Back to Kompasiana
Artikel

Ibu Dan Anak

Sari Oktafiana

Iiving in the earth with reason, vision and missions…but I can't make every body happy. selengkapnya

Saya (Pernah) Menderita Mola Hydatidosa Parsial

OPINI | 16 October 2012 | 10:16 Dibaca: 2769   Komentar: 0   0

1350357069801802010

Kehamilan adalah hal yang begitu menggembirakan, apalagi bila
kehamilan kita itu ditunggu. Beragam kisah mengenai ibu hamil lengkap
dengan segala kisah suka dan dukanya. Apalagi ketika awal kehamilan,
ketika tubuh perempuan mulai beradaptasi untuk bersatu dengan janin,
bakal kehidupan beragam “kesakitan” seperti mual, muntah, pusing,
meriang pun terjadi. Hal seperti ini pun sempat saya alami sebagai ibu
hamil di trisemester pertama, walaupun bagi saya fenonema “nyidam” itu
kurang lazim dan tidak pernah saya alami di kehamilan anak sebelumnya.
Tetapi preferensi dari setiap kehamilan itu berbeda begitulah waktu
itu pembenaran saya, ketika nyidam pada kehamilan ketiga saya.

Ternyata ketika diawal-awal minggu,  saya USG kehamilan saya, dokter
spesialis kandungan mendiagnosa kelainan pada kehamilan dengan hasil
USG yang mayoritas berwarna kabut putih, terdapat janin dan itu
terdeteksi sebagai hamil anggur parsial atau biasa disebut dengan mola
hydatidosa parsial.

13503571311296379330

Hamil anggur

Tentunya sangatlah syok dan sulit untuk menerima kenyataan bahwa saya
hamil anggur parsial. Waktu itu dokter menyarankan agar saya segera
melakukan kuretase dan menggugurkan janin saya dengan pertimbangan
untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Lalu saya mencoba untuk mencari
second opinion dari dokter kandungan lainnya sebagai upaya untuk
menyelamatkan janin saya. Dan dokter kandungan yang kedua menyarankan
untuk mempertahankan janin, tetapi akibat yang saya rasakan adalah
selang beberapa hari berikutnya adalah sakit mulai dari mual dan
muntah yang berlebihan, setiap kali makan selalu muntah, demam dan
batuk sehingga akhirnya harus bed rest total di rumah sakit untuk
menjaga agar tubuh tidak kehabisan cairan.

Selanjutnya setelah pulang opname dari rumah sakit karena mual muntah,
saya jatuh sakit lagi dengan indikasi nafas yang semakin tersesak,
jantung berdebar lebih kencang dan setelah itu saya memutuskan untuk
segera konsultasi lagi ke dokter kandungan untuk mengetahui kondisi
kehamilan. Akhirnya dengan melihat kondisi saya  yang semakin turun,
pasca konsultasi dengan dokter saya opname lagi yang kedua dengan
kondisi Hb darah turun cuma 8,4, lalu preklamsi dengan tekanan darah
170/120, denyut nadi 130 per detik, dengan perut yang semakin membesar
yang menurut saya ukurannya sangat diluar kewajaran untuk usia
kehamilan yang hanya beberapa minggu.

Akhirnya dengan mempertimbangkan menyelamatkan nyawa saya, suami
memutuskan dan berkonsultasi dengan dokter agar dilakukan tindakan
kuretase dan menggambil janin kami. Kami pun disarankan oleh dokter
agar juga mencari third opinion bila benar-benar akan menggugurkan
janin. Kami pun berkonsultasi ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta di
gedung GBST Maternal dengan dr. Irwan T. SPOG (K) dan dokter
menyarankan agar tindakan kuretase harus segera dilakukan dengan
beberapa pertimbangan:
1. Menyelamatkan nyawa ibu
2.Kemungkinan janin tidak berkembang
3. Kekhawatiran sel mola mengganas dan bermutasi menjadi kanker

Masalahnya ketika saya pindah opname di RSUP Dr. Sardjito, kondisi
kesehatan umum saya sudah sedemikian memburuk, akibat dari pertumbuhan
sel mola yang tidak terkendali saya hipertensi, hipertiroid karena sel
mola menghasilkan hormon Beta Hcg (hormon kehamilan) yang berlebih,
denyut nadi dan jantung yang kencang, Batuk yang semakin hebat serta
pusing dan meriang. Tindakan yang dilakukan tim dokter waktu itu
adalah melakukan terapi untuk memperbaiki kondisi umum sebelum
kuretase. Saya melakukan perawatan selama seminggu dengan bantuan
berbagai macam obat-obatan dan dengan serangkaian pantauan rontgen
torax untuk mengetahui kondisi jantung dan paru-paru dan waktu itu
ditemukan adanya pembengkakan akibat pertumbuhan dari sel mola di
kehamilan saya. Lalu echo dan ekg jantung yang kontinuitas, pengecekan
tiroid yang ketat untuk menurunkan kadar tiroid.

Awal rencana dokter untuk tindakan bila kondisi umum saya sudah
memenuhi standar siap dan baik adalah membuka rahim dengan alat
“laminaria”, memvakum sel-sel mola yang telah berkembang lalu baru
kuretase. Tetapi malam sebelum tindakan kuretase saya mengalami
pendarahan hebat (dokter mengatakan explosive) dimana jaringan sel
mola keluar disertai dengan keguguran janin saya, untunglah pasca
keguguran saya tidak mengalami pendarahan berlanjut. Tetapi pasca
pendarahan kadar Hb darah saya turun drastis menjadi 5,7 sehingga
tindakan transfusi darah dan infus cairan NaCl dilakukan. Dan akhirnya
tindakan kuretase pun dilakukan post keguguran untuk membersihkan
rahim. Alhamdulillah pasca kuretase berangsur-angsur kondisi kesehatan
saya membaik, walaupun sempat transfusi darah 4 kantong dan injeksi
infus NaCl beberapa kantong.

Beberapa hal yang akhirnya menjadi refleksi saya adalah
1. Bila kehamilan kita terdeteksi Mola (hamil anggur) baik yang
parsial maupun tidak maka tindakan yang terbaik adalah segera
konsultasi ke dokter untuk segera kuretase sehingga kesakitan akibat
pertumbuhan sel mola tidak semakin membahayakan kesehatan ibu. Saya
menyadari sebagai ibu kita tidak ingin menggugurkan janin yang
merupakan anak kita, bakal kehidupan tetapi sangatlah berisiko baik
bagi janin dan ibu, bila tidak segera digugurkan. Dan hal ini pun
dilakukan dengan alasan kesehatan bukan abortus sembarangan.
2. Terus melakukan konsultasi ke dokter kandungan dan bila perlu
mencari beberapa opini agar menemukan solusi terbaik. Serta melakukan
monitoring pasca pengambilan sel mola.

Siapapun, perempuan produktif berpotensi dan beresiko untuk hamil
anggur atau menderita mola hydatidosa parsial. Berbagai sumber
informasi saya pelajari baik melalui studi internet maupun konsultasi
dengan dokter kandungan mengenai Mola Hydatidosa.

1350357212301275559

Mola Hydatidosa

Mola hidatidosa (hamil anggur) adalah kelainan di dalam kehamilan
dimana jaringan plasenta (ari-ari)
berkembang dan membelah terus menerus dalam jumlah yang berlebihan.
Mola dapat mengandung
janin (mola parsial) atau tidak terdapat janin di dalamnya (mola
komplit). Pada kebanyakan kasus,
mola tidak berkembang menjadi keganasan, namun sekitar 2-3 kasus per
1000 wanita, mola dapat
berubah menjadi ganas dan disebut koriokarsinoma. Kemungkinan
terjadinya mola berulang berkisar 1
dari 1000 wanita.  Kadar hormon yang dihasilkan oleh mola hidatidosa
lebih tinggi dari kehamilan
biasa.

Penyebab:
Sejauh ini penyebabnya masih belum diketahui. Diperkirakan bahwa
faktor-faktor seperti gangguan
pada telur, kekurangan gizi pada ibu hamil, dan kelainan rahim
berhubungan dengan peningkatan
angka kejadian mola. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas
40 tahun juga berada dalam
risiko tinggi. Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam folat, dan
karoten juga meningkatkan
risiko terjadinya mola.
Tanda dan gejala

Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa.
Kecurigaaan biasanya terjadi pada
minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan
biasa, pembesaran rahim yang
terkadang  diikuti  perdarahan,  dan  bercak  berwarna  merah  darah
beserta  keluarnya  materi  seperti
anggur pada pakaian dalam. Tanda dan gejala serta komplikasi mola :
1.  Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS
2.  Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar)
3. Gejala – gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup,
penurunan BB yang tidak dapat
dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab
4. Gejala – gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan
tungkai, peningkatan tekanan
darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni).

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :
1.  Serum ß-hCG untuk memastikan kehamilan dan  pemeriksaan ß-hCG
serial (diulang pada interval
waktu tertentu)
2.   Ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat
adakah janin di dalan kantung
gestasi  (kantung  kehamilan)  dan  kita  dapat  mendeteksi  gerakan
maupun  detak  jantung  janin.
Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG maka
kemungkinan kehamilan
ini bukanlah kehamilan yang normal
3.   Foto roentgen dada

Tatalaksana
Mola harus dikeluarkan seluruhnya dari dalam rahim yang biasanya
dilakukan melalui tindakan dilatasi
dan kuretase atau lebih dikenal sebagai kuret. Sebagai alternatif
dapat digunakan obat oksitosin atau
prostaglandin  untuk  membuat  rahim  berkontraksi  dan  mengeluarkan
isinya.  Setelah  itu  tindakan
kuretase tetap harus dilakukan untuk memastikan rahim sudah bersih.
Ibu harus memeriksakan darah dan air seninya secara teratur selama 1
tahun setelah dilakukannya
tindakan untuk memastikan hormon hCG kembali normal dan tidak ada
pertumbuhan jaringan plasenta
lagi. Apabila terapi berhasil dengan baik maka wanita pada umumnya
dapat kembali hamil lagi jika
mereka menginginkannya. Namun penting untuk diingatkan bahwa sebaiknya
wanita dengan mola
tidak hamil terlebih dahulu selama 12 bulan pertama.

Salam sehat!
Sari
Bibliography:
http://adulgopar.files.wordpress.com
http://www.lusa.web.id/kehamilan-mola-hidatidosa-mola-hydatidosa
informahealthcare.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydatidiform_mole

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 5 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 11 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Maju Mundur Cantik Kabinet Jokowi ala …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

Ssstt….Ada Srikandi di Tol Laut …

Aqshaya | 7 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua …

Asep Rizal | 7 jam lalu

Penumpang Duduk Di Lantai Krl yang Sangat …

Saut Hasiholan | 7 jam lalu

Esok Aku Datang Lagi …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: