002).

Setelah ibu bersalin, bayi secara alamiah mencari puting payudara ibu dan mengisap secara naluriah. Kemampuan alamiah ini menjadi berkurang bila sesuatu objek lain dimasukkan ke dalam mulut bayi setelah kelahirannya. Isapan awal adalah kondisi kritis yang perlu mendapat perhatian karena bayi baru mengenal dan belajar mengisap secara efektif. Masa awal menyusu bagi anak adalah kesempatan untuk menelan kolostrum yang kaya Ig-A (yang merupakan imunisasi awal anak) dan isapan bayi menstimulasi prolactin dan hormon hypophyse lainnya yang dibutuhkan untuk inisiasi produksi ASI. Kelanjutan produksi ASI bisa terhalang bila drainase terganggu oleh tidak frekuennya isapan atau kurang efektifnya teknik breast feeding (BF). Perawatan yang memisahkan ibu dan anak menyebabkan drainase yang kurang baik. Stimulasi yang rendah pada payudara ibu merupakan pemicu rendahnya produksi prolactin untuk maintenance laktasi, dan saat seperti itu adalah awal involusi payudara (Livingstone, 1995, Bahar , 2002 ).

Pemberian air susu ibu menguntungkan ibu dan anak. Dengan ASI anak mendapat kesempatan memperoleh asupan omega 3 FA, khususnya docosahexanoic acid yang penting bagi perkembangan retina dan otak manusia. Efek pemberian breast feeding mencakup pula komponen psikologik, biologik dan faktor emosi baik untuk anak maupun bagi ibunya (de Andraca dan Uauy, 1995, Bahar, 2002 ). Pelbagai penelitian memperlihatkan efek positip pada pertumbuhan anak yang menyusu pada ibunya dibanding anak yang mendapat makanan melalui botol atau bentuk gabungan keduanya

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 9 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 10 jam lalu

Pembantu yang Berani Mimpi Jadi Big Bos …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah Senja …

Angger Christina | 7 jam lalu

Serial Bunny si Kelinci Mungil: “Jujur …

Siti Nurhardianti | 7 jam lalu

Kisah Seorang Pedagang Sayur Naik Haji …

Imam Adryan | 8 jam lalu

Penjahat dan Rumput Liar …

Betty Tiominar | 8 jam lalu

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya …

Khoiruz Zadit Taqwa | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: